Anak Muda Memimpin Pembaharuan di Indonesia

Wawasan 7 Sep 2021 0 53x
pembaharuan

pembaharuan (foto: iStockphoto)

Oleh: Nani Zulminarni, Amelia Hapsari, Ara Kusuma

Ketidakadilan gender, diskriminasi, beragam pelanggaran hak asasi manusia, kemiskinan, dan problem lingkungan hanya dapat dihapuskan bila setiap orang memiliki empati tinggi dan menjadi pemimpin perubahan sistem nilai yang tidak adil. Tak terkecuali, anak muda juga dapat menjadi bagian dari para pemimpin perubahan itu.

***

Tidak terhalang oleh pandemi, sembilan anak-anak muda dengan rentang usia 12-20 tahun terpilih menjadi Ashoka Young Changemakers 2021. Sembilan remaja yang berasal  dari Jambi, Baturaden, Sumba, Jember, Pelaihari, Bali, Jakarta, Bandung, dan Deli Serdang telah membangun inisiatif kreatif yang telah menghasilkan dampak, baik di komunitas mereka maupun dampak berskala nasional. Misalnya saja bagaimana anak muda menginisiasi gerakan untuk memutus mata rantai eksploitasi anak, menghubungkan generasi muda dengan karier,
meningkatkan kesejahteraan petani, membangun budaya hidup berkelanjutan, dan berbagai isu sosial lainnya.

Selain teruji secara konsisten melakukan gerakan pembaharuan dan telah berdampak sosial, masing-masing Ashoka Young Changemaker juga melewati proses wawancara dengan para panelis independen yang juga merupakan para pemimpin pembaharu di bidang masing-masing. Irfan Amalee, salah satu panelis yang juga seorang wirausahawan sosial pendiri Peace Generation mengapresiasi keberagaman pada Ashoka Young Changemaker 2021, “Diverse dari segi isu maupun strategi”. Sementara Tri Hastuti, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang juga menjadi panelis Ashoka Young Changemaker juga menganggap anak-anak muda ini merupakan generasi penerus bangsa yang luar biasa.  

Salah satu contoh adalah Faye Simanjuntak yang mendirikan dan memimpin Rumah Faye demi memutus mata rantai perdagangan anak dan eksploitasi seksual melalui sistem edukasi peer- to-peer, penyelamatan, dan rehabilitasi. Faye merasa gelisah karena sepertiga kasus perdagangan manusia melibatkan anak-anak, tetapi karena tabu, justru anak-anak tidak dilibatkan dalam pembicaraan mengenai eksploitasi seksual dan pencegahannya. Rumah Faye melalui program pencegahan, penyelamatan, dan rehabilitasinya telah menyelamatkan dan merehabilitasi lebih dari 90 anak.

Hampir sama seperti Faye, Itrin Diana Mozez (15) dari Sumba juga mendisrupsi budaya kekerasan di lingkungannya dengan membangun tempat aman, di mana teman-teman sebayanya dapat mengembangkan hal-hal positif dan berkontribusi bagi kebutuhan masyarakatnya. Komunitas Pitagoras yang Itrin bangun berfokus pada toleransi, pendidikan, dan lingkungan hidup.  Di Jambi, Nuke Aprilia menginisiasi Nukeytalks karena terketuk melihat teman-temannya banyak yang tidak tahu mau pilih jurusan apa atau akan berkarir di bidang apa. Melalui Nukeytalks, baik yang menjadi anggota maupun yang bukan anggota akan dapat mengeksplorasi minat dan beragam karir serta profesi. Sebanyak tiga ribu anak muda telah mendaftar di platform Nukeytalks ini, dan Nuke pun mendapat dukungan dari tim yang mengelola platform ini.

Di Baturaden, Jawa Tengah, Ammara Tahseen (14) mendirikan Batuva untuk  meningkatkan kesejahteraan petani Baturaden melalui edukasi tentang pertanian berkelanjutan dan kewirausahaan.  Besar di kawasan hijau Baturaden, Ammara menyaksikan gagalnya sektor pertanian membawa kemakmuran kepada petani. Di satu sisi, petani menggunakan metode tidak ramah lingkungan dalam bercocok tanam, sehingga merusak alam. Di sisi lain, distribusi dan pemasaran produk pertanian ini juga tidak direncanakan secara strategis. Lewat Batuva, Ammara mengajak para petani bergabung dalam program peer-learning agar mereka dapat belajar satu sama lain tentang peningkatan produksi pertanian.

Sementara itu, Nabila Ishma (19) merupakan anak muda yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Ia mengembangkan CDEF Metamorfosis  guna merangkul anak-anak bermasalah dengan membangun empati, membina pengertian, dan memfasilitasi kebebasan berekspresi. Di sekolah, Nabila melihat bagaimana guru menghukum anak-anak bandel secara verbal maupun fisik. Nabila sadar bahwa kekerasan seperti itu tidak akan menghilangkan kebiasaan buruk mereka. Nabila memberanikan diri untuk berempati dengan anak-anak geng, mendengarkan. ceritanya, dan membuka cara agar mereka dapat bebas berekspresi.

Memupuk kecintaan pada “changemaking” melalui permainan yang seru dan menarik. Inilah yang difikirkan  oleh Azzam Habibullah (19) dari Deli Serdang, Sumatera Utara, yang menaruh perhatian kepada metode belajar sambil bermain, di saat teman-temannya tenggelam dalam permainan online. Azzam menemukan metode mengasyikkan ini dari laporan pendidikan World Economy Forum. Azzam Bersama timnya mendesain sebuah permainan edukatif nan menyenangkan. Melalui permainan ini, para pemain menjadi pahlawan yang berusaha mengalahkan seorang monster, si penyerang kota.

Mematahkan streotipe bahwa sains dan teknologi hanya cocok untuk laki-laki, Catherine (18) dari Jakarta, menginisiasi Girls Learn Code yang merupakan wadah bagi perempuan untuk terhubung dan belajar coding bersama. Sebagai penggemar dan pecinta ilmu eksakta, Catherine jarang menemukan opsi bagi perempuan untuk menekuni dan menyuburkan kesukaan mereka pada coding. Girls Learn Code juga mempertunjukkan project coding teladan hasil karya anggotanya, dan memperkenalkan perempuan-perempuan di industri teknologi dengan maksud menginspirasi remaja perempuan.

Di Jember, Jawa Timur, Syazwan Luftan Riady (14) memulai inisiatif WIS Komunalian dengan fokus membangun pola pikir dan kebiasaan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) di antara pemuda Jember. Komunitas ini ditujukan untuk anak muda berusia 9-20 tahun. WIS Komunalian menyelenggarakan lokakarya eco-brick di sekolah, penelusuran sampah (trash walk), dan karyawisata yang dibarengi dengan edukasi lingkungan. Sebagai usaha untuk memberdayakan komunitas, WIS Komunalian mempergunakan material yang pernah dipakai, didaur ulang, dan disumbangkan kepada kedai WIS untuk diperjualbelikan.

Baca Juga: Tuntungan Ground Board Game: Game Edukasi Lingkungan bagi Anak Milenial

Di Pelaihari, Kalimantan Selatan, Alvian Wardhana (19) merintis kegiatan Literasi Anak Banua guna memajukan edukasi dasar di desa terluar Kalimantan Selatan.  Ia menjalankan Literasi Anak Banua bersama kelima teman dekatnya untuk menyediakan kelas tambahan gratis dua kali sepekan untuk membantu anak-anak mendalami pelajaran akademik maupun non-akademik.

“Yang mereka tampilkan sesuatu yang menginspirasi dan keluar dari zona nyaman,” papar Tri Agung Kristanto, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas yang juga menjadi bagian dari panelis independen Ashoka Young Changemaker 2021. Bagi Tri Agung Kristanto, anak-anak muda ini bisa saja menikmati kenyamanan hidup di usia muda dan tidak perlu peduli dengan masalah di sekitarnya. Tetapi nyatanya, mereka meninggalkan kenyamanannya dan mengusahakan sesuatu bagi mereka yang ditinggalkan atau dipinggirkan.

Program Ashoka Young Changemakers merupakan bagian dari gerakan Everyone a Changemaker yang dibangun oleh Ashoka di seluruh dunia. Gerakan ini bukan memilih anak- anak muda yang luar biasa untuk dirayakan kehebatannya, namun untuk mengajak anak-anak muda lain menyadari kemampuan dan kesempatan mereka sebagai pembaharu sejak usia dini.

Sebagai organisasi yang mengawali gerakan kewirausahaan sosial di dunia, Ashoka melihat bahwa percepatan perubahan dan timbulnya beragam masalah pelik di masyarakat hanya akan dapat teratasi bila setiap orang menjadi pembaharu, memiliki keterampilan sebagai pembaharu, yaitu kemampuan melihat masalah, membangun tim, dan mencari solusi strategis yang memperbaiki keadaan bukan untuk segelintir orang, tetapi semua orang. Kemampuan dan keterampilan ini akan jauh lebih terasah bila disadari sejak masih muda dengan menumbuhkan empati dan dengan mengajak anak-anak muda berlatih menjadi pembaharu. CEO Ashoka Bill Drayton menegaskan, “masalah tidak akan lebih banyak daripada solusi bila setiap orang menjadi pembaharu”.

Ara Kusuma, Koordinator Program Kepemudaan di Ashoka Indonesia yang sejak umur 10 tahun telah menjadi pembaharu bagi para peternak sapi di Boyolali dan baru-baru ini terpilih sebagai National Geographic Young Explorer menegaskan, “menjadi pembaharu butuh keberanian menjadi berbeda. Selain itu, ia juga butuh dukungan, paling tidak dari satu orang”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *