Kalam

Akhlak dalam Berdakwah

Oleh: Tri Yaumil Falikah*

Dakwah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam penyebaran agama Islam. Oleh karena itu, dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagaimana hadis berikut:

بلغوا عني ولو آية

Artinya, “sampaikanlah dariku walaupun satu ayat” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Turmudzi).

Secara harfiah kata dakwah berarti seruan atau ajakan. Tujuan dari berdakwah adalah menyeru dan mengajak manusia agar mengakui Allah subhanahu wata’ala sebagai satu-satunya Rabb semesta alam, lalu menjalani kehidupan sesuai dengan syari’at yang ditetapkan oleh-Nya sebagaimana termaktub dalam al-Quran dan sunnah. Hal ini selaras dengan tujuan dari Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Q.s. Ali Imran: 110).

Selain dalil yang kuat, dakwah juga harus diiringi dengan akhlak yang mulia. Nasihat, tarbiyah, dan dakwah selayaknya dibungkus dengan bingkisan akhlak mulia dan tutur kata yang baik sehingga semua orang pasti akan menerima dan mendengarkannya.

Hal ini disebabkan karena akhlak mulia ini adalah faktor penting dalam membentuk kesalehan seorang muslim serta munculnya kecintaan manusia pada dirinya. Akhlak mulia ini bahkan dijadikan sebagai salah satu tujuan risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Artinya, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Malik, Ahmad, Bukhari).

Menjadi Contoh

Akhlak menjadi salah satu tolok ukur ketinggian derajat seorang hamba di sisi Allah. Sebab itu, seorang dai harus menjadi orang yang pertama kali mengaplikasikannya dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakatnya. Dalam hadis disebutkan:

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن من خياركم أحسنكم أخلاقا

Artinya, Nabi saw. bersabda: “sesungguhnya orang yang paling utama di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bila seorang dai memiliki akhlak mulia, maka penerima manfaat dakwah akan mendengarkan nasihat, seruan, dan petuahnya. Ilmunya akan tersebar luas, manusia akan banyak mengambil manfaat dari ilmunya, serta ia akan meraih derajat tinggi di sisi Allah ‘azza wa jalla.

Baca Juga: Ulama Aisyiyah Memajukan Umat dan Bangsa

Oleh sebab itu, Allah memerintahkan nabi dan rasul untuk berdakwah dengan lemah lembut sebagaimana firman-Nya,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Q.s. Ali ‘Imran: 159).

Dai selayaknya tetap bijak dan mengedepankan sikap saling menghormati dalam menghadapi perbedaan pendapat di kalangan masyarakat. Cara menyampaikan pendapat ketika berargumen juga harus dengan cara yang baik.

Hal ini dikarenakan kebenaran akan mudah diterima orang lain jika disajikan dengan akhlak yang terpuji. Karena Rasulullah pun ketika berdakwah disertai dengan ahklak yang mulia, tidak dengan kekerasan ataupun cacian. Allah berfirman,

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.s. an-Nahl: 125).

Seorang dai hendaknya bersikap toleran dan tidak merasa pendapat dirinya paling benar sehingga mencemooh pendapat orang lain. Ketika terjadi perbedaan pendapat, sebaiknya seorang dai dapat bersikap lebih bijak dan tidak sepatutnya ia membuka aib orang lain.

Perbedaan pandangan di antara para ulama terhadap persoalan tertentu merupakan hal yang wajar. Perbedaan itu dalam Islam disebut sebagai masalah khilafiyah yang merupakan persoalan dari cabang-cabang agama, bukan pokok ajaran Islam. Perbedaan pendapat ini bahkan sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad masih hidup.

Dari ‘Amr bin Ash, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang hakim menghukumi suatu masalah lalu dia berijtihad kemudian dia benar, maka dia mendapat dua pahala. Apabila dia menghukumi suatu masalah lalu berijtihad dan dia salah, maka dia mendapatkan satu pahala” (H.R. Muslim).

Menghargai Pandangan Orang Lain

Satu hal yang perlu dikedepankan dalam beragama adalah pentingnya penghargaan terhadap keyakinan atau pandangan lain. Jangan sampai persoalan khilafiyah membuat umat Islam terpecah-belah. Dalam hal inilah diperlukan kearifan dari para dai dalam menyampaikan dakwahnya. Allah berfirman,

وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَةُ

Artinya, “Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata” (Q.s. al-Bayyinah: 4).

Bahkan Allah mengancam orang-orang yang berpecah belah dengan siksa yang pedih sebagaimana firman-Nya di bawah ini:

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (Q.s. Ali Imran: 105).

Adanya perbedaan pendapat itu adalah hal yang wajar terjadi. Hal yang lebih penting adalah cara menyikapi perbedaan tersebut agar menjadi rahmat. Semoga dengan adanya perbedaan di kalangan masyarakat tidak memecahkan umat melainkan dapat saling melengkapi dan memperkaya khasanah.

*Dosen FAI Universitas Ahmad Dahlan

Related posts
Kalam

Antara Riya’ dan Dakwah

Oleh: Saptoni, M.A.* Salah satu tindakan tercela dan sangat dilarang dalam agama Islam adalah riya’, atau yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia…
Hikmah

Membangun Rasa Cinta pada Al-Quran

Oleh: Shifna Asna Allifya* Bagi umat muslim, penting untuk menumbuhkan rasa cinta pada Al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan surat cinta dari Allah. Oleh karena…
Berita

Terima Wakaf Rumah, PDA Tuban Akan Gunakan untuk Dakwah Rahmatan Lil ‘Alamin

Tuban, Suara ‘Aisyiyah – Keluarga Yulistiana dengan tulus dan ikhlas mewakafkan sebuah rumah yang berlokasi di Jl. Tonny Koeswoyo Nomor 3, Kelurahan…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *