Mengenal Sastra ‘Aisyiyah

Berita 18 Jan 2020 0 90x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Lembaga Kesenian (PPALK) kenalkan sastra ‘Aisyiyah lewat Obrolan Santai bertajuk ‘Aisyiyah dan Sastra, pada Sabtu (18/1) bertempat di Lobby Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jalan Cikditiro, No. 23 Yogyakarta.

Mengenal Sastra ‘Aisyiyah (Dok. Suara ‘Asiyiyah)

Kami, ungkap Widiastuti selaku Wakil Ketua PPALK mengatakan bahwa narasi- narasi positif, indah, serta menggugah tentu bisa menjadi media dakwah lewat sastra.

“Suara ‘Asiyiyah yang telah terbit sejak tahun 1926, merupakan sebuah pengukuhan serta bukti, bahwa ‘Aisyiyah telah mengembangkan sastra dan literasi sebagai media dakwah dan media aktualisasi,” jelasnya.

Widiastuti, Wakil Ketua PPALK

Disamping itu, acara ini sekaligus menjadi persembahan PPALK di akhir periode. “Semoga acara yang sederhana ini, bisa menjadi tenaga pada akhir periode. Selamat menikmati obrolan santai dan pembacaan puisi,” tukasnya.

Dibuka oleh Susilaningsih Kuntowijoyo selaku Ketua PP ‘Asiyiyah menyampaikan bahwa acara ini mencoba menggaet kaum muda lewat sastra. Kaitannya dengan sastra, terbitnya Suara ‘Aisyiyah sejak awal sudah mengulik sastra, pada kajian sastra, puisilebih dahulu.

“Karya sastra merupakan ekspresi estetis dari sastrawan/wati dari pengalamannya, harapan, impian serta imajinasinya. Kuntowijiyo, dikenal lewat sastra profetiknya. Maka, karya sastranya berisinilai-nilai pengenalan tugas nabi-nabi,” imbuh Susi. Maka, jika terdapat nilai-nilai baik didalam karya sastra, maka karya tersebut dapat menjadi penunjang nilai spritualitas atau sebut saja pendekatan dakwah lewat karya sastra.

Hadir sebagai pemateri Adib Sofia selaku Pimpinan Redaksi Suara ‘Aisyiyah, dan pegiat literasi Fauzan Sandiah. Pada kesempatan tersebut, Adib menjelaskan perubahan rubrik sastra Suara ‘Aisyiyah dari tahun ke tahun. Pertama sekali, rubrik sastra disebut Bingkisan Suksma. “Kata bingkisan itu spesial loh, terbaik. Selanjutnya Suksma yaitu jiwa atau hati, yang disasar pun jiwa pula, bukan dari pikir ke pikir ya, tapi hati ke hati. Maka istilah pada rubrik pertama itu suatu hal terbaik,” ungkapnya.

Setelah itu, berganti menjadi Cerita Pendek, Lembaran Sastera, Ruang Sastra, Sastra, Cerita Pendek, hingga terakhir Asksara. Ini menandakan bahwa ‘Aisyiyah sejak pertama terbit sudah tak asing dengan sastra, juga menandakan bahwa sastra terus berkembang.  

Mengapa sastrawan/sastrawati dahulu terus dikenang hingga kini? Karena, tutur Adib, karya mereka itu berdampak. Begitupun, Sastra ‘Aisyiyah yang dicari itu, berdampak positif bagi masyarakat. Jangan sampai hanya refleksi diri sendiri saja.

Sementara itu, Fauzan juga mengatakan bahwa Muhammadiyah- ‘Aisyiyah itu sastra sekali. Terbuki dengan adanya karya lagu juga adanya budayawan, sastrawan/wati di Muhammadiyah- ‘Aisyiyah. “Sastra ‘Aisyiyah itu sendiri, terdiri dari ide, aktivis, literasi dan media. Majalah Suara ‘Aisyiyah sendiri merupakan produk kebahasaan,”

Lanjut, Fauzan berpendapat bahwa karya tulisan adalah membagikan, menghasilkan ide, serta menyumbang pada masa depan. Karena akan menjadi jejak sejarah nantinya, bahwa spirit pada zaman tersebut begitu luar biasa atau sebaliknya. Menulis menurutnya, merupakan cara jujur dengan diri sendiri. Karena orang yang menulis, selalu berdebat dengan dirinya yang lain. Sehingga hasil tulisannya tersebut merupakan hasil dialog dari perdebatan tersebut.

Acara ini juga menampilkan pembacakan puisi dari tokoh-tokoh Muhammadiyah- ‘Aisyiyah seperti Mustofa W Hasyim, Mahsunah, Agus Taufiqurrahman, dan lainnya. Serta diakhir acara, ditutup dengan parade puisi persembahan dari PPALK. (Gustin Juna)

Leave a Reply