A.B. Sitti Sjamsijah, Penerbit Besar yang Tak Dikenal?

Inspirasi 31 Mei 2021 0 43x
AB Sitti Sjamsijah

AB Sitti Sjamsijah

Oleh: Mu’arif

“Zaman bergerak”—meminjam istilah Takashi Shiraishi (2005) di Solo tidak akan tercipta dengan sendirinya tanpa peran dari berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masanya. Pada awal abad ke-20 hingga memasuki paroh abad ini adalah masa-masa kebangkitan nasional yang dalam perspektif sejarah Revolusi Industri masuk kategori Revolusi Industri 2.0. Ciri pokok yang menandai zaman ini adalah penemuan penting (discovery): “listrik” dan “mesin cetak.” Dua temuan besar inilah yang telah mengubah sejarah peradaban umat manusia: mengubah pola pikir, perilaku, tradisi, struktur sosial, dan pola relasi antar kelompok manusia.

Dengan menggunakan perspektif ini, penulis bermaksud membaca sejarah awal kebangkitan nasional di Indonesia (Hindia-Belanda) dalam konteks perubahan zaman yang diakibatkan oleh Revolusi Industri 2.0, yaitu dengan kehadiran mesin cetak dengan varian produknya (media massa, buku, selebaran, pamphlet, dan-lain-lain) baik yang diinisiasi kaum pribumi maupun bangsa asing.

Produk mesin cetak, khususnya dalam bentuk buku, berfungsi sebagai media transmisi gagasan yang sangat efektif pada awal abad 20 atau tahapan awal Revolusi Industri 2.0. Kehadiran penerbitan buku telah mengiringi pertumbuhan gerakan-gerakan nasionalis bumiputra. Salah satu penerbit buku yang sangat besar perannya dalam proses transmisi gagasan pembaruan Islam di pulau Jawa hadir di kota Solo pada paroh abad ke-20. Penerbit tersebut adalah A.B. Sitti Sjamsijah. Diambil dari nama Sitti Sjamsijah (nama perempuan), penerbit buku ini lebih banyak memproduksi buku-buku keislaman dan kemuhammadiyahan.

Baca Juga

Dawiesah dalam Sejarah Pendidikan Kesehatan ‘Aisyiyah

“Sitti Sjamsijah” dan “A.B. Sitti Sjamsijah” memang dua nama yang sama, tetapi berbeda bentuk. Bentuk pertama adalah representasi dari person/individu dengan jenis kelamin perempuan yang berdomisili di Solo. Sedangkan bentuk kedua adalah representasi dari sebuah asosiasi dagang yang didirikan di Solo dan bergerak di bidang penerbitan buku pada zaman kolonial Belanda. Siapakah sebenarnya Sitti Sjamsijah? Bagaimana A.B. Sitti Sjamsijah berperan dalam sejarah pergerakan bumiputra pada pertengahan abad ke-20?

Sitti Sjamsijah dan A.B. Sitti Sjamsijah

Lagi-lagi, kita menemukan narasi-narasi historis yang kabur ketika membaca sejarah A.B. Sitti Sjamsijah, sama se-perti ketika membaca sejarah Muhammadiyah pada umum-nya. Seperti memasuki ruang gelap, sulit sekali mengenali siapa tokohnya. Padahal, fenomena historis ini menurut pegiat literasi Bandung Mawardi menunjukkan bahwa A.B. Sitti Sjamsijah adalah penerbit buku keislaman (baik Islam secara umum maupun kemuhammadiyahan) yang berdiri sejak 1927 dan terbesar pada masanya. Dengan demikian, sangat mustahil jika sang tokoh tidak dapat dikenali. Memang butuh kerja ekstra untuk dapat mengungkap teka-teki historis ini.

Membaca literatur sebelumnya, memang nama Sitti Sjamsijah maupun A.B. Sitti Sjamsijah tidak tersirat, apalagi tersurat, dalam kajian-kajian para peneliti. Seperti Nico J.G. Kaptein (2017) dalam Islam, Kolonialisme, dan Zaman Modern di Hindia-Belanda: Biografi Sayid Usman (1822-1914) tidak satu kalimat pun menyematkan nama maupun asosiasi dagang Sitti Sjamsijah dari Solo. Namun demikian, penulis berusaha menarik simpulan sementara bahwa kajian biografi tokoh keturunan Arab-Hadrami (Sayid Usman al-Habsyi) karya Kaptein ini memberikan satu indikasi bahwa tokoh Sitti Sjamsijah tidak termasuk dari kalangan keturunan Arab, melainkan dari kalangan bumiputra (maksudnya Jawa).

Begitu juga hasil kajian Herman L. Beck, Fenomenologi Islam Modernis: Kisah Perjumpaan Muhammadiyah dengan Kebhinekaan Perilaku Beragama (2019) yang banyak mengulas dinamika gerakan Muhammadiyah di berbagai daerah pada masa awal berdirinya. Tidak ada informasi tentang tokoh Sitti Sjamsijah ataupun peran A.B. Sitti Sjamsijah ketika mengulas tokoh-tokoh Muhammadiyah dari Solo.

Baca Juga

Spirit Literasi ‘Aisyiyah: Sebuah Analisis Sejarah

Sedangkan kajian Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan (2003) yang secara spesifik mengkaji peran produk cetak, terutama media massa, sebagai pemicu awal kebangkitan nasional, malah tidak menyematkan narasi tentang peran penerbitan buku. Nama Sitti Sjamsijah ataupun penerbit A.B. Sitti Sjamsijah tidak terselip sama sekali. Wajar ketika momentum Islamic Book Fair 2018, Bandung Mawardi mengkritik minusnya literatur sejarah penerbit keislaman di Indonesia.

Namun demikian, langkah kecil telah dilakukan oleh tim penulis buku Sejarah Muhammadiyah Surakarta yang berhasil mengidentifikasi nama Sitti Sjamsijah sebagai bagian dari serpihan narasi sejarah Muhammadiyah setempat. Akan tetapi, berdasarkan pengakuan tim penulis buku ini, terdapat kesulitan untuk mengidentifikasi Sitti Sjamsijah sebagai representasi individu dan Sitti Sjamsijah sebagai representasi dari sebuah asosiasi perdagangan (perusahaan) yang berge-rak di bidang penerbitan buku. Kesulitan semacam ini wajar dalam kajian sejarah. Namun demikian, dibutuhkan ikhtiar lebih lanjut dalam proses melacak sumber-sumber sejarah yang dapat mengungkap aktor Sitti Sjamsijah maupun peran penting penerbit A.B. Sitti Sjamsijah sebagai bagian dari narasi sejarah besar Muhammadiyah.

Sitti Sjamsijah dan Muhammadiyah

Dari sekian banyak literatur yang relevan digunakan dalam penulisan artikel ini, hanya karya Takashi Shiraishi (2005) yang memberikan indikasi tentang relasi penerbit buku ini dengan Muhammadiyah. Yaitu, ketika Shiraishi mengulas sejarah berdirinya Sidik Amanah Tabligh Vathonah (SATV) bahwa perkumpulan ini menerbitkan surat kabar Medan-Moeslimin (1915), Islam-Bergerak (1917), mendirikan hotel Islam, toko buku, dan sekolah modern. Haji Misbach sebagai Ketua, Darsosasmito sebagai Wakil Ketua, dan Harsoloemekso sebagai Sekretaris SATV. Para generasi penerus dari kalangan santri seperti Haroenrasid, Kiai Moechtar Boechari, Sjarif, dan Ahmad Dasuki. Perkumpulan modern  di Solo ini mengikuti pola gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta, sekalipun dengan latar belakang geopolitik yang berbeda.

Cukup menarik di sini bahwa nama-nama seperti Harsoloemekso, Kiai Moechtar Boechari, Sjarif, dan Ahmad Dasuki tercatat sebagai tokoh-tokoh yang masuk dalam struktur pertama Muhammadiyah Solo. Dinamika politik di internal SATV akhirnya memecah kelompok ini menjadi dua: ekstrem dan moderat. Untuk kelompok moderat akhirnya mendirikan Muhammadiyah Solo.

Baca Juga

Merawat Komunitas Literasi

Sedangkan kelompok ekstrem di dalam SATV sekalipun secara struktural tidak masuk dalam Muhammadiyah, tetapi mereka adalah generasi modernis yang sehaluan dengan Muhammadiyah. Seperti Haji Misbach, sekalipun lebih ba-nyak mengritik gerakan Muhammadiyah, tetapi pada akhir hayatnya justru ia menginisiasi berdirinya Muhammadiyah Ambon. Bahkan, sosok haji Misbach selama diasingkan di Manokwari pada akhir hayatnya adalah pelanggan dan pembaca setia majalah Suara Muhammadiyah (M. Amin Eli, “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach”, Suara Muhammadiyah no. 20 Th. Ke-61/1981).

Kalimat yang dikutip dari Shiraishi tentang program-program SATV yang salah satunya adalah mendirikan “toko buku” (boekhandel) dapat menjadi petunjuk untuk melacak kehadiran A.B. Sitti Sjamsijah. Pada tahun-tahun awal berdiri SATV, toko buku ini memang belum tampak kiprahnya. Baru pada tahun 1927, boekhandel di Solo ini menerbitkan buku-buku keislaman dan kemuhammadiyahan. Di Yogyakarta, tokoh-tokoh Muhammadiyah juga banyak yang berkiprah di bidang penerbitan, baik media massa maupun buku-buku. Salah satu penerbit buku yang cukup terkenal pada waktu itu adalah “Boekhandel H.M. Sjoedja.”

Membandingkan “Boekhandel Sitti Sjamsijah” di Solo de-ngan “Boekhandel H.M. Sjoedja” di Yogyakarta adalah ikhtiar untuk mencari jawaban atas pertanyaan dari tim penulis Sejarah Muhammadiyah Surakarta yang kesulitan membedakan antara representasi person/individu maupun asosiasi di balik nama “Sitti Sjamsijah.” Pada masanya, pembentukan asosiasi untuk tujuan perdagangan memang masih dibolehkan menggunakan nama person/individu, seperti “H.M. Sjoedja” atau “A.B. Sitti Sjamsijah.” Walaupun bentuknya sudah menjadi asosiasi yang bergerak di bidang perdagangan, tetapi nama itu sendiri berasal dari person/individu yang jelas faktual. Pertanyaan berikutnya, siapakan sosok Sitti Sjamsijah di balik nama asosiasi perdagangan buku tersebut?

Ada beberapa catatan penting terkait jenis produk buku terbitan A.B. Sitti Sjamsijah dan relasinya dengan Muhammadiyah. Pertama,  buku-buku yang diterbitkan dengan tema-tema keislaman dan kemuhammadiyahan (modernis). Kedua, produk-produk terbitan A.B. Sitti Sjamsijah sekalipun tema-temanya cukup bervariasi tetapi para penulisnya adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah atau setidak-tidaknya secara kultural berafiliasi dengan Muhammadiyah—bahkan sampai tahun 1950-an, penerbit buku ini menerbitkan karya-karya dari para redaktur majalah Adilorgaan resmi Muhammadiyah.

Baca Juga

Spirit Dakwah Baru, Suara ‘Aisyiyah

Ketiga, beberapa produk terbitan A.B. Sitti Sjamsijah masuk dalam list buku-buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah Muhammadiyah pada tahun 1930-an. Keempat, promosi atas produk-produk terbitan A.B. Sitti Sjamsiah banyak ditemukan di surat kabar resmi maupun afiliasi Muhammadiyah, seperti Suara Muhammadiyah, Suara ‘Aisyiyah, Adil, Bintang Islam, Medan-Moeslimin, Islam-Bergerak, dan lain-lain. Dengan demikian, penerbit buku ini sebenarnya berafiliasi ke Muhammadiyah, sehingga sangat penting masuk dalam narasi sejarah Muhammadiyah lokal maupun nasional mengingat perannya yang sangat vital dalam memproduksi literatur-literatur keislaman modernis.

Dengan memasukkan penerbit Sitti Sjamsijah sebagai bagian dari narasi sejarah Muhammadiyah, upaya untuk mengindentifikasi tokoh yang dimaksud adalah dengan melacak para aktor sejarah berdirinya Muhammadiyah Solo. Sitti Sjamsijah bisa jadi adalah istri dari salah seorang tokoh pendiri Muhammadiyah setempat. Mungkin juga ia seorang aktivis Muhammadiyah-‘Aisyiyah Solo. Yang jelas, Sitti Sjamsijah yang namanya dijadikan sebagai nama asosiasi perdagangan (toko buku dan percetakan) yang pada masanya menjadi penerbit buku keislaman terbesar di pulau Jawa jelas bukan perempuan sembarangan.

Kiprah Sitti Sjamsijah yang direpresentasikan lewat penerbitan buku-buku keislaman pada masanya, menjadi bagian penting narasi historis keberhasilan Muhammadiyah (baik lokal maupun nasional) dalam upaya menaklukkan disrupsi pada abad ke-20 lewat kehadiran mesin cetak.

Tinggalkan Balasan