Aisyiyah Jawa Barat Kaji Perilaku Konsumen di Era Digital

Berita 24 Nov 2021 0 58x

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Pola perubahan perilaku konsumen saat ini sangat dipengaruhi oleh adanya digitalisasi yang disebabkan oleh kemajuan teknologi dan internet. Digitalisasi sendiri merupakan sebuah perubahan pola hidup yang tadinya konvensional atau secara tatap muka berubah menjadi secara online atau tatap maya.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Program Studi Perdagangan Internasional Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Bandung Rivaldi Ari Saputra dalam Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jawa Barat yang dilaksanakan secara virtual dengan mengusung tema “Perilaku Konsumen Pasca Pandemi” pada Selasa (23/11).

Agar mampu menyaring konten di dunia maya yang baik dan buruk, Rivaldi menyampaikan ada beberapa aspek yang perlu dipahami. Pertama, internet and digital lifestyle. Rivaldi menyampaikan bahwa penggunaan internet bagi anak perlu dibatasi, karena banyak anak-anak yang menganggap bahwa internet merupakan kebutuhan hidup.

Baca Juga: Literasi Digital Tingkatkan Keberdayaan Ekonomi Perempuan

Rivaldi mengatakan, media sosial membawa arus berita dan informasi yang sangat deras. Berita dan informasi itu bercampur antara yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, dibutuhkan kecakapan untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk di media sosial.

Kedua, financial and expenditure. Rivaldi menyebut, hasil survei membuktikan, pengeluaran terbesar pada anak-anak milenial atau gen Z yaitu 58% untuk kebutuhan bulanan. Aspek terbesar selanjutnya adalah telekomunikasi, menabung, dan berinvestasi.

Rivaldi mengatakan, sekarang banyak anak-anak yang menganggap telekomunikasi sebagai hal yang paling utama. Mereka menyisihkan uang untuk membeli kuota atau paket data. Selanjutnya, mengenai saving and investment, banyak yang menabung dengan membeli saham, membeli emas, jual beli surat berharga, dan sebagainya.

Ketiga, online shopping behaviour. Menurut hasil survei, Rivaldi mengatakan bahwa setengah dari orang Indonesia ketika mengakses untuk belanja online tidak memiliki rencana untuk membeli, tetapi karena ada promo atau lainnya. Akhirnya tumbuh sifat konsumtif atau boros. Padahal, belum tentu yang dibeli itu sesuai dengan kebutuhan, melainnya sebagai keinginan saja.

Rivaldi mengatakan, sifat konsumtif dan boros itulah yang harus dihindari. Karena “apapun yang kita beli, apapun yang kita transaksikan, itu semua akan menjadi pertanggung jawaban kita nanti,” ujarnya.

Keempat, traveling experience. Rivaldi mengatakan, traveling nantinya akan dianggap menjadi tren dan kebutuhan baru karena jika dihubungkan dengan gaya hidup, misalkan orang pergi ke suatu tempat, makan sesuatu di restoran, semuanya akan di-upload di media soaia. Inilah yang membuat traveling dianggap menjadi tren dan kebutuhan baru karena dianggap bisa meningkatkan status sosial.

Di akhir paparannya, Rivaldi menyampaikan bahwa saat ini pendekatan yang paling cocok untuk dilakukan kepada generasi muda adalah lifestyle dan entertainment. Pendekatan ini berlaku juga untuk mendekatkan mereka dengan nilai-nilai agama. (miqdad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *