Antara Takdir dan Ikhtiar

Hikmah 12 Apr 2021 0 47x
Antara Takdir dan Ikhtiar

Antara Takdir dan Ikhtiar

Oleh: Muhsin Hariyanto

Hingga kini masih banyak orang yang mempertanyakan hubungan antara takdir dan ikhtiar. Bahkan ada yang berpendapat bahwa ikhtiar manusia tidak akan mengubah apapun pada dirinya karena Allah sudah menetapkan takdirnya. Dalam pendapat ini, segala sesuatu yang terjadi pada manusia sudah ditentukan sejak zaman azali, termasuk kematian, rezeki, keberuntungan, kegagalan, kebahagiaan dan kesengsaraan di dunia, dan sebagai ahli surga atau ahli neraka. Kalau demikian halnya, apa arti usaha manusia?

Sebaliknya, ada juga yang berpendapat bahwa ikhtiarlah yang akan menentukan takdir Allah bagi diri kita. Nasib kita bergantung pada ikhtiar kita. Untuk menjawabnya, mari kita cermati dua kisah berikut ini.

Menyelamatkan Diri dari Wabah

Pertama, dikisahkan, bahwa ketika terjadi wabah penyakit sedang berjangkit di Negeri Syam, Umar bin al-Khaththab r.a. sebagai khalifah pada saat itu, berketetapan untuk mengurungkan niatnya ‘pergi’ ke wilayah itu, seraya berkata kepada para sahabatnya, “Besok pagi-pagi aku akan kembali (pulang) ke Madinah, dan mengurungkan niat saya untuk berkunjung ke negeri Syam. Oleh karena itu, bersiap-siaplah kalian!”

Mendengar ucapan Umar saat itu, salah seorang sahabatnya Abu ‘Ubaidah bin Jarrah bertanya kepadanya, “Apakah kita hendak lari dari takdir Allah?” Seketika Umar pun menjawabnya, “Mengapa kamu bertanya demikian, hai Abu ‘Ubaidah?” Untuk menghindari perdebatan dengan sahabatnya, Umar pun segera menjawab pertanyaan sahabatnya itu, “Ya, kita akan lari dari satu takdir Allah untuk menuju ke takdir Allah yang lain.”

Selanjutnya, Umar pun bertanya kepada Abu Ubaidah, “Wahai Abu Ubaidah, bagaimana pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta, lalu engkau turun ke lembah yang mempunyai dua sisi. Satu lembah subur dan yang lain tandus. Bukanlah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau menggembala dengan takdir Allah, dan jika engkau menggembala di tempat tandus engkau pun menggembala dengan takdir Allah juga? Lembah manakah yang engkau pilih?”

Di tengah perbincangan Umar dengan Abu Ubaidah, tiba-tiba datang sahabatnya yang lain, Abdurrahman bin ‘Auf. Ia  pun berkata, “Aku mengerti masalah ini. Aku mendengar Rasulullah saw. pernah bersabda: Apabila kamu mendengar (ada) wabah berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, maka janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri.”

Setelah mendengar pernyataan Abdurrahman itu, akhirnya Umar ‘mantap’ dengan keputusannya, seraya mengucapkan tahmid.” (Lihat, Hadis Riwayat Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a., Shahîh Muslim, juz VII, hlm. 29, hadis no. 5915)

Ikhtiar dan Tawakkal

Kedua, dalam riwayat lain dikisahkan, Anas bin Malik r.a. menyatakan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw., “Saya memiliki seekor unta betina yang akan kutinggal pergi. Sebelum aku pergi, apakah unta betinaku itu kuikat dahulu, lalu aku bertawakkal kepada Allah atau boleh kulepaskan (begitu saja) tanpa kuikat, karena aku benar-benar ingin bertawakkal kepada Allah?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, Beliau (Rasulullah saw.) pun bersabda: “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah kepada Allah” (Lihat, Hadis Riwayat At-Tir-midzi dari Anas bin Malik r.a., Sunan at-Tirmidzi, juz IN, hlm. 668, hadis no. 2517)

Antara Takdir dan Ikhtiar

Kedua riwayat tersebut di atas menjelaskan tentang rasionalitas Islam dalam masalah takdir dan ikhtiar. Takdir adalah ketetepan Allah yang terkait dengan sebab-sebab yang melahirkan akibat. Ikhtiar adalah upaya untuk meraih atau mencari sebab-sebab yang menjadi ketetapan Allah. Oleh karena itu, Rasulullah dan Umar bin al-Khaththab r.a. (keduanya) menjelaskan, bahwa ikhtiar dan tawakal adalah dua hal yang harus dimiliki oleh setiap orang yang berharap untuk meraih takdir Allah.

Takdir adalah rangkaian ketetapan Allah yang bersifat ‘pasti’ mengandung sebab dan akibat, yang dalam beberapa kasus bisa kita pahami sebab-sebab keberadaannya (mukhayyar), dan dalam kasus yang lain tersembunyi sebab-sebabnya (mubram).

Setiap orang, kata para ulama, berhak untuk berharap ‘mendapat sesuatu’ dari ikhtiarnya. Oleh karena itu, setiap orang harus berikhtiar dengan seluruh kemampuannya untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Dengan kata lain, setiap orang berkewajiban untuk berikhtiar, dengan tetap sadar sepenuhnya bahwa hasil dari setiap ikhtiar yang dilakukan dengan seluruh kemampuannya bergantung pada kehendak Allah. Hal ini karena kita tidak dapat memastikan terjadinya akibat dari sebab-sebab yang kita ikhtiarkan.

Setiap manusia harus menyadari bahwa dengan keterbatasan dirinya untuk berupaya, dia harus selalu menyerahkan diri sepenuhnya pada keputusan Allah. Manusia hanya dapat berusaha dan Allahlah yang menentukan hasil dari setiap usahanya. Kewajiban kita sebagai hamba Allah  adalah berikhtiar untuk menggapai takdirnya, baik dalam pengertian lahiriah maupun batiniah.

Ketika kita beriman kepada takdir Allah, bukan berarti ‘kita’ harus menafikan ikhtiar. Sebaliknya, justru dengan beriman kepada takdir Allah, kita akan terdorong untuk bersungguh-sungguh meraih apa yang kita inginkan dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak kita inginkan dengan ikhtiar kita. Sebaliknya, setiap ikhtiar yang kita lakukan akan memberikan harapan pada diri kita untuk meraih takdir-Nya. Wallâhu a’lamu bish-shawâb.

Tinggalkan Balasan