Anak Positif Covid-19, Begini Langkah Isolasi Mandiri yang Tepat

Gaya Hidup Info Sehat 9 Jul 2021 0 102x
Isolasi Mandiri pada Anak

Isolasi Mandiri pada Anak

Data Kementrian Kesehatan per-tanggal 8 Juli 2021 menunjukkan ada penambahan 38.391 kasus positif, 21.185 pasien sembuh, dan 852 pasien meninggal. Jumlah yang terus bertambah ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan yang diterapkan. Pada waktu yang bersamaan, masyarakat perlu menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19.

Angka kasus yang terus melonjak tidak dapat dilepaskan dari munculnya Covid-19 varian baru, yakni varian delta. Tidak hanya orang dewasa dan lanjut usia, kini anak-anak dan remaja pun banyak yang menjadi korban keganasan virus varian baru tersebut.

Masih lemahnya sistem kekebalan tubuh yang dimiliki anak membuat mereka rentan terinfeksi Covid-19. Di tengah situasi tersebut, Siti Nadia Tarmisi selaku Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes dalam konferensi pers yang ditayangkan akun Youtube Sekretariat Presiden (7/7) meminta agar orang tua lebih membatasi aktivitas anak-anak dan meminta agar mereka lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga: IDAI Keluarkan Surat Rekomendasi Vaksinasi Anak

Lantas, bagaimana jika anak-anak sudah terlanjur terpapar Covid-19? Dalam akun instagram @yovitaananta, dijelaskan beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua apabila anak positif Covid-19.

Pertama, orang tua harap untuk tidak panik dan senantiasa memberikan dukungan kepada anak. Jelaskan dengan baik mengenai kondisi dan penerapan isolasi yang harus dilakukan, demi menjaga anggota keluarga dan orang lain tetap sehat.

Kedua, jika orang tua negatif, mereka diperbolehkan mengasuh anak. Namun dengan catatan orang tua harus menghindari paparan air liur dan cairan tubuh lain dari si anak. Selain itu juga usahakan untuk menghindari mencium anak.

Ketiga, jika anak sudah dalam usia remaja, tetap lakukan pengontrolan setiap saat dan berikan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan secara mandiri. Selain itu, apabila di rumah terdapat balkon, lakukan berbagai aktivitas di luar ruangan untuk mengganti suasana.

Keempat, anak cukup diasuh oleh satu orang tua saja apabila memungkinkan. Namun bisa meminta bantuan dari pengasuh atau anggota keluarga lainnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan langkah-langkah yang telah disebutkan sebelumnya.

Disiplin Protokol Kesehatan

Setelah anak selesai melakukan isolasi, orang tua atau pengasuh diwajibkan untuk melakukan isolasi kembali demi menghindari berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Diusahakan untuk tidak mendekatkan anak kepada orang lanjut usia, karena cukup rentan terpapar penularan Covid-19.

Terapkan berbagai protokol kesehatan yang ada di rumah dengan memberikan batasan antara zona pasien dan zona bersih. Bila tidak memungkinkan, berikan jarak minimal 1 meter dengan anak yang terpapar Covid-19. Upayakan mempunyai ventilasi yang baik untuk pertukaran udara. Bila hanya mempunyai satu kamar mandi, anak dianjurkan untuk memakai kamar mandi paling akhir, serta berikan jarak kepada pemakai kamar mandi berikutnya.

Anak usia 2 tahun ke atas dianjurkan untuk memakai masker, namun berikan pula waktu “istirahat masker”  apabila anak sedang di ruangannya sendiri. Masker tidak perlu digunakan pada saat anak tidur. Buanglah masker pada tempat sampah plastik khusus untuk anak dan buang pada tempat sampah yang berbeda.

Baca Juga: Rumah Sakit dan Ruang Isolasi Penuh, Begini Langkah Isolasi Mandiri yang Baik dan Benar

Orang tua atau pengasuh diwajibkan mencuci tangan sebelum dan sesudah berinteraksi dengan anak. Cuci pakaian dan baju pengasuh secara terpisah dengan air hangat dan deterjen. Jangan makan makanan sisa anak atau menggunakan alat makan bekas anak. Terus menjaga jarak dengan anak, termasuk saat tidur. Tetap jaga kesehatan dan minum vitamin demi menjaga sistem kekebalan tubuh.

Tetap lakukan pemantauan pada anak setiap hari, baik pemantauan suhu tubuh, laju napas dan saturasi oksigen (normal 95% atau lebih). Berikan asupan makanan yang bergizi pada anak dan berbagai aktivitas untuk mengurangi tingkat kebosanan. Perhatikan beberapa gejala yang bisa saja muncul sewaktu-waktu, seperti tingkat batuk bertambah, gangguan penciuman, pendengaran, muntah, dan diare.

Lakukan pemantauan 2 kali sehari, yakni pada waktu pagi dan sore. Lakukan pencatatan untuk melihat perkembangan si anak. Lakukan komunikasi dengan tenaga medis, terutama bila terdapat kondisi di luar nilai normal.

Perhatikan berbagai tanda bahaya khusus, seperti kesadaran anak menurun, napas terlihat lebih cepat, saturasi oksigen kurang dari 95%, muntah, dan BAB (ketika tidak ada asupan yang masuk), dehidrasi, kejang, demam disertai mata merah, ruam dan leher bengkak, dan cekungan di dada serta hidung kembang kempis. (Cheny*)

*Mahasiswa magang di Suara ‘Aisyiyah

Tinggalkan Balasan