Abdul Mu’ti: Fitrah Manusia Itu Berpasang-Pasangan

Berita 8 Okt 2021 0 58x

Kolak Abdul MutiYogyakarta, Suara Aisyiyah – Dalam Kajian Opini Aktual Agama & Kebudayaan (KOLAK) yang diadakan @tvMu Channel pada Jumat (8/10), Abdul Mu’ti mengatakan bahwa terdapat kecenderungan dalam masyarakat ke arah tren yang menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang tidak penting.

Di masyarakat sendiri, katanya, muncul gejala “membujang”, yakni kecenderungan di mana ia tidak mau berkeluarga dengan berbagai alasan dan argumen yang sangat beragam. Alasan ber-tabattul (membujang) beragam, di antaranya adalah (a) menganggap bahwa pernikahan membuat mereka tidak bebas; (b) menghambat karir, dan; (c) berpendapat bahwa berkeluarga bukan sesuatu yang membuat mereka lebih bahagia.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu menjelaskan, dalam sudut pandang agama, tabattul adalah suatu perbuatan yang dilarang. Berkeluarga, tegasnya, merupakan fitrah manusia. Hal itu sesuai dengan ayat-ayat di dalam al-Quran yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah berpasang-pasangan.

Baca Juga: Pendidikan Pra-Nikah untuk Meraih Keluarga Sakinah

Kecenderungan masyarakat yang tidak mau berkeluarga menjadi masalah yang serius secara sosial dan secara moral. Pasalnya, pada waktu yang bersamaan banyak orang yang tidak mau berkeluarga, tetapi menjalin hubungan tanpa adanya pernikahan. Kelompok seperti ini sering disebut sebagai free sex.

Tidak sedikit di antara mereka yang mengatasnamakan perilakunya sebagai suatu hak asasi manusia. “Kecenderungan free sex ini bisa menimbulkan masalah sosial karena berbagai persoalan konflik antar individu, dan bisa mengarah ke perzinaan,” ucap Mu’ti.

Abdul Mu’ti menambahkan, umat Islam perlu menanamkan kepada generasi muda tentang pentingnya pernikahan sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama dan hukum negara. Berkeluarga itu tujuan kita untuk hidup bahagia, hidup tenang. Dan itu semua bisa dicapai ketika menikah dengan adanya kesiapan, atas dasar cinta kasih, serta menikah karena mengikuti sunnah Nabi dan tuntunan syariat Islam. (silvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *