Amanat dan Tanggung Jawab

Kalam 13 Agu 2021 0 73x

Oleh: Muhammad Chirzin

Amanat ialah sesuatu yang diberikan dan dipercayakan kepada seseorang. Atas dasar itu ia mempunyai hak dan kekuasaan untuk bertindak. Ia dapat menggunakannya sesuai dengan ketentuan yang sudah diberikan, tetapi ia juga kuasa menggunakannya dengan cara lain.

Sebuah amanat tidak ada artinya jika yang memegang amanat itu tak punya kekuasaan untuk bertindak. Amanat itu mengandung arti bahwa pihak pemberi amanat percaya dan mengharapkan pemegang amanat akan menggunakannya sesuai dengan keinginan pemberinya, bukan semau penerimanya (Abdullah Yusuf Ali, 1993: 1095). Allah swt. berfirman dalam al-Quran,

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Artinya, Sungguh, Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semua enggan memikulnya, karena khawatir akan mengkhianatinya. Maka manusia datang memikulnya. Manusia sungguh zalim dan amat bodoh (QS. al-Ahzab [33]:72).

Langit, bumi, dan gunung-gunung adalah simbol. Langit simbol para malaikat yang kemauannya sepenuhnya tunduk kepada Allah swt.; gunung simbol kemantapan dan keteguhan; bumi simbol ketundukan kepada hukum Allah. Semuanya tunduk tanpa kemauan dan kehendak bebas mereka sendiri. Maka di sini amanat tidak berlaku. Manusialah yang sanggup mengemban amanat tersebut berbekal akal pikiran dengan menanggung segala risikonya.

Baca Juga: Kriteria Pemimpin yang Baik

Kepemimpinan adalah amanat sekaligus tanggung jawab. Pemimpin niscaya berlaku adil kepada pihak yang dipimpinnya. Allah swt. berpesan dalam al-Quran,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

Artinya,Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat (QS. an-Nisa [4]: 58).

Menunaikan amanat adalah salah satu kunci keberuntungan orang beriman menjadi pewaris surga, sebagaimana difirmankan Allah swt. dalam al-Quran (yang artinya), “sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Mereka yang khusyu` dalam salat; yang menjauhkan diri dari segala cakap kosong; yang menunaikan zakat; yang menjaga kehormatannya, kecuali terhadap istri atau tawanan yang menjadi miliknya, mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari yang di balik itu, mereka itulah yang melanggar batas. Mereka yang menjaga amanat dan menepati janji. Dan mereka yang setia mengerjakan shalat.  Mereka itulah ahli waris, yang akan mewarisi firdaus; mereka kekal selamanya (QS. al-Mu`minun [23]: 1-11).

Ketika Alah swt. mengangkat Nabi Daud as sebagai khalifah di bumi, maka pesan utamanya agar ia melaksanakan hukum secara benar dan tidak mengikuti hawa nafsu. Allah swt. berfirman,

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌۢ بِمَا نَسُوا۟ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

Artinya, Hai Daud! Kami jadikan engkau khalifah [penguasa] di muka bumi, maka laksanakanlah hukum di antara manusia dengan benar dan adil, dan janganlah memperturutkan hawa nafsu, karena itu akan menyesatkan kau dari jalan Allah. Sungguh, orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat hukuman berat, sebab mereka melupakan hari perhitungan (QS. Shad [38]: 26).

Sebelumnya, Nabi Daud pun lebih dahulu diuji dengan pengaduan dua orang yang berperkara perihal kambing mereka.

Allah swt. pun mengingatkan rakyat agar tidak main uang untuk memenangkan perkara dalam pengadilan. “Janganlah kamu memakan harta di antara kamu secara tidak sah dan jangan membawa harta itu untuk menyuap hakim, dengan tujuan agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui (QS. al-Baqarah [2]: 188)

Allah swt. pun tidak meridhai pemimpin yang zalim, sebagaimana firman-Nya ketika mengangkat Nabi Ibrahim as. sebagai imam bagi umat manusia.

وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya,Ingatlah, ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan perintah-perintah tertentu, lalu ia menunaikannya; Allah berfirman: “Aku jadikan engkau seorang imam umat manusia.” Ibrahim bermohon: “Dan imam-imam dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang yang zalim” (QS. al-Baqarah [2]: 124).

Manusia cenderung berkeluh kesah dan kikir. Kurang mensyukuri nikmat Allah swt. Salah satu anugerah Allah swt. yang niscaya disyukuri ialah amanat, baik amanat pribadi maupun amanat sosial. Allah swt. berfirman dalam al-Quran dalam rangkaian ayat yang mirip dengan rangkaian ayat terdahulu (ditulis artinya),

Sungguh, manusia diciptakan serba gelisah. Bila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan bila mendapat kekayaan ia kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan shalat. Mereka yang tetap setia mengerjakan shalat dan mereka yang dalam harta kekayaannya ada hak yang sudah ditentukan; untuk orang miskin yang meminta dan yang tak mau meminta. Dan mereka yang membenarkan hari pembalasan, dan mereka yang takut kepada murka Allah, karena azab Allah  tidak membawa rasa aman. Dan mereka yang menjaga kesucian, kecuali dengan istrinya dan tawanan yang menjadi miliknya, mereka tiada tercela. Barang siapa mencari yang di luar itu, itulah orang yang melampaui batas. Dan mereka yang menghormati amanat yang dipikul dan janjinya. Dan mereka yang berpegang teguh pada kesaksiannya. Dan mereka yang menjaga kekhusyukan shalatnya. Mereka itulah yang  dimuliakan di taman surga (QS. al-Ma’arij [70]: 19-35).

Allah swt. melarang orang beriman mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadanya.

   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (27) وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ (28) يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Artinya, “Hai orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan mengkhianati segala amanat yang dipercayakan kepadamu, padahal kamu tahu. Ketahuilah bahwa harta bendamu dan anak-anakmu adalah cobaan; dan hanya pada Allah pahala yang besar. Hai orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan kepadamu Furqan, pemisah, dan akan menghapuskan segala keburukanmu, dan mengampuni kamu. Karunia Allah sangat besar(QS. al-Anfal [8]:27-29).

Baca Juga: Ibrah Peristiwa Isra’ Mi’raj bagi Umat Islam

Tanggung jawab seseorang dalam mengemban amanat diuji dengan harta benda dan anak-anak. Karena terpesona harta, seseorang dapat menyelewengkan amanat dan tanggung jawab yang diembannya dengan melakukan korupsi, menerima suap dan gratifikasi, atau sebaliknya, mengeluarkan uang milik negara untuk melestarikan jabatan atau untuk memenangkan Pilkada, misalnya untuk membiayai umroh para modin, membantu majelis taklim dan membagi-bagi sembako dengan tujuan tertentu. Demi masa depan dan karir anak seorang pejabat dapat pula menyalahgunakan wewenang dan jabatannya. Allah swt. berfirman (yang artinya),

Tidak mungkin seorang nabi akan berkhianat. Barangsiapa berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, pada hari kiamat ia datang membawa hasil pengkhianatannya itu, kemudian setiap nyawa akan menerima balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Tak ada yang diperlakukan tak adil (QS. ali-Imran [3]: 161).

Al-Quran dengan sangat indah menggambarkan kelakuan sebagian Ahli Kitab perihal amanat sebagai berikut,

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِۦ مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ (74) وَمِنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِۦٓ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِۦٓ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَآئِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا۟ لَيْسَ عَلَيْنَا فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) بَلَىٰ مَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ وَٱتَّقَىٰ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya,Allah menentukan rahmat-Nya kepada yang Dia kehendaki dan Allah mempunyai karunia yang besar. Ada di antara Ahli Kitab itu yang bila kau beri kepercayaan dengan setimbunan emas, ia mengembalikannya kepadamu; tetapi ada juga orang yang jika kau beri kepercayaan dengan satu dinar saja, tidak dikembalikan kepadamu kecuali bila kamu tagih berulang-ulang, sebab mereka berkata: “Tidak ada kewajiban bagi kami tetap setia kepada orang bodoh. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. Ya, barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka Allah mencintai mereka yang bertakwa (QS. ali-Imran [3]: 74-76).

Pemimpin niscaya menjadi teladan umat dan rakyat dalam segala aspek kehidupan. Karakter pemimpin profetik ialah shidiq, amanah, tabligh, fathanah. Dalam rumusan Ki Hajar Dewantara, ing ngarsa asung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani – di depan memberikan contoh keteladanan, di tengah ikut bekerja dan berjuang, di belakang memberikan dorongan dan motivasi”.

Pemimpin berorientasi untuk berjasa, tapi tidak minta jasa. Berkorban, tapi tidak menjadi korban. “Bandha, bahu, pikir; lek perlu sak nyawane pisan – berkorban harta benda, tenaga dan pikiran; bila perlu dengan nyawa sekalian”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *