Alami Efek Samping Setelah Vaksinasi Covid-19? Jangan Khawatir!

Berita 25 Agu 2021 0 68x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Menghadapi angka kasus positif Covid-19 yang terus meningkat, pemerintah terus menggenjot proses vaksinasi. Secara medis, Ray Wijaya selaku tim Dokter SehatQ menjelaskan bahwa kegunaan vaksin adalah untuk mencegah dan mengurangi risiko terinfeksi Covid-19. “Kalaupun sudah divaksinasi tetapi tetap terinfeksi, kemungkinan gejalanya hanya ringan, tidak perlu sampai ke rumah sakit. Jadi hanya isolasi mandiri di rumah,” jelas Ray.

Penjelasan itu ia sampaikan dalam siaran langsung akun Instagram @sehatq_id dengan tema “Mengenal Reaksi Tubuh dan Penanganan Setelah Vaksinasi Covid-19”. Kegiatan ini diadakan pada Rabu (18/8).

Dalam kesempatan itu, Ray menjelaskan bahwa dari berbagai jenis vaksin yang dipakai di Indonesia saat ini semuanya mempunyai efektifitas yang sama, yaitu 60-80 persen. Ray juga mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pemberian dosis antara dewasa dan anak-anak, semuanya sama pemberiannya ½ CC. Anak yang boleh divaksin harus sudah berusia antara 12-17 tahun.

Ia menambahkan bahwa jenis vaksin tidak boleh dicampur. Semisal dosis pertama menggunakan Sinovac, maka dosis kedua juga harus menggunakan jenis Sinovac. Vaksin yang dicampur kemungkinan akan meningkatkan ½ kali lipat efek samping lebih tinggi.

“Orang yang layak untuk diberikan divaksin adalah yang suhu tubuhnya normal. Kalau suhunya di atas 37,5 atau demam, maka harus ditunda dahulu sampai demamnya sembuh. Kedua, tekanan darah normal dan tidak terlalu tinggi. Kemudian yang ketiga orang yang tidak menderita sesak nafas atau nyeri dada,” terang Ray.

Ray kemudian menjelaskan reaksi tubuh setelah divaksin. “Tiap-tiap orang berbeda-beda reaksi tubuhnya, karena vaksin adalah memasukkan sesuatu yang mirip seperti virus, tetapi tidak menyebabkan kita menjadi sakit. Virus ini dimasukkan ke dalam tubuh agar menjaga imunitas tubuh, makanya ada beberapa orang yang mengalami efek samping seperti mengantuk, lelah, mudah lapar, dan alergi. Tetapi itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu dicemaskan,” kata Ray.

Baca Juga: Pemerintah Minta Masyarakat Tidak Perlu Pilih-Pilih Jenis Vaksin

Ia menambahkan, kalau efek sampingnya hanya mengantuk dan lapar, maka cukup diatasi dengan makan dan tidur. Tetapi jika sampai demam, maka direkomendasikan untuk meminum obat. Kegunaan obat ini, menurutnya, bukan hanya untuk meredakan demam atau pegal-pegal saja, tetapi juga sebagai pereda nyeri.

Dalam kegiatan tersebut, seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai berapa lama vaksin ini dapat bekerja, kapan harus diulang kembali, dan apakah jenis vaksin booster juga akan diberikan untuk masyarakat. Ray menjawab bahwa sejauh ini dalam penelitian, vaksin dapat bertahan 6-8 bulan. Dosisnya tergantung dengan jenis vaksin yang diberikan; ada yang 1 bulan ada yang 3 bulan. Dan untuk jenis vaksin booster sementara ini hanya diberikan oleh tenaga medis karena risiko terpapar Covid-19 sangat tinggi.

Di akhir penjelasannya Ray menegaskan bahwa protokol kesehatan harus tetap dijaga. “Perlu diingat, bahwa sampai saat ini Covid-19 belum ada obatnya. Vaksinasi adalah salah satu intervensi yang sudah terbukti secara nyata menunjukkan perbedaan yang lumayan, yakni kematian yang menurun, dan risiko terinfeksinya menurun. Sehingga alangkah lebih baik agar kita manfaatkan bersama-sama vaksinasi ini supaya pandemi segera berakhir,” kata Ray. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *