Agama, Manusia, dan Kebhinekaan menurut Buya Syafii Maarif

Sosial Budaya Wawasan 11 Apr 2021 0 63x
Buya Syafii Maarif

Buya Syafii Maarif

Oleh: Muhammad Ridha Basri

Revolusi industri telah membawa manusia mengalami lompatan peradaban. Seiring laju modernisasi dan globalisasi yang tidak dapat dibendung, ilmuwan sosial pernah meramalkan bahwa kehidupan manusia akan semakin menjauh dari agama. Nalar baru positivistik yang berbasis sains dan teknologi yang terlampau maju dan mekanis, dianggap akan menggeser peran agama yang dogmatis. Tetapi seiring waktu, modernisasi ternyata tidak mampu menggantikan peran agama dan mensekulerisasi manusia sepenuhnya.

“Manusia tidak bisa hidup tanpa agama. Tanpa agama, manusia akan kehilangan rujukan spiritual tertinggi,” kata Buya Syafii Maarif di acara Simakrama Virtual dan Dialog Kebhinekaan Provinsi DKI Jakarta dengan tema “Memperkokoh Integrasi Bangsa untuk Menuju Indonesia Maju” dalam rangkaian Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1943 (10/4/2021). Dialog ini juga menghadirkan I Nengah Dana SAg, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat yang menekankan bahwa kebhinekaan merupakan suatu pembauran menuju kesatuan yang utuh.

Fenomena post truth, kata Buya, menjadi tantangan berat bagi agama. Banyak tokoh memanfaatkan agama untuk mengaduk emosi massa demi kepentingan yang sebenarnya jauh dari anjuran agama. Di era pasca-kebenaran, orang tidak lagi mempercayai fakta-fakta objektif, tetapi merujuk sesuatu yang didasarkan atas kepercayaan yang tidak didukung fakta. Penasehat Donald Trump, Kellyanne Conway memunculkan istilah “fakta alternatif” (alternative facts) dalam Meet the Press, (22/1/2017), untuk berkelit dan membela pernyataan palsu Juru Bicara Gedung Putih Sean Spicer tentang jumlah penonton pelantikan Trump.

Umat beragama perlu memperpendek kesenjangan antara nilai normatif agama dengan sikap pemeluk agama. Agama mengandung seperangkat ajaran luhur yang mengantarkan manusia pada kebaikan, tetap pemeluk agama adalah manusia yang penuh cela dan hidup dalam ruang sosial-budaya-politik tertentu. Itulah sebabnya, meskipun agama mengajarkan bahwa kemanusiaan itu satu, tetapi ada penganut agama yang menyalahgunakan agama untuk mencederai kemanusiaan. Oleh sebab itu, Buya mengingatkan supaya setia pada nilai agama, bukan pada tokoh yang dapat menggiring pengikutnya pada perbudakan spiritual atau teologi maut.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa orang yang punya trauma pada oknum pemeluk agama, akan lari dari agama secara ekstrem atau menjadi pemeluk fanatik agama secara ekstrem. Buya Syafii menyebut kasus Betrand Russell, penulis buku Why I Am Not a Christian, yang menyatakan bahwa semua agama berbahaya. Suatu ketika, Russell menanyakan kepada ayahnya, “Siapa yang menciptakan alam semesta ini?” Ayahnya menjawab, “Tuhan.” Akal rasional Russell tidak puas, lalu bertanya lagi, “Siapa yang menciptakan Tuhan itu?” Karena tidak mendapat jawaban, ia memilih menjadi agnostik.

“Kita boleh marah kepada orang seperti Russell, tetapi perlu juga instrospeksi”. Menurut Buya Syafii, salah satu sebab orang menjauh dari agama adalah karena sikap pemeluk agama yang kekanak-kanakan, tidak tidak mencerminkan nilai luhur agama, tidak mempergunakan akal budinya. “Banyak yang menyalahgunakan agama, agama digunakan untuk menyulut kebencian, memonopoli kebenaran”. Manusia kerap merasa sebagai wakil Tuhan yang paling tahu maksud Tuhan, dan memaksakan tafsir absolut. Padahal, manusia hanya berusaha menyibak cahaya Tuhan, dengan jalan yang tidak seragam.

Dalam QS. Yunus [10]: 99 dinyatakan, “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” Dalam ayat lain, dinyatakan tentang prinsip tidak ada paksaan dalam memilih agama (QS. al-Baqarah [2]: 256). Nabi mencontohkan bahwa setelah mengajak pamannya Abu Thalib kepada Islam dengan penuh hikmah, maka tugasnya selesai. Semua manusia punya hak memilih keyakinan agama yang sesuai dengan kemantapan hatinya. Manusia hidup dengan asas kebebasan memilih (free choice). Supaya kebebasannya tidak melampaui batas dan merugikan orang lain, manusia dituntut pertanggungjawaban atas apapun pilihan yang didasarkan kehendak bebasnya.

Adanya kebebasan memilih membuat dunia lebih indah layaknya spektrum warna yang saling memperkaya. Supaya manusia dapat hidup dan menjalankan perannya di tengah perbedaan, diperlukan sikap saling menghargai dan memperlakukan semua makhluk Tuhan dengan penuh martabat (dignity). Manusia tidak berhak merendahkan martabat orang yang dianggap berbeda, apalagi menghakimi dan memperlakukannya dengan tidak manusiawi.

Buya Syafii menyebut bahwa Indonesia beruntung memiliki keragaman yang sangat utuh dalam berbagai bidang. Sebagai formulasi menghadapi keragaman, Indonesia juga punya semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kebhinekaan itu berasal dari warisan Majapahit abad ke-14. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang diambil dari kakawin Jawa Kuno, Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular, “bhinnêka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa” (Berbeda-beda, namun hakikatnya satu. Karena kebenaran itu tidak mendua).

“Saya banyak berteman dengan semua agama, termasuk dari Hindu, terutama I Nyoman dan moderator I Gede Adiputra. Saya berterima kasih sekali,” kata Buya. Menurutnya, ada banyak sekali persamaan visi di antara umat berbagai agama. Berdasarkan pengalamannya berteman dengan berbagai kalangan, Buya Syafii menawarkan formula, “Bersaudara dalam perbedaan, berbeda dalam persaudaraan.” Perbedaan itu merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri.

Setiap agama memiliki salam yang beragam. “Salam yang berbeda-beda itu substansinya sama, supaya lawan bicara mendapat keberkahan, rahmat, dan perlindungan dari Tuhan,” tutur Buya Syafii. Dalam Islam, “assalamu’alaikum” menyiratkan komitmen pada perdamaian, keamanan, dan ketenteraman. Salam berarti suatu janji dan sekaligus jaminan, bahwa ia tidak disakiti secara fisik, hati, dan perasaannya. Jika tetap menyakiti, maka dia melanggar dan mengkhianati janjinya untuk senantiasa mengusahakan kedamaian pada yang diberi salam.

Buya Syafii mengajak umat Hindu sebagai salah satu agama tertua di Nusantara untuk terus menjaga kerukunan dan spirit Hindu yang pernah berjaya di masa lalu. Meskipun minoritas secara jumlah, Buya menyebut Hindu pernah menjadi kekuatan politik, kekuatan ilmu pengetahuan, dan kekuatan kebudayaan di masa lalu. Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai diprediksi muncul sekitar abad ke-5 masehi. Di abad ke-5 juga muncul kerajaan Tarumanegara yang pernah jaya dan menguasai banyak wilayah.

“Sebelum Hindu dan Budha datang, kita telah punya banyak penghayat aliran kepercayaan.” Seiring waktu, agama-agama di Nusantara mengalami interaksi dengan berbagai agama. Kedatangan agama-agama membuat penduduk Nusantara semakin beragam, sebagian besar memilih Islam. Banyak sejarawan menggambarkan proses peralihan ke Islam yang berlangsung secara damai, dimulai dari lingkaran kerajaan dan para aristokrat, lalu diikuti oleh masyarakat. Jika yang dikedepankan dalam proses itu adalah sikap puritan yang kaku, mungkin ketertarikan mereka kepada Islam tidak berlangsung secepat itu.

Buya Syafii mengingatkan bahwa, “Proses pembentukan bangsa ini lama sekali dan berat, tetapi berhasil.” Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara hasil konsensus dan rajutan berbagai latar belakang etnis, tidak boleh dirusak. Ketika Uni Soviet pecah, kata Buya, ada yang meramalkan bahwa Indonesia yang multikultur ini tinggal menunggu waktu untuk retak. “Itu terjadi di abad yang lalu. Tapi alhamdulillah, kita masih bertahan. Karena yang menjadi arus utama adalah orang yang waras.”

Indonesia patut bersyukur atas limpahan kekayaan budaya, etnis, dan agama. Meskipun di tengah perbedaan, “Tidak ada perang agama, tetapi hanya letupan-letupan kecil,” kata Buya. Semua agama dengan potensinya masing-masing menjadi modal penting untuk mengisi dan menghadapi masa depan yang kompleks. “Kalau Indonesia mau maju dan bertahan lama, maka kebhinekaan ini harus dijaga, dirawat dan diruwat.” Buya Syafii mengajak umat beragama untuk membumikan Pancasila yang mengandung saripati ajaran luhur agama. Nilai-nilai ini harus dirasakan oleh semua, berdasar prinsip keadilan sosial serta kemanusiaan yang adil dan beradab.

Tinggalkan Balasan