Ancaman Identitas Kebangsaan di Era Global (2)

Liputan 17 Aug 2020 0 72x

Sumber Ilustrasi : bersabda.com

Lanjutan dari Ancaman Identitas Kebangsaan di Era Global (1)

Sejarah Panjang Globalisasi

Mau tak mau, adanya globalisasi harus diakui sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan perubahan kebudayaan suatu bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Abdul Mu’ti sendiri menilai bahwasannya globalisas bisa dimengerti sebagai bentuk interaksi manusia antara etnis, suku, dan agama. Globalisasi terjadi jauh sebelum manusia mengenal dan membentuk negara modern. Abdul Mu’ti menerangkan misalnya dalam sehara Islam, Nabi Ibrahim berhijrah dari Palestina ke Mekah. Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israil, yang semula tinggal di Palestina berdiam di Mesir. Nabi Muhammad dan para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah dan membangun peradaban baru. 

Abdul Mu’ti menjelaskan pada dasarnya Islam sendiri merupakan agama global. Di dalam al-Qur’an, ditegaskan adanya perbedaan rasial dan etnisitas yang menjadi bukti kebesaran Allah. Pluralitas adalah ayat-ayat Allah. Lebih jauh Islam mengajarkan pentingnya manusia yang berbeda-beda saling ber”taaruf” yakni saling mengenal, menghormati, belajar dan berbuat baik. Supremasi suatu bangsa ditentukan oleh kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan, bukan geneologi nasab, kesukuan atau kebangsaan. 

Dalam konteks sejarah Nusantara, Abdul Mu’ti menerangkan bahwa bangsa Tionghoa membangun relasi bisnis dan politik dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatera dan Jawa. Sejarah mengungkap bagaimana relasi diplomatik kerajaan Sriwijaya dengan dinasti-dinasti yang ada di China. Masuknya Agama-agama besar dunia seperti Hindu, Budha dan Islam adalah buah globalisasi. Agama Hindu dan Budha masuk ke Nusantara karena kedatangan orang-orang India. Masuknya Islam di Nusantara dibawa oleh para pebisnis dari Gujarat dan Persia dan Arab.

Sejarah Islam dan jejak-jejak bangsa Tionghoa di Jawa banyak terkait dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho ke beberapa tempat termasuk ke Semarang. Masuknya  Agama Kristen dan Katolik tidak dapat dilepaskan dari kehadiran dan interaksi orang-orang Eropa dengan masyarakat nusantara. Interaksi manusia antar bangsa di Nusantara melahirkan berbagai bentuk kebudayaan dan peradaban yang unik. Tidak hanya makanan, pakaian, bahasa dan Agama, bahkan percampuran antar bangsa terjadi secara alamiah melalui perkawinan. Ibunda Raden Fatah, sultan pertama kerajaan Islam Demak, dikabarkan berasal dari Cham, Kamboja. Era globalisasi terus berlangsung hingga massa kolonialisme/imperialisme. 

Dyah menjelaskan bahwa sejatinya globalisasi berkaitan dengan dunia internasional dan telah berlangsung sejak lama. Pada perkembangannya, keberadaa jaringan internet mempermudah proses globalisasi tersebut. Serupa yang dijelaskan oleh Abdul Mu’ti bahwa proses globalisasi mengalami percepatan serta interaksi yang kompleks sejak dalam konteks modern berkembangnya teknologi informasi, komunikasi dan trasportasi. Manusia antar bangsa dapat berinteraksi dengan lebih ekstensif melalui internet. Kemajuan teknologi transportasi memungkinkan manusia melakukan mobilitas antar negara dengan cepat. Interaksi tersebut tidak netral dan bebas nilai karena masing-masing individu memiliki karakter, kepribadian, budaya dan agama yang berbeda-beda.

Sampai pada titik ini, globalisasi berlangsung alamiah, suka reka dan tidak ada masalah. Berbagai persoalan muncul ketika globalisasi menjadi gerakan sistematis dan direkayasa sebagai sarana untuk menunjukkan superioritas suatu bangsa dan negara dengan segala identitas budayanya kepada bangsa lain. “Globalisasi menjadi alat hegemoni dan melahirkan kolonialisme baru terutama dalam bidang kebudayaan. Radikalisme, fundamentalisme, rasisme dan bentuk-bentuk reaksi negatif terhadap unsur asing adalah ekses dari globalisasi sebagai gerakan sistematis, arus yang digerakkan dengan berbagai kebijakan oleh kelompok yang kuat terhadap yang lemah,” pungakasnya. (d)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah 

Leave a Reply