Aborsi Menurut Pandangan Islam

Wawasan 20 Sep 2021 0 65x
hukum aborsi menurut Islam

hukum aborsi menurut Islam

Oleh: Fuad Zein

Kehidupan manusia dimulai saat setelah pembuahan terjadi. Jika dengan sadar dan dengan segala cara seseorang mengakhiri hidup manusia tak berdosa, berarti telah melakukan suatu perbuatan tak bermoral dan asosial. Tidak semestinya membiarkan penghentian nyawa hidup siapapun. Jika itu terjadi, hidup sebagai manusia menjadi tidak berharga lagi.

Sekarang ini, praktik aborsi semakin merajalela. Bukan hanya pada kalangan masyarakat, bahkan mahasiswa dan pelajar pun melakukan praktik aborsi. Data menyebutkan satu juta perempuan Indonesia melakukan aborsi setiap tahunnya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 50% berstatus belum menikah, 10%-21% di antaranya dilakukan oleh remaja, 8%-10% kegagalan KB, dan 2%-3% kehamilan yang tidak diinginkan oleh pasangan menikah. Kenyataan ini menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap praktik aborsi dan beragamnya faktor penyebab aborsi.

Tingginya animo masyarakat untuk melakukan praktik aborsi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan hukum dan nilai agama seringkali masalah aborsi dianggap enteng. Harus dipahami bahwa aborsi bukanlah semata masalah medis atau kesehatan masyarakat, melainkan juga problem sosial yang terkait dengan paham kebebasan yang dianut suatu masyarakat. Ada berbagai alasan seseorang melakukan praktik aborsi, tetapi alasan yang paling utama adalah alasan-alasan non-medis.

Baca Juga: Peran Anak dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah

Di Amerika Serikat alasan aborsi antara lain: (a) 75% tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu karir, sekolah, atau tanggung jawab yang lain; (b) 66% tidak memiliki cukup uang untuk merawat anak; dan (c) 50% tidak ingin memiliki anak tanpa ayah.

Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar nikah), atau kehamilan karena perkosaan dan incest sehingga seorang perempuan melakukan aborsi karena menganggap kehamilan tersebut merupakan aib yang harus ditutupi,  atau sudah memiliki banyak anak. Ada orang yang menggugurkan kandungan karena tidak mengerti apa yang mereka lakukan.

Mereka tidak tahu akan keajaiban-keajaiban yang dirasakan seorang calon ibu, saat merasakan gerakan dan geliatan anak dalam kandungannya. Lebih gawat lagi, alasan-alasan yang  diberikan oleh para perempuan di Indonesia yang mencoba meyakinkan dirinya bahwa membunuh janin yang ada di dalam kandungannya adalah boleh dan benar.

Pengertian Aborsi

Menurut bahasa, kata aborsi berasal dari bahasa Inggris yaitu abortion yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Dalam bahasa Arab disebut Isqatul Hamli atau al-Ijhadl (إسقاط الحمل آوالاجهاض). Menurut Huzaimah Tahido Yanggo dalam bukunya Masail Fiqhiyah, ada perbedaan dalam mengartikan aborsi, seperti diungkapkan oleh Sardikin Guna Putra, aborsi adalah pengakhiran kehamilan atas hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan.

Sedangkan menurut Mardjono Reksodiputra, aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum hasil konsepsi dapat lahir secara alamiah dengan adanya kehendak merusak hasil konsepsi tersebut. Berbeda juga  menurut Nani Soendo, aborsi adalah pengeluaran buah kehamilan pada waktu janin masih demikian kecilnya sehinga tidak dapat hidup (Yanggo: 2007).

Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan sebagaimana dikutip dari M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Perempuan (2005) bahwa aborsi adalah pengguguran kandungan (janin) sebelum sempurna masa kehamilan, baik dalam keadaan hidup atau mati, sehingga keluar dari rahim dan tidak hidup, baik itu dilakukan dengan obat atau selainnya, oleh yang mengandungnya maupun bantuan orang lain.

Macam-Macam Aborsi

Menurut motifnya, aborsi dibagi dua macam, yaitu aborsi kriminal dan aborsi legal. Aborsi kriminal adalah aborsi yang dilakukan dengan sengaja karena suatu alasan dan bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Sedangkan aborsi legal adalah aborsi yang dilaksanakan dengan sepengetahuan pihak yang berwenang.

Sedangkan menurut medis, aborsi dibagi dua macam, yaitu aborsi spontan dan aborsi buatan. Aborsi spontan (abortus spontaneus) adalah aborsi secara tidak sengaja dan berlangsung alami tanpa ada kehendak dari pihak-pihak tertentu. Masyarakat mengenalnya dengan istilah keguguran. Sedangkan aborsi buatan (abortus provocatus) adalah aborsi yang dilakukan secara sengaja dengan tujuan tertentu.

Aborsi buatan sendiri terbagi lagi dalam dua kategori, yaitu (a) aborsi yang bertujuan untuk kepentingan medis dan terapi serta pengobatan (abortus provocatus therapeuticum = isqath ‘ilaji); dan (b) aborsi yang dilakukan karena alasan yang bukan medis dan melanggar hukum (abortus provocatus criminalis = isqath ikhtiyari) (Saifullah: 2009)

Pandangan Islam terhadap Kehidupan (Nyawa) dan Janin

Pertama, manusia adalah ciptaan Allah yang mulia, tidak boleh dihinakan baik dengan mengubah ciptaan tersebut, menguranginya dengan cara memotong sebagian anggota tubuhnya, dengan cara memperjual belikannya, maupun dengan cara menghilangkannya sama sekali yaitu dengan membunuhnya. Allah berfirman dalam QS. al-Isra’ [17]: 70 (yang artinya), “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…”

Kedua, membunuh satu nyawa sama artinya dengan membunuh semua orang. Menyelamatkan satu nyawa sama artinya dengan menyelamatkan semua orang. Allah berfirman dalam QS. al-Maidah [5]: 32, “… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,  atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Ketiga, dilarang membunuh anak (termasuk di dalamnya janin yang masih dalam kandungan)  hanya karena takut miskin. Allah berfirman dalam QS. al-Isra’ [17]: 31, “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami-lah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Keempat, setiap janin yang terbentuk adalah kehendak Allah swt. Allah berfirman dalam QS. al-Hajj [22]: 5, “… Kami tetapkan dalam  rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi…”

Keempat, larangan membunuh jiwa tanpa hak. Allah berfirman dalam QS. al-Isra’ [17]: 33, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…”

Hukum Aborsi menurut Pandangan Ulama

Dalil al-Quran dan al-Hadits tentang aborsi dapat dianalogikan seperti membunuh jiwa tanpa alasan yang benar. Allah swt. berfirman dalam QS. an-Nisa [4]: 93, “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Sabda Rasulullah saw. dari Ibnu Mas’ud,

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِه ِوَ أَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ (رواه البخاري و مسلم)

Artinya, “Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah  segumpal darah. Ketika genap empat puluh hari ketiga, berubahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh, serta memerintahkan untuk menulis empat perkara, yaitu penentuan rizki, waktu kematian, amal, serta nasibnya, baik ya ng celaka, maupun yang bahagia” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas merupakan dalil yang zhahir bahwa peniupan ruh terjadi setelah janin berusia 120 hari. Batasan ini menjadi penting dalam membahas masalah ini. Hanya saja, terdapat hadis dari Hudzaifah bin Asid ra, bahwa Nabi saw. bersabda,

يَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى النُّطْفَةِ بَعْدَ مَا تَسْتَقِرُّ فِي الرَّحِمِ بِأَرْبَعِينَ، أَوْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ؟ فَيُكْتَبَانِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى؟ فَيُكْتَبَانِ، وَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَثَرُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ، ثُمَّ تُطْوَى الصُّحُفُ، فَلَا يُزَادُ فِيهَا وَلَا يُنْقَصُ (رواه مسلم)

Artinya, “Seorang malaikat mendatangi nutfah (air mani) setelah air mani ini tinggal di rahim selama 40 hari atau 45 hari. Malaikat ini bertanya: “Ya Rab, apakah dia menjadi orang celaka ataukah bahagia?” Lalu jawabannya ditulis. “Ya Rab, dia laki-laki ataukah perempuan?” lalu jawabannya ditulis. Ditulis pula amalnya, pengaruh amalnya, ajalnya, dan rizkinya. Kemudia catatan itu ditutup, sehingga tidak dia tambahkan dan tidak mengurangi” (HR Muslim).

Hadist Hudzaifah ini menunjukkan bahwa pencatatan takdir dilakukan setelah janin berusia 40 atau 45 hari. Sementara hadis Ibn Mas’ud menyatakan bahwa pencatatan itu dilakukan setelah 120 hari. Kedua hadis ditinjau dari sisi sanad, statusnya shahih.

Baca Juga: Birrul Walidain

Banyak orang yang mengira bahwa ada pertentangan dalam dua hadist ini, padahal sejatinya tidak ada pertentangan di antara keduanya. Komprominya, bahwa malaikat yang diutus ketika fase nutfah, dia mencatat takdir Allah di awal usia 40 hari pertama, sampai menjadi fase kedua, yaitu ‘alaqah (segumpal darah). Sementara malaikat yang diutus untuk meniupkan ruh, ruh itu baru ditiupkan setelah usia 120 hari. Dia diperintahkan untuk mencatat rizkinya, ajalnya, amalnya, bahagia ataukah sengsara. Takdir ini ditetapkan setelah ada takdir yang pertama. Takdir kedua bukan takdir yang dicatat oleh malaikat yang mendatangi nutfah.

Dengan demikian, Allah menetapkan takdir pada fase nutfah, ketika dimulai awal penciptaan manusia dalam ujud segumpal darah.Kemudian Allah tetapkan keadaan ruh, ketika masuk ke jasad setelah 120 hari. Ini adalah takdir setelah ada takdir. Sehingga tidak bertentangan hadis-hadis Nabi saw antara satu dengan yang lain.

Pertama, aborsi sebelum peniupan ruh

(a) Hukumnya boleh, bahkan sebagian ulama membolehkan menggugurkan janin tersebut dengan obat. Pendapat ini dianut oleh ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.  Tetapi kebolehan ini disyaratkan adanya izin dari kedua orang tuanya (Kamaluddin ibnu al-Hammam al-Hanafi, Syarah, II: 495) Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud di atas yang menunjukkan bahwa sebelum empat bulan, ruh belum ditiupkan  ke janin dan penciptaan belum sempurna, serta dianggap benda mati, sehingga boleh digugurkan.

(b) Hukumnya makruh, dan jika sampai pada waktu peniupan ruh, maka hukumnya menjadi haram. Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan Imam ar-Ramli salah seorang ulama dari madzhab Syafi’i (Ibnu ‘Abidin, Hasiyah, VI: 591).

(c) Hukumnya haram, dalilnya bahwa  air mani sudah tertanam dalam rahim dan telah bercampur dengan ovum perempuan sehingga siap menerima kehidupan, maka merusak wujud ini adalah tindakan kejahatan. Pendapat ini dianut oleh Imam al-Ghazali dan Ibnu al-Jauzi (Al-Ghazali, Ihya, II: 53).

Kedua, aborsi setelah peniupan ruh

Secara umum, ulama telah sepakat bahwa menggugurkan janin setelah peniupan ruh hukumnya haram. Peniupan ruh terjadi ketika janin sudah berumur empat bulan dalam perut ibu. Ketentuan ini berdasarkan haditst Ibnu Mas’ud di atas. Janin yang sudah ditiupkan ruh dalam dirinya, secara otomatis pada saat itu, dia  telah menjadi seorang manusia, sehingga haram untuk dibunuh.

Hukum ini berlaku jika pengguguran tersebut dilakukan tanpa ada sebab yang darurat. Misalnya, pengguguran janin itu dilakukan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan dari pada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya terakhir (Kementrian Wakaf dan Urusan Agama, al-Mausu’ah, 1983, II: 57).

Baca Juga: Memerdekakan Jiwa dengan Tauhid

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar darurat dapat digolongkan ke dalam konteks syar’i antara lain: (a) Darurat merupakan tindakan penyelamatan diri (hifzun nafsi) akibat timbulnya kekhawatiran yang mendalam jika hal tersebut tidak dilakukan akan menimbulkan rusaknya salah satu bagian dari Maqashid asy-Syariah yang wajib dijaga menurut syar’i; (b) Darurat tidak berhubungan dengan perbuatan maksiat; (c) Darurat merupakan satu-satunya alasan yang dapat menghilangkan kesulitan bagi orang yang sedang berada dalam masalah; (d) Rukhshah hanya boleh digunakan dalam keadaan terdesak saja atau untuk mencegah terjadinya  kemadharatan; (e) Jika dapat diyakini bahwa orang yang berada dalam kondisi darurat akan terkena bahaya jika tidak mengambil jalan darurat; (f) Darurat tidak melanggar hak orang lain atau melanggar hal-hal yang telah dilarang oleh agama; (g) Kerusakan yang timbul akibat meninggalkan perbuatan yang dilarang lebih besar dari pada kerusakan yang timbul karena melakukannya (Rusli Hasbi, Fiqh Inovatif, 2007: 14).

Dengan demikian, pada dasarnya hukum aborsi adalah haram, meskipun keharamannya bertingkat-tingkat sesuai dengan perkembangan kehidupan janin. Keharaman itu bertambah kuat dan berlipat ganda setelah kehamilan berusia seratus dua puluh hari, yang oleh hadits diistilahkan telah memasuki tahap peniupan ruh.

Hukum Aborsi

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa nomor 4 tahun 2005 tentang aborsi yang isinya: pertama, aborsi haram hukumnya sejak terjadinya implantasi blastosis pada dinding rahim ibu (nidasi); kedua, aborsi dibolehkan karena adanya udzur, baik yang bersifat darurat ataupun hajat.

Keadaan darurat yang berkaitan dengan kehamilan yang membolehkan aborsi adalah (a) perempuan hamil menderita sakit fisik berat, seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik lainnya yang harus ditetapkan oleh tim dokter; (b) dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.

Adapun keadaan hajat yang berkaitan dengan kehamilan yang dapat membolehkan aborsi adalah (a) janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan; (b) kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh Tim yang berwenang yang di dalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.

Ketiga, aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah masih menggunakan fatwa lama (tahun 1989) menyikapi kontroversi larangan pengecualian aborsi bagi perempuan korban pemerkosaan. Fatwa tersebut menegaskan aborsi hanya boleh dilakukan untuk perempuan terancam darurat medis dan tidak untuk korban perkosaan, pasalnya persoalan ini masih menimbulkan banyak masalah.

*Dosen Fakultas Syari’ah UIN SUKA, Ketua Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *