Anak adalah Masa Depan Bangsa

Anak Wawasan 25 Feb 2021 0 62x
Anak Masa Depan Bangsa

Anak Masa Depan Bangsa

Oleh: Tri Hastuti Nur R.

Anak adalah anugerah, amanah, dan karunia Tuhan yang diberikan kepada orang tua. Anak adalah masa depan bangsa. Betapa pentingnya perhatian negara dan kita semua kepada anak-anak karena anak-anak adalah sumber daya yang sangat berharga di masa depan. Ada satu pernyataan yang relevan dari John F Kennedy, mantan Presiden USA tentang berharganya peran anak-anak di masa depan bahwa “anak-anak adalah sumber daya yang paling berharga di dunia dan harapan terbaik untuk masa depan.

Oleh karena itu, anak-anak yang sehat, kuat, cerdas, kreatif, inovatif, berkarakter kuat menjadi aset bangsa di masa depan. Bangsa yang mampu bersaing di kancah internasional adalah bangsa yang memiliki sumber daya unggul. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kuat dan  memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan spiritual haruslah dibentuk sejak masih anak-anak, bahkan sejak masih dalam kandungan.

Kesadaran ‘Aisyiyah

Pentingnya membentuk karakter anak-anak sejak usia dini sebagai aset bangsa bahkan dunia ini, telah disadari oleh ‘Aisyiyah sejak tahun 1919. Pada tahun 1919 ‘Aisyiyah sudah mendirikan Frobel yang selanjutnya bernama TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal, sebuah tempat pendidikan yang dikhususkan untuk anak-anak usia dini. Dengan pemben-
tukan karakter sejak masih kanak-kanak diharapkan anak-anak memiliki fondasi keimanan, sikap, dan perilaku yang baik sebagai bekal untuk kehidupan masa depan menjadi generasi penerus bangsa.

Besarnya posisi dan peran anak-anak sebagai penerima estafet membangun bangsa di masa depan ini, membuat bangsa Indonesia dihadapkan pada banyak tantangan. Salah satu problem menyangkut pemenuhan hak-hak anak terkait dengan perkembangan fisik dan kecerdasan intelektualnya adalah masalah stunting (gizi buruk) dan malnutrition (kurang gizi). Jumlah stunting pada bayi dan balita di Indonesia masih cukup tinggi. Kondisi ini tentu menghambat anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara baik, kecerdasan intelektualnya rendah, dan fisiknya akan lemah. Belum lagi masalah imunisasi yang belum semua anak-anak dapat menikmati akses untuk mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Mendasarkan pada dua problem yang menghambat pertumbuhan anak-anak tersebut berarti anak-anak masih belum mendapatkan perlindungan sebagai anak. Merujuk pada UU Perlindungan Anak nomor 35 tahun 2014 bahwa perlindungan anak adalah segala gerakan yang menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya supaya sanggup hidup, tumbuh, berkembang, dan berprestasi dengan cara optimal bersama harkat kemanusiaan, dan meraih perlindungan dari kekerasan dan  diskriminasi.

Problem Anak Kekinian

Dalam era digital ini salah satu tantangan yang dihadapi anak-anak adalah kesiapan anak-anak menghadapi era digital yang penuh dengan tipuan, kejahatan, dan ‘melenakan’. Anak-anak harus dilindungi dari berbagai kejahatan yang disebabkan interaksi dalam dunia digital. Dalam banyak kasus anak-anak terjebak pada kasus kekerasan seksual yang berawal dari komunikasi di dunia digital, terjebak kasus penipuan maupun kasus pemerasan. Anak-anak menjadi korban dalam berbagai kasus tersebut namun tidak jarang juga pelakunya melibatkan anak-anak.

Pola pengasuhan mengalami pergeseran karena dunia digital sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Jika anak-anak tidak cerdas (literate) menggunakan media, mereka akan terjerumus dalam candu yang memabukkan. Di sinilah peran orang tua dan guru menjadi penting agar anak-anak siap hidup dalam era digital ini.

Berpijak pada pentingnya perhatian semua pihak pada masa depan anak-anak ini, ‘Aisyiyah selain membentuk karakter anak-anak yang dilandasi iman, ilmu, dan amal ini melalui pendidikan anak usia dini (TK ABA) di seluruh Indonesia, ‘Aisyiyah mengkampanyekan GACA (Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak) melalui berbagai kegiatan untuk menghindarkan anak-anak dari tindakan kekerasan, baik di ruang publik maupun ruang domestik. Mengapa demikian? Ini karena anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah generasi masa depan bangsa.

Leave a Reply