Abdul Mu’ti: Manusia Diperintahkan Berbuat Ihsan kepada Alam

Berita 3 Des 2021 0 111x
Abdul Mu'ti

Abdul Mu’ti

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah menggelar pengajian Jumat Pagi dengan narasumber Sekrtetaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Kajian yang digelar secara daring via Zoom pada Jumat (3/12) itu bertajuk “Gerakan Lingkungan dalam Prespektif Muhammadiyah”.

Bertindak sebagai moderator adalah Ketua Divisi Lingkungan Hidup LLHPB PP ‘Aisyiyah Hening Parlan. Ia menuturkan, salah satu program LLHPB adalah ngaji lingkungan. Pengajian ini, kata dia, sudah dilaksanakan sejak Ramadhan lalu. “Sempat berhenti karena berbagai hal, hari ini kesempatan untuk memulai lagi,” tutur Hening.

“Kali ini kami mengajak mas Mu’ti (Abdul Mu’ti) untuk memaparkan bagaimana peran Muhammadiyah dalam isu lingkungan hidup,” imbuhnya.

Hening juga menjelaskan bahwa LLHPB telah melakukan kerja sama dengan Lazismu dalam program penanaman pohon dan sayur dengan sistem pola asuh, serta sedang mengkader ustadz dan ustadzah lingkungan sebagai corong untuk mengkampanyekan isu lingkungan.

“Program ini memastikan pohon dan sayur yang ditanam dirawat dengan baik karena dijaga oleh pengasuh masing-masing,” jelasnya.

Baca Juga: Kampung Ramah Lingkungan: Atasi Perubahan Iklim Berbasis Kampung

Abdul Mu’ti di awal kajian memaparkan pandangan Islam dan Muhammadiyah kaitannya dengan lingkungan hidup. Kata dia, Islam adalah agama yang ramah lingkungan, maka Muhammadiyah dalam memahami hal itu kemudian menerbitkan buku berjudul Fikih Lingkungan.

Alam semesta ciptaan Allah diperuntukkan manusia. Di mana manusia hidup dan memperoleh penghidupan. Karena itu, kata dia, sejak awal Islam sudah meletakkan kaitan alam dengan Allah.

Mu’ti menjelaskan, ada dua hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, Allah sebagai Pencipta, sehingga semua yang ada di alam ini maujud atau terbentuk. “Pemahaman ini penting karena sebagian dari para ilmuwan berpendapat alam ini terbentuk dengan sendirinya,” tandasnya.

Kedua, manusia dan makhluk lainnya diwajibkan menyembah Allah sebagai Pencipta Alam, tidak menjadi penyembah alam. “Manusia bertanggung jawab memakmurkan alam, sebagai bentuk peribadatan. Maka manusia diperintah untuk berbuat ihsan tidak hanya kepada alam, tetapi juga kepada makhluk ciptaan Allah yang lain,” ujarnya.

Tanggung jawab manusia sebagai khalifah adalah menciptakan kemakmuran di muka bumi. Mereka memilik aktivitas dan kreativitas dengan memanfaatkan alam semesta ini. Hal itu, kata Mu’ti, menjadi sebab Allah membuka pintu rizki.

Berbicara tentang Allah dan alam, Mu’ti mangatakan dalam al-Quran banyak ayat yang dimulai dengan “wa min ayatihi”, yang sebagian di antaranya dikaitkan dengan penciptaan alam. Lebih lanjut dia menjelaskan, alam sebagai makhluk Allah memiliki sifat rusak. Sebagian kerusakan karena hukum alam.

“Memang disebabkan sifat-sifat alamiah dari alam itu. Karena Allah juga menegaskan segalanya rusak kecuali Allah. Walaupun kita pelihara sebaik apapun, pohon akan tetap mati juga, pun dengan manusia,” tandasnya.

“Yang kedua bisa juga karena manusia, maka kita punya tanggung jawab, kita dibuka pintu rizki dari alam tapi jangan dieksploitasi secara berlebihan,” imbuhnya.

Menurut dia, isu pemanasan global dan perubahan iklim agak sulit dijelaskan oleh para ahli. Hal ini disebabkan konsumsi energi berlebihan mengakibatkan konsentrasi karbon dioksida dan mono oksida meningkat.

“Iklim sudah berubah, maka peningkatan suhu makin tinggi. Jika tidak diturunkan levelnya, maka  tahun 2.100 nanti suhu dunia akan naik 5 derajat, es di kutub akan mencair, permukaan laut pasang, dan akan terjadi banjir abadi di beberapa tempat,” tutupnya. (Iwan Abdul Gani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *