Alimatul Qibtiyah: Kedepankan Kompromi, Bukan Dominasi

Aksara 31 Mar 2021 0 41x
Kedepankan Kompromi bukan Dominasi

Kedepankan Kompromi bukan Dominasi

Ada perbedaan mendasar antara Islam dengan umat Islam: Islam adalah agama, sementara umat Islam adalah penganutnya. Islam bernilai benar, tetapi umat Islam dapat keliru memahaminya. Hal itu karena manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor dan kepentingan, seperti budaya, kekuasaan, dan sebagainya.

***

Keberadaan faktor-faktor itu mempengaruhi cara berpikir umat Islam terhadap suatu persoalan. Misalnya, ada sebagian umat Islam yang menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua. Parahnya, sikap tersebut dianggap sebagai murni ajaran Islam. Padahal, Islam sangat menghormati kedudukan perempuan.

Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kajian Gender Alimatul Qibtiyah menyampaikan (16/9) bahwa ditinggikannya derajat perempuan dalam Islam mengalami pelunturan sejak berkembang tafsir misoginis yang mengatakan perempuan sebagai makhluk lemah dan hanya boleh berperan di lingkup domestik.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah ini menyayangkan kondisi tersebut. Merujuk pandangan Nasaruddin Umar, Alim mengatakan bahwa apabila umat Islam melakukan pembacaan yang komprehensif dan holistik terhadap al-Quran dan hadis, maka akan ditemukan fakta yang tak terbantahkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi keadilan gender, yang itu berarti menolak diskriminasi dan pendiskreditan terhadap perempuan.

Sarah, Hajar, Asiyah, Bilqis, dan Maryam merupakan beberapa perempuan yang mendapat tempat istimewa di dalam Al-Quran. Pada masa kenabian, selain istri-istri Nabi, beberapa sahabiyah juga mendapat tempat yang istimewa. Sejarah mencatat bahwa mereka merupakan perempuan-perempuan yang berhasil “menggoyang” panggung sejarah peradaban manusia.

Di Indonesia, nama-nama seperti Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat, Ratu Sinuhun, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman, R.A. Kartini, Nyai Walidah, sampai Siti Baroroh Baried membuktikan bahwa partisipasi aktif perempuan dalam memajukan kehidupan beragama dan berbangsa tidak boleh dipandang sebelah mata. Prestasi yang mereka torehkan menunjukkan bahwa perempuan mampu berdaulat atas dirinya sendiri.

Perhatian pada Isu Gender

Kali pertama Alimatul berkenalan dengan isu-isu perempuan terjadi sekira 25–30 tahun yang lalu. Intensitas dan keseriusan membawanya pada kesadaran bahwa wacana keperempuanan begitu kompleks. Membincang perempuan tidak sekadar soal reproduksi, tetapi juga menyangkut teologi, sosial, politik, dan sebagainya.

Di antara isu yang disorot dalam pidatonya adalah soal keluarga ideal. Baginya, setiap pasangan mempunyai hak untuk menentukan bentuk keluarga selama memenuhi enam kriteria. Kriteria keluarga itu ialah (i) menjamin adanya relasi yang seimbang; (ii) menjamin tidak adanya bentuk kekerasan seksual, baik fisik, psikis, ekonomi, dan seksual; (iii) menjamin tumbuh-kembang semua anggota keluarga; (iv) memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar; (v) meyakini bahwa semua peran sama mulianya dan dapat digunakan sebagai kunci untuk masuk surga, dan; (vi) menambah dan melanggengkan kebaikan dan keberkahan dalam keluarga.

Lebih lanjut, Alim menyampaikan bahwa berangkat dari kriteria keluarga ideal itu, di dalam institusi keluarga, nafkah tidak harus selalu dibebankan kepada suami, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. “Demikian juga urusan pengasuhan dan kerja domestik, juga dapat dibicarakan bersama terkait de-ngan siapa yang lebih banyak bertanggung jawab, bisa istri, suami, atau pun keduanya”.

Menurut Alim, gelombang suara aktivis gender terkait penolakan mereka terhadap peran tunggal perempuan di ranah domestik bukan berarti melarang perempuan untuk memilih pilihan itu. Yang mereka maksudkan sebenarnya adalah mendorong supaya perempuan mempunyai kebebasan menentukan peran terbaiknya tanpa paksaan, terlepas apakah ia memilih untuk berada di ranah domestik atau publik.

“Penghargaan terhadap peran di masing-masing anggota keluarga dapat dilakukan dengan mengimplementasikan kesalingan dan kesetaraan, mengedepankan negosiasi dan kompromi bukan dominasi, serta menerima fleksibilitas peran gender”.

Pendekatan Silent Revolution

Kesalahpahaman (dan kecurigaan) memang sering kali terjadi. Ini mengingat di internal umat Islam sendiri masih terdapat perbedaan pandangan seputar posisi dan peran perempuan. Ditambah mereka yang memperjuangkan harkat dan martabat perempuan ini sering dianggap keluar dari rel ajaran Islam, terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Barat, dan sebagainya.

Prasangka tersebut wajar, tetapi bukan berarti benar. Jika melihat dinamika perkembangan pemikiran Islam di Barat secara lebih luas, sebenarnya ada tiga sikap/sifat yang berbeda satu sama lain. Edward W. Said memang mengatakan bahwa yang dilakukan Barat terhadap Islam adalah dengan tujuan menghegemoni. Pandangan Said inilah yang umum di kalangan umat Islam. Akan tetapi, Maxim Rodinson menganggap Barat bersikap netral. Sementara Montgomery Watt melihat bahwa beberapa sarjana Barat berada di pihak Islam.

Terlepas dari itu, penting dicatat bahwa apa yang diperjuangkan Alim didasarkan pada semangat egalitarian Islam. Ia juga menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan tersebut memperkecil ruang keterlibatan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan ideal-moral ajaran Islam.

Jika bayani, burhani, dan irfani adalah pendekatan untuk memahami, maka silent revolution adalah pendekatan yang digunakan Alim untuk memahamkan dan menyadarkan. Silent revolution dapat dikatakan sebagai sikap dakwah yang menggunakan cara-cara halus, meminimalisasi konflik, dan tidak frontal. Bagaimana pun, menurutnya, perubahan harus tetap mempertimbangkan “kearifan lokal, aspek psikologis pasangan, dan budaya dominan yang ada”. (Sirajuddin)

Leave a Reply