Aisyiyah Perkuat Gerakan Perempuan Penjaga Bumi

Berita 3 Des 2021 0 59x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ‘Aisyiyah kembali menggelar Forum Group Discussion secara daring via zoom bertajuk “Perempuan Penjaga Bumi”, Rabu (1/12).

Forum kali ini menampilkan 3 aktivis lingkungan, yaitu Amanda Katili (Direktur The Climite Reality Project Indonesia), Nana Firman (Wakil Ketua PCIM Amerika), dan David Effendi (Greenpece Muhammadiyah).

Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah Nurni Akma ketika membuka diskusi mengatakan, bicara isu lingkungan berarti bicara tentang ayat-ayat qauliyah dan kauniyah. “Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat yang terbentang di alam ini yang menjadi perhatian kita bersama sebagai khalifah,” tuturnya.

Terkait topik perempuan penjaga bumi, Nurni mengutip perkataan ulama yang berbunyi, “perempuan adalah tiang negara, jika baik, negara pun baik, jika rusak, negarapun rusak”.

“Perempuan bernama ibu adalah madrasah pertama dalam mendidik generasi, termasuk di dalamnya menanamkan pendidikan tentang peduli terhadap lingkungan,” ucapnya.

Baca Juga: LLHPB Aisyiyah Siapkan Ustadzah dan Modul Peduli Lingkungan

Amanda Katili selaku Direktur The Climate Reality Project Indonesia menuturkan, perempuan penjaga bumi, dimulai dara dasar, yaitu memulai dari diri sendiri.

“Sebelum kita mengajak orang lain, dimulai dari diri kita terlebih dahulu. Kita sanggup tidak menjaga lingkungan?” tuturnya.

Kata Amanda, banyak bencana terjadi karena perbuatan manusia. Oleh karenanya, banyak persoalan yang perlu diselesaikan dan membutuhkan kerja sama.

“Lingkungan ini adalah perhatian semua orang. Tidak perlu menjadi dokter, profesor, atau ahli-ahli tertentu. Semua bisa berbuat untuk menyikapi persoalan ini. Semua punya hak untuk hidup di lingkungan yang baik, semua orang bisa berkiprah,” kata dia.

Menurut dia, semua orang harus menghubungkan diri dengan alam, tidak bisa berharap lebih kepada pemerintah. Ia melanjutkan, banyak masalah di bumi yang membutuhkan campur tangan para pemimpin, namun jarang ditemukan pemimpin negara yang peduli terhadap kerusakan lingkungan. Karena menurut dia, pemerintah banyak pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

“Padahal ini masalah global. Belum tentu negara-negara maju yang mencemari lingkungan merasakan dampaknya, justru negara-negara miskin yang terkena dampaknya,” ujarnya.

Untuk mencegah kerusakan lingkungan, Amanda mengatakan jaringan seperti Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sangat dibutuhkan.

Sementara itu, Nana Firman Wakil Ketua PCIM Amerika mengatakan perlu adanya pemahaman tentang eko-teologi.

“Seluruh ciptaan Allah adalah ayat-ayat Allah yang perlu kita perharikan, maka perlu diangkat eko-teologi. Teologi yang berhubungan dengan lingkungan, bisa di-mainstream-kan dalam kurikulum,” ucapnya.

Menurut Nana, Madrasah di Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah bisa dimasukkan materi tentang lingkungan. “Belajar sambil mempraktikkan, sejak dini sudah diajarkan sehingga menjadi kebiasaan”.

Tentang “Perempuan Penjaga Bumi”, menurut dia, adalah bagian dari jihad. Maka, kata dia, dibutuhkan kerja sama. “Komunitas untuk men-support, saling mengingatkan, melaui majelis taklim atau grup-grup diskusi sehingga saling mendukung satu sama lain,” ujarnya

Selanjutnya, David Efendi yang merupakan aktivis Greenpeace Muhammadiyah mengatakan bahwa upaya penyelamatan bumi tidak dapat dilepaskan dari perempuan.

Dia berpendapat, paradigma tentang lingkungan perlu diubah. “Kita bagian dari alam, bukan alam bagian dari kita atau alam ada di sana, kita ada di sini,” ujarnya.

Dalam Islam, kata dia, ada aspek kedilan, ada aspek ketauhidan yang mencegah umatnya dari gerakan-gerakan yang merusak bumi. David melanjutkan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah gerakan yang multi-wajah. Hampir semua urusan dilakukan, hampir semua bidang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berkiprah.

“Seiring dengan kerusakan alam, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sangat cepat merespons. Keterlibatan yang lebih dekat lagi dengan membentuk divisi lingkungan, Muhammadiyah pun begitu, pasca reformasi dibentuk Majelis Lingkungan Hidup,” tandasnya.

David menegaskan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bukan gerakan yang memisahkan diri dari realitas. Menurut dia, ‘Aisyiyah memperkuat gerakan lingkungan adalah panggilan moral, panggilan spiritual. Jika lingkungan rusak, kemiskinan makin parah, mustadh’aifin makin banyak bermunculan. Kesadaran al-Maun semakin dimunculkan.

Kata David, tugas ustadzah lingkungan harus mempunyai pemaham tentang global warming, jika tidak, akan mudah dipatahkan orang-orang sekuler yang anti Tuhan. Dalam pedoman hidup warga Muhammadiyah bagian akhlak lingkungan, etika hidup Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah untuk mencegah hal-hal buruk yang terjadi adalah bagian dari pendidikan lingkungan.

“Ada dimensi kewajiban kekhalifahan, ada dimensi ketauhidan, maka gerakan lingkungan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar,” tandasnya.

Gerakan penyelamatan bumi, kata David, relatif berat. Jika tidak dijalani maka tidak kaffah dalam menjalankan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah.

Tentang keterlibatan Muhammadiyah dalam gerakan lingkungan hidup, David mengatakan Muhammadiyah dalam kampanye selalu mengingatkan pemerintah apabila kebijakannya merusak lingkungan dan efeknya ke manusia dan makhluk hidup lainnya dalam jangka panjang.

“Hampir semua Ortom di Muhammadiyah punya divisi lingkungan hidup. Muhammadiyah punya majelis dari pusat hingga ke cabang, Muhammadiyah punya green kampus, punya pusat studi lingkungan. Ada 5 (lima) Perguran Tinggi Muhammadiyah yang memiliki pusat studi lingkungan,” pungkasnya.

David mengatakan, tugas ‘Aisyiyah adalah mengumpulkan kekuatan-kekuatan dalam wadah, salah satunya adalah ustadzah lingkungan, lintas Ortom, lintas Majelis, lintas Lembaga untuk memperkuat gerakan perempuan penjaga bumi. (Iwan Abdul Gani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *