Ancaman Identitas Kebangsaan di Era Global (1)

Liputan 17 Aug 2020 0 61x

Sumber Ilustrasi : brainly.co.id

Memasuki era globalisasi, identitas diri suatu bangsa menjadi cair. Terlebih ketika teknologi internet mulai menjalar hampir di seluruh penjuru dunia. Seperti yang diungkapkan oleh Dyah Ayu Anggraheni Ikaningtyas, dosen Universitas Negeri Yogyakarta bahwa saat ini, budaya asli Indonesia mulai tertutup dengan hal-hal yang berbau “kekinian”. “Kalau menurut saya pemuda jaman sekarang itu latah jadi ketika satu memunculkan model apa yang lain ikut. Jadi mereka nggak bisa mempertahankan identitas dirinya sendiri,” ujarnya.

Identitas ke-Indonesiaan sendiri memiliki indikator sendiri. Dr. H. Abdul Mu’ti, M. Ed, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjelaskan bahwa dalam Undang-undang Dasar 1945, kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah yang merupakan kebudayaan asli bangsa Indonesia. dari pengertian tersebut bisa dimaknai bahwa ada dua makna penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, kebudayaan nasional adalah keseluruhan yang terdiri atas budaya daerah. Kedua, kebudayaan daerah adalah kebudayaan aseli suku-suku dan etnis yang ada di Indonesia. Abdul Mu’ti menambahkan bahwa masing-masing suku memiliki kekhasan budaya yang berbeda dengan suku yang lainnya. Kebudayaan suatu suku sendiri lahir sebagai buah dari interaksi manusia dengan alam sekitarnya, pandangan dunia, dan idealisme tentang hidup dan kehidupan. 

Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Dyah bahwa identitas ke-Indonesiaan tidak bisa dirangkum karena setiap suku yang ada di Indonesia memiliki identitasnya masing-masing. Misalnya saja dari sisi identitas pakaian, tidak dibenarkan apabila menyebut bahwa budaya Indonesia adalah kebaya. Karena pemikiran ini nantinya akan meliyankan Papua yang memiliki pakaian adat koteka. 

Dalam perkembangannya, Abdul Mu’ti menjelaskan, pengertian kebudayaan nasional menjadi sangat kompleks. Di satu sisi dia merupakan adopsi budaya suatu daerah. Kebudayaan Jawa dalam bentuk tulisan, bahasa, tarian, bangunan, dsb. dapat disebut sebagai budaya Indonesia. Begitu pula dengan budaya Minangkabau, Batak, Bali dan lain-lainnya. Pada sisi yang lain, kebudayaan nasional adalah perpaduan atau pembauran antara berbagai budaya daerah yang terjadi melalui proses alamiah, seperti pernikahan, pekerjaan, dan proses pembauran lainnya. Dalam perkembangan yang lebih luas, kebudayaan nasional juga menyerap budaya-budaya yang berasal dari luar suku-suku aseli Indonesia, misalnya budaya Arab, Cina, India, Eropa dan sebagainya. Salah satu hal yang sangat menonjol dalam budaya nasional adalah pembauran baik dalam bentuk adopsi, akulturasi maupun asimilasi. “Bahkan apa yang kita sebut budaya aseli sekalipun, dalam beberapa hal merupakan percampuran. Budaya Jawa misalnya, sangat kuat dipengaruhi Islam, terutama setelah perkembangan Kerajaan Demak dan Mataram Islam.”

Jika merunut pada pengertian Koentjaraningrat, budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Maka, perubahan budaya suatu masyarakat niscaya mengalami perubahan karena masyarakat juga mengalami perubahan. Seperti yang diungkapkan Abdul Mu’ti bahwa ciri kebudayaan adalah adanya keterbukaan dan voluntary. Kebudayaan setiap bangsa mengalami perubahan, baik dalam pengertian positif atau negatif. Perubahan yang negatif merusak nilai-nilai yang baik dan unggul dalam suatu masyarakat. Misalnya saja, budaya gotong-royong yang tergerus oleh individualisme, tepa selira yang tergerus oleh egoisme, dan sopan-santun yang hilang karena pragmatisme. 

Pada mulanya para kyai di kalangan pesantren menolak penggunaan atribut pakaian seperti jas dan dasi karena identik dengan “pakaian kafir”. Abdul Mu’ti menambahkan bahwa Muhammadiyah sendiri mengadopsi sistem pendidikan Barat dan membentuk organisasi modern untuk memajukan umat Islam dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang aseli dan akidah yang murni. Pada saat yang sama, Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah memakai sorban (Arab), beskap dan jarit (Jawa) tetapi tetap teguh menjalankan Syariat Islam. Lagi pula, saat ini bisa kita temui banyak kyai yang berpenampilan ala barat namun tetap dengan berpegang teguh pada ajaran Islam. “Sekarang kita menyaksikan banyak muslimah berjilbab mengenakan celana jeans menyanyikan lagu pop Barat dengan bahasa Inggris yang fasih. Jilbab adalah wujud ketaatan menutup aurat sedangkan jeans dan lagu Barat adalah bentuk keterbukaan terhadap budaya luar,” paparnya.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pada dasarnya perubahan kebudayaan adalah sebuah keniscayaan. Di dalam tradisi Islam, terdapat kaidah usul al-fiqh: al mufadhatu ala al-qadim al-shalih wal-ahdlu ala al-jadid al-ashlah: memelihara hal-hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Jadi di dunia ini tidak ada satupun bangsa yang tidak berubah, tetapi perubahan tersebut tidak meninggalkan identitas utama budaya aseli.

Bersambung ke Ancaman Identitas Kebangsaan di Era Global (2) 

Leave a Reply