Anakku Tidak Belajar Mengeja, Tapi Belajar Membaca

Anak Pendidikan Wawasan 14 Sep 2021 0 61x

Oleh: Shoma Noor Fadlillah*

Beberapa hari yang lalu saya terkejut. Anak saya yang sekolah TK kecil membawa pulang buku baca dari sekolah. Buku itu berisi ejaan-ejaan yang teratur; ba-bi-bu…, dan sebagainya. Saya khawatir anak saya akan mengalami hal yang sebelumnya terjadi. Anak saya juga tidak suka pergi mengaji!

Anak saya baru jilid 1 qiroati dan hari ini sudah bosan pergi mengaji. Pasalnya, buku mengaji hanya jajaran huruf dan tidak menyediakan gambar atau cerita. Buku ngaji dan buku baca sama-sama merupakan ejaan-ejaan belaka.

Hanin, anak saya, termasuk tipe naturalis-visual. Dia cenderung menyukai buku bergambar yang memuat cerita-cerita makhluk hidup. Atau menonton video yang ada makhluk hidupnya.

Di saat anak-anak seusianya manut ibu-bapaknya untuk pergi mengaji, saya masih bersitegang dengannya. Saya mendemonstrasikan banyak dampak baik mengaji. Dari bisa pergi beli jajan hingga bisa masuk surga. Dari bisa membalap capaian jilid teman-teman seusianya, sampai dapat iming-iming buku atau unduhan video terbaru dari Rico the series.

Sayangnya, usaha saya gagal karena sekali lagi, dia terlihat bosan. Awalnya anak saya semangat mendengar semua motivasi itu. Tapi setelah sadar bahwa mengaji berarti membaca deretan huruf Hijaiyah, Hanin kembali sadar; tidak mau.

Khawatir saya, Hanin juga akan mogok belajar mengeja. Bukan berarti dia tidak menyukai membaca. Justru saya dan suami kewalahan menuruti keinginannya membeli buku, membacakannya berulang-ulang. Anak kami sangat suka membaca. Bahkan ia mulai menulis kata-kata yang ia sukai. Dan ia sangat hafal teks cerita halaman demi halaman.

Anak Saya Menyukai Retorika

Suatu hari saya sadar Hanin menyukai retorika. Ia dengan mudah menyerap bahasa yang kami ucapkan. Termasuk istilah ilmiah dan agama. Ia bahkan mulai membalikkan kata-kata kami.

Awal pertama saya mengunduh episode Yufid Kids tentang huruf Hijaiyah, anak saya meminta memutar video itu berulang kali. Dia betah mendengarkan karena ada gambar bergerak yang menyenangkan. Kapan hari saat merayunya mengaji, saya pun membuatkan lagu huruf Hijaiyah sendiri, selain menyanyikan ala Upin-Ipin dan Omar Hana.

Baca Juga: Peran Anak dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah

Anak saya mulai menyukai mengaji. Apalagi dalam animasi Omar Hana juga melagukan doa-doa pendek. Hingga akhirnya anak saya mau kembali mengaji di Musala.

Tapi halangan kembali hadir karena untuk mengaji sorogan, dia harus mengantri lama. Dan dia tidak suka mengantri. Saya katakan mengantri itu tidak apa-apa. Banyak hal yang dilakukan dengan mengantri dahulu,  seperti ketika membeli bensin, membeli makanan, dan lain-lain.

Anak saya kembali bertanya, “Kakak mau ngaji, tapi di rumah”. Rupanya anak saya benar-benar memiliki kemampuan retorika.

Membaca Tanpa Mengeja

Setelah terlepas dari beban cemas anak tidak mau mengaji, kini saya dihadapkan dengan beban lain; buku baca dari sekolah.

Saya percaya anak saya bakal bisa membaca. Akan tetapi, dia tidak suka bila harus mengeja dalam buku eja khusus, tanpa gambar, tanpa memuat cerita.

Pada akhirnya, kesepakatan saya dengan anak untuk mengajarinya membaca tanpa mengeja menemukan dasar teori; Montessori. Dalam Montessori, dalam mengajari anak membaca memang benar-benar tanpa mengeja. Alih-alih mengenalkan be-u-de-i, Montessori mengajak anak melakukan kegiatan pra-membaca dan pra-menulis.

Saya dan suami sering melakukan ini. Saat membacakan buku, saya menunjuk kata sambil menyebutkan bunyinya. Selain anak saya menjadi cepat mengerti isi buku, dia juga tertarik pada bentuk-bentuk huruf.

Sementara suami, sering menggambar berbagai jenis dinosaurus lalu menuliskan namanya. Si ayah akan membacakan namanya dan anak kami mengingat-ingat bentuk huruf dari nama tersebut.

Suatu hari, dia menggambar tyrannosaurus dan meminta saya menyontohkan bagaimana cara menulis T-rex di bawahnya. Kini anak kami sudah bisa menulis namanya sendiri juga nama adik. Ia juga tengah belajar membaca dan menulis berbagai kata lain.

Montessori Menstimulus Keterampilan dalam Membaca

Dalam Montessori, berbagai kegiatan bisa dilakukan untuk mengenalkan alfabet. Anak bisa diajak menuliskan dua huruf berbeda di atas pasir setelah sebelumnya kita sebutkan bunyinya. Ketika tangan bergerak, diyakini otak juga ikut merekam memori yang ia dapatkan saat itu. Anak saya biasa membentuk huruf O dengan sapu saat ada genangan di halaman pasca hujan.

Jika sudah menemukan kesenangannya, ia mulai beretorika tentang banyak hal. “Mah, Kakak melukis”. Sambil menyeret ember untuk mengeblok O-nya di halaman.

Atau bisa juga kita ajak anak merasakan bunyi phonic huruf dalam kata melalui lagu untuk kegiatan sehari-hari. Saya pernah bertanya, yang ada huruf ‘R’-nya dalam nama ‘Hanin’ atau ‘Arka’ (nama adik)? Tentu dia menjawab dalam nama si adik. Lalu dia mengulang-ulang nama Arka dengan menebalkan huruf R-nya, “Arrr-ka.”

Saking senangnya menulis dan menggambar dari kata-kata yang ia peroleh, tembok rumah kami menjadi semacam grafiti coretannya. Anak kami menyebut tembok itu sebagai ‘Televisi’. Tentu ia belum mengerti tentang vandalisme dan pasti akan saya bahas sesegera mungkin.

Di luar itu, saya dan suami menikmati masa-masa ini. Ketika anak saya belajar membaca dengan gembira. Tanpa target ketuntasan sekian hari sekian halaman. Saya menjadi makin percaya diri saat anak-anak seusianya tamat mengeja, anak saya mungkin menemukan ide-ide di balik membaca.

* Guru MI Muhammadiyah, Jatikulon, Kudus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *