Antropologi Perang Orang Arab

Wawasan 27 Sep 2021 0 69x
Tari Ardah

Tari Ardah

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari

Terminologi Ayyamu l-‘Arab adalah inti dari antropologi perang orang Arab. Frase Ayyam l-Arab secara harfiah memang artinya hanya “hari-hari orang Arab” seperti halnya hari-hari dalam pengertian biasa, seperti al-Isnain (Senin), al-Tsulatsa (Selasa), al-Arbi’a (Rabu), dan seterusnya itu. Tetapi secara istilahi (terminologi) tidaklah demikian. Dalam Lisan al-Arab (the tongue of Arab), misalnya, Ayyamu l-Arab bukan hanya berarti hari-hari biasa seperti itu, melainkan berarti hari-hari peperangan.

Mungkin terminologi ini terlalu dramatis dan hiperbolis, oleh karena mana mungkin setiap hari mereka berperang tanpa jeda sehingga saking banyaknya terjadi peperangan sampai setiap hari berperang tiada henti? Tentu saja tidak demikian. Apalagi orang-orang Arab sejak lama sebelum Islam juga sudah mengenal bulan-bulan suci yang terlarang berperang di bulan-bulan tersebut, yaitu bulan Muharram, Rajab, Dzulhijjah, dan Dzulqaidah. Orang Arab memegang teguh kode etik perang ini, yaitu dilarang berperang pada keempat bulan tersebut.

Baca Juga: Tradisi Keilmuan Arab: Dulu dan Kini

Tradisi tidak berperang di empat bulan haram tersebut kemudian diadopsi dan diabadikan dalam Islam. Empat bulan tersebut setelah era Islam dijadikan sebagai bulan-bulan haram (al-syahru al-hurum الشهر الحرم)  ))  yang biasa diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi bulan-bulan suci (haram, حرام). Dalam Q.S. al-Taubah: 36, empat bulan tersebut disebut dengan “Minha arba’atun hurum, dzalika l-dinu l-qayyim” (منها اربعة الحرم ذلك الدين القيم  ), yang artinya “di antaranya ada empat bulan haram, itulah ketentuan agama yang lurus).

Walhasil secara istilahi frase ayyam al-Arab ini telah menjadi terminologi yang menunjukkan arti sebuah narasi yang berisi catatan-catatan peperangan antar suku atau kabilah pada masa Arab kuno. Singkatnya, ayyam al-‘arab adalah “Kisah tentang perang antar suku-suku Arab pra-Islam”.

Pada masa Jahiliyah ada 64 hari (yaum) yang dapat dimasukkan dalam Ayyam l-Arab (perang) dengan 84 perincian (lihat Mohammad Abu l-Fadhl Ibrahim, Ali Mohammad al-Bajawi, dan Mohammad Abu Fadl Ibrahim, Ayyam al-‘Arab fi l-Jahiliyah (Dar l-Jaili, Beirut, 1408 H./1988 M. Juga Abu Ubaidah Ma’mar bin al-Matsna al-Taimy, Ayyamu l-Arab qabla Islam, Alamu al-Kutub, Beirut, 1424 H/2003 M). Kisah tentang perang dalam Ayyamu al-Arab tersebut dinarasikan dalam bentuk syair dan cerita rakyat.

Adapun pada masa Islam, seperti dituturkan dengan sangat memikat oleh Mohammad Abu l-Fadhl Ibrahim dan Ali Mohammad al-Bajawi, ada 64 ayyam l-Arab yang dimulai dari Perang Badar (Yaum al-Badr) sampai Perang Hasyimiyah (yaum al-Hasyimiyah) pada masa Abu Ja’far al-Mansur di masa Abbasiyah. Tetapi perang di masa Islam yang tersebut terakhir ini tidak menjadi topik tulisan ringan ini.

Tetap Soal Sumber Daya

Kembali kepada antropologi perang Arab. Tentu ayyamu l-Arab pada mulanya adalah sastra lisan. Sebagai bangsa yang secara antropologis memiliki tradisi lisan yang sangat kuat maka bangsa Arab juga dikenal dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Sudah biasa bagi orang Arab, terutama para panyair, hafal ratusan bahkan ribuan syair. Tradisi menghafal yang sangat kuat itu tumbuh dan lestari karena ditopang oleh tradisi menghormati para penyair karena hafalannya dan indahnya syair-syair mereka. Bangsa Arab akhirnya dikenal sebagai bangsa yang sangat menjunjung tinggi para penyair dan orator (khatibu l-khuthoba’).

Sampai sekarang ini televisi-televisi Arab banyak menyajikan tayangan khusus yang berisi pembacaan-pembacaan syair. Persis seperti orang berbalas pantun dalam tradisi Melayu di Sumatera Barat dan Riau, para peserta berbalas syair secara bergantian. Kadang pembacaan itu secara dilagukan, seperti menyanyi dengan atau tanpa diiringi musik sederhana, kadang hanya seperti pembacaan deklamasi. Yang menarik adalah para peserta bersyair secara bergantian seolah-olah seperti dialog tetapi mereka bersyair tanpa membaca teks. Walhasil, mereka hafal di luar kepala.

Memang demikianlah yang dikisahkan. Perang Arab kuno konon selalu melibatkan semua anggota suku-suku yang bersengketa, termasuk perempuan, bahkan juga para penyair. Kaum perempuan berada di barisan belakang menjadi penyedia logistik makanan dan minuman, dan para penyair di tengah-tengah pasukan membacakan syair-syair tentang keberanian di tengah-tengah dentingan pedang beradu. Fungsinya adalah membakar semangat dan menggelorakan keberanian demi untuk memenangkan peperangan.

Baca Juga: Mengkaji Turats Islami sebagai Refleksi Sekarang dan Masa Depan

Pasalnya, kemenangan peperangan berarti tersedia dan terjaminnya sumberdaya kehidupan bukan hanya bagi dirinya melainkan juga bagi keluarga, anak dan cucu semuanya tanpa terkecuali. Dengan kemenangan maka sebuah suku atau kabilah akan menguasai akses ke oase dan padang rumput, dan itu berarti jaminan bagi hidupnya dan berkembang biaknya hewan ternaknya. Maka peperangan di dunia Arab bukan hanya memunculkan sejumlah pahlawan lokal dari suku-suku pemenang, melainkan juga penyair perang sebagai hero yang sangat dihormati. Para penyair bukan hanya bertindak sebagai orator, melainkan juga sekaligus narator.

Walhasil, seperti yang juga dipaparkan oleh Philip K. Hitti, profesor Sastra Semit dan Bahasa-Bahasa Timur dari Universitas Princeton, seorang Arab kelahiran Lebanon, dalam magnum opus-nya History of the Arab (1937) yang nyaris telah menjadi klasik itu. Ayyam al-‘Arab merujuk pada peperangan antarsuku yang terjadi akibat sengketa seputar hewan ternak, padang rumput, atau mata air akibat dari keterbatasan sumber daya alamnya yang tandus: suatu sumberdaya (resources) yang sangat vital dan strategis kala itu.

Juga Tari Perang      

Narasi perang tersebut tidak sendirian, melainkan dilengkapi dengan ekspresi budaya lainnya, yaitu Tari Perang, Dalam antropologi perang bangsa Arab juga ada Tari Ardah yang sangat terkenal di simenanjung Arabia. Tari Ardah (‘ardhah, عرضة) adalah tari-tarian peperangan yang dimaksudkan untuk menunjukkan atau menampilkan kekuatan dan kemampuan berperang bangsa Arab. Tak heran jika Tarian Ardah juga disebut Tari Pedang atau kadang-kadang Tari Perang. Dalam Tari Pedang ini semua pelakunya memegang pedang yang terhunus di tangan.

Di simenanjung Arab, khususnya Arab Saudi, tarian ini sampai sekarang sangat-sangat digemari dan biasa dijadikan sebagai salah satu acara terpenting ketika menerima tamu-tamu negara yang dianggap sebagai tamu kelas satu yang sangat khusus dan istimewa (VVIP). Presiden-presiden Amerika Serikat seperti Presiden Ronald Reagan, Presiden George Bush, dan Presiden Donald Trump ketika melakukan kunjungan kenegaraan di Arab Saudi selalu diacarakan untuk mendendangkan tari ini bersama Raja-Raja Arab Saudi, seperti Raja Fahd, Raja Abdullah, dan Raja Salam yang sekarang ini beserta petinggi kerajaan lainnya.

Baca Juga: Dunia Islam antara Ada dan Tiada (1)

Biasanya momen istimewa seperti ini disiarkan secara luas lengkap dengan foto dan videonya ke seluruh media dunia karena nilai politiknya yang sangat tinggi dengan segala magnitude-nya. Publik internasional akhirnya tahu betapa erat dan istimewanya hubungan Kerajaan Arab Saudi dan Amerika Serikat itu. Pasalnya, tidak semua tamu-tamu negara tingkat tinggi dari negara lain yang melakukan kunjungan resmi kenegaraan ke Kerajaan Arab Saudi diacarakan untuk menari Tari Ardah ini bersama Raja.

Para penari Pedang ini masing-masing memegang pedang yang terhunus dan disandarkan ke bahu. Mereka kemudian bergerak pelan dan tenang sesuai dengan irama musik yang mengiringinya  sambil menggeser-geserkan dan menggesek-gesekkan punggung pedang yang mengkilap (kinclong) karena saking tajamnya itu di bahu kanan masing-masing. Tak terbayangkankan oleh saya bagaimana ketatnya protokoler yang dipersiapkan untuk mengamankan momen-momen budaya politik (politico-culture) dalam dendang tari-tarian yang penuh dengan kilatan pedang ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *