Abdul Mu’ti Apresiasi Perhatian Nasyiatul Aisyiyah pada Isu Keluarga dan Anak

Berita 7 Agu 2021 1 174x
Milad Nasyiatul Aisyiyah Abdul Mu'ti

Milad Nasyiatul Aisyiyah Abdul Mu’ti

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Selama beberapa tahun terakhir, kata Abdul Mu’ti, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) mempunyai perhatian terhadap isu-isu keluarga dan anak. Perhatian tersebut, menurutnya, merupakan pilihan yang tepat dan sesuai dengan garis perjuangan NA.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam resepsi Puncak Milad Nasyiatul ‘Aisyiyah yang diselenggarakan secara virtual pada Sabtu (7/8). Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti menyampaikan bahwa komposisi pimpinan NA yang sebagian besar adalah ibu-ibu muda mempunyai dampak penting dalam konteks Indonesia masa depan.

“Kalau kita melihat Indonesia masa depan, maka kita harus melihat Indonesia masa kini. Dan itu bisa dilihat dari sensus penduduk Indonesia tahun 2020 –yang tidak berbeda jauh dari tahun 2010–, di mana komposisi terbesar penduduk Indonesia adalah kelompok muda. Masa depan Indonesia itu berada di tangan anak muda,” jelasnya.

Baca Juga: Haedar Nashir: Nasyiatul Aisyiyah adalah Bagian dari Mata Rantai Muhammadiyah-Aisyiyah

Sebagaimana jamak diketahui, keluarga merupakan tiang negara. Mengutip buku How Civilizations Die (And Why Islam Is Dying Too) karya David P. Goldman (2011), Mu’ti menjelaskan bahwa ketahanan keluarga merupakan salah satu syarat eksistensi sebuah peradaban, selain demokrasi dan jumlah penduduk.

Oleh karenanya, keluarga dan anak –sebagai generasi penerus bangsa—harus mendapat perhatian lebih serius. “Kalau berbicara mengenai SDG’s (Sustainable Development Goals), ada perhatian penting menyangkut family atau pendidikan anak masa awal atau the golden age di dalam kita membangun ketahanan sebuah keluarga,” ujar Mu’ti.

Kebahagiaan, rasa percaya diri, serta lingkungan sosial dan alam, menurut Mu’ti, merupakan komponen yang mendukung bagi terbentuknya generasi yang hebat. Sebaliknya, kehidupan masa kecil yang penuh kemuraman akan menjadi sebab dari munculnya generasi yang gagal (lost generation).

Selanjutnya, Abdul Mu’ti menjelaskan pentingnya negara melibatkan diri dalam proses regenerasi anak bangsa. Sebab jika tidak, yang terjadi adalah proses degenerasi atau keterputusan generasi.

Baca Juga: Milad Nasyiatul Aisyiyah: Khidmat Perempuan dalam Dakwah Kemanusiaan

Mu’ti menjelaskan ada tiga tipe degenerasi dalam konteks pembangunan peradaban, yakni degenerasi nashabiyah (keterputusan generasi anak bangsa), diniyah (keterputusan generasi umat beragama), dan at-tarbiyah (keterputusan generasi di sektor pendidikan keluarga). “Kalau dalam konteks Indonesia adalah tantangan dalam konteks kedua. Tapi juga ada problem at-tarbawiyah, karena kita melihat Indonesia mengalami masalah yang cukup serius, yakni stunting,” paparnya.

Terhadap tantangan besar itulah, menurut Mu’ti, Nasyiatul ‘Aisyiyah mesti melibatkan diri lebih jauh. “Bahwa berkeluarga tujuannya adalah sakinah, ketenangan hidup, kebahagiaan, dan fungsi regenerasi, bukan reproduksi. Nasyiatul ‘Aisyiyah harus lebih berkhidmat, memberikan pelayanan yang sifatnya voluntary di bidang kemanusiaan. Tidak sekadar di lingkup bencana, tapi urusan keluarga dan pendidikan anak usia dini,” pesan Mu’ti. (sb)

One thought on “Abdul Mu’ti Apresiasi Perhatian Nasyiatul Aisyiyah pada Isu Keluarga dan Anak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *