Oleh: Avra Abida El Ravi
Lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah tidak lantas membuat seseorang merasa dirinya adalah kader Muhammadiyah. Ini dialami oleh banyak remaja, terutama yang merupakan generasi Z seperti saya. Sebagai generasi yang terkepung dengan banyaknya konten di media sosial, saya pernah sangat menggemari konten-konten keagamaan di Instagram. Bagi saya, dakwah mereka sangat menarik karena membahas hal-hal yang berkaitan dengan anak muda, seperti musik K-Pop yang sedang marak.
Karena begitu menarik, konten-konten itu mampu menimbul perasaan dosa dan bersalah yang sangat besar sehingga saya mudah menerima dakwah para influencer media sosial itu. Namun, setelah beberapa bulan saya refleksikan, saya merasa “hidup kok susah banget, ya.” Saya pun kemudian memantapkan hati berkonsultasi dengan orang tua dan nenek-kakek saya tentang Islam moderat yang modernis. Dari diskusi itu, akhirnya saya memantapkan hati untuk bermuhammadiyah kembali.
Hal serupa juga saya rasakan saat bergaul dengan teman-teman di lingkungan yang heterogen. Teman-teman saya banyak yang berlatar belakang Muhammadiyah, tetapi tidak semangat untuk bermuhammadiyah. Mereka enggan ikut dalam ortom Muhammadiyah dan memilih hijrah ke “jalan yang lebih benar”. Mereka menganggap ajaran Islam ala Muhammadiyah itu tidak benar, Muhammadiyah terlalu terbuka, dan Muhammadiyah kerap mencampurkan hal-hal yang haq dan yang bathil.
Dari dua kejadian ini, terdapat beberapa hal yang menjadi catatan bagi Muhammadiyah dari generasi Z. Pertama, dakwah Muhammadiyah kurang menarik. Muhammadiyah membutuhkan content creator yang menyasar anak-anak muda. Salah satu konten dakwah yang menarik bagi anak muda adalah penjabaran singkat disertai desain yang menarik. Konten seperti ini mempunyai pengaruh yang efektif terhadap penyampaian dakwah.
Muhammadiyah perlu melahirkan lebih banyak influencer dakwah dengan penyampaian singkat dan desain yang menarik. Akun-akun tersebut dapat berkembang dengan sendirinya apabila konten-konten mereka menarik hati para anak muda yang ingin belajar agama secara praktis.
Baca Juga: Sembilan Prinsip Kaderisasi Digital
Kedua, ustaz-ustaz Muhammadiyah sebaiknya tidak terlalu spaneng. Seperti komunitas muslim lainnya, Muhammadiyah juga memiliki pembicara yang sering tampil di pengajian yang biasa disebut sebagai ustaz. Pada umumnya, peserta pengajian yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah adalah bapak-bapak dan ibu-ibu, jarang yang menyasar remaja.
Para pembicara itu biasanya memilih gaya bahasa yang sangat formal. Tidak hanya kader muda Muhammadiyah yang merasakan hal ini, pernah juga saya mendengar orang dewasa yang mengatakan, “Males ah, soalnya spaneng”.
Muhammadiyah memiliki banyak pesantren. Itu artinya dai-dai yang dihasilkan oleh Muhammadiyah sangat banyak. Para lulusan Pondok Pesantren Muhammadiyah ini dapat dilatih untuk menjadi dai-dai muda yang tidak spaneng. Mereka dapat membuat kajian dengan sasaran anak muda, tentu dengan menggunakan bahasa gaul dan bahasa sehari-hari untuk berdakwah.
Ketiga, Muhammadiyah perlu membuat kajian dengan kurikulum yang teratur. Memang, Muhammadiyah memiliki kurikulum agama bagi sekolah, madrasah, dan pesantren di penjuru tanah air. Namun, bagaimana dengan warga Muhammadiyah yang belajar di sekolah non-Muhammadiyah, sudah kuliah, atau lulus kuliah?
Muhammadiyah sebaiknya dapat beradaptasi dengan teknologi canggih yang disukai oleh anak muda, serta mengetahui hal-hal yang harus dilakukan untuk berdakwah dengan efektif di era modern ini. Tentu, hal ini memerlukan support dari banyak pihak. Apabila hal ini sudah tercapai, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai organisasi Islam modern, tetapi juga modern sesuai dengan perkembangan zaman.


2 Comments