Kesehatan

Apa Itu HIV?

Kesehatan

Oleh: Dhesi Ari Astuti*

Dari segi peristilahan, HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency viruses, yakni ‘virus penyebab berkurang atau hilangnya kekebalan tubuh manusia’. Virus ini menyebabkan penyakit AIDS (acquiered immunodeficiency syndrome, ‘sindrom akibat kelemahan kekebalan tubuh’). HIV termasuk dalam kelompok retrovirus. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan mengalami infeksi seumur hidup.

Kebanyakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap asimtomatik (tanpa tanda dan gejala) untuk jangka waktu lama. Meskipun demikian, sebetulnya mereka telah dapat menulari orang lain. Arti istilah acquired (A) dalam AIDS yaitu ‘didapat’; immune (I) ‘sistem daya tangkal atau kekebalan tubuh terhadap penyakit’; deficiency (D) ‘tidak cukup atau kurang’; dan syndrome (S) berarti ‘kumpulan tanda dan gejala penyakit’.

AIDS adalah kelanjutan dari infeksi HIV. AIDS merupakan kumpulan gejala menurunnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV berjalan sangat progresif dalam merusak sistem kekebalan tubuh. Orang yang terinfeksi tidak dapat menahan serangan infeksi jamur, bakteri atau virus. Kebanyakan ODHA akan meninggal dalam beberapa tahun setelah tanda pertama AIDS muncul bila tidak diberi pelayanan dan terapi medis (Keliat, 2014; Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2013; Kemenkes RI, 2005).

Bagaimana Terjadinya Penularan HIV?

Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual; pajanan oleh darah, produk darah, atau organ dan jaringan dari orang yang terinfeksi; juga Penularan dari Ibu ke Anak (PIA). Kasus HIV melalui PIA merupakan tantangan utama di negara berkembang (Becquet dkk., 2009; Goals, 2015). Untuk mengatasinya, telah dilakukan program Pencegahan Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak (PPIA) yang menjadi andalan selama lebih dari 20 tahun.

PPIA ini dalam pelaksanaannya mengoptimalkan praktik profilaksis (Hurst dkk., 2016). Akan tetapi, meskipun telah ada penggunaan profilaksis antiretroviral oleh ibu hamil yang positif terinfeksi HIV, lalu ada praktik kebidanan yang aman serta kebiasaan menyusui yang aman dalam rangka PPIA, kasus penularan HIV dari ibu ke anak itu masih saja memiliki prevalensi yang tinggi untuk terjadi (Becka dkk., 2015; Goodenough, Christopher J, Kunjal Patel, 2015).

Bagaimana Perkembangan HIV di Indonesia?

Berdasarkan data tahun 2013, kasus HIV/AIDS di Indonesia telah tersebar di 368 (72%) dari 497 kabupaten/kota di semua provinsi. Jumlah kasus HIV baru setiap tahunnya mencapai sekitar 20.000. Pada tahun 2013 tercatat 29.037 kasus baru, dengan 26.527 (90,9%) terjadi pada usia reproduksi (15-49 tahun) dan 12.279 orang di antaranya adalah perempuan.

Kasus AIDS baru pada kelompok ibu rumah tangga sebanyak 429 (15%) dan bila kelompok ini mengalami kehamilan, mereka berpotensi menularkan HIV ke bayinya. PIA akan terjadi setidaknya pada satu dari sepuluh ibu hamil yang positif mengidap HIV walaupun PPIA telah dioptimalkan, misalnya melalui profilaksis untuk pencegahan transmisi (Kassa, 2018a); (Kemenkes RI, 2015).

Bagaimana Pencegahan HIV dari Ibu ke Anak?

Program PPIA HIV/AIDS merupakan salah satu bentuk perhatian Pemerintah Indonesia sejak 2004 terhadap ibu hamil. Perhatian itu tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan Human Immunodeficiency Virus, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak.

Peraturan itu bertujuan untuk memutus penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak; menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat HIV, sifilis, dan hepatitis B pada ibu dan anak; dan memberikan acuan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lain dalam penyelenggaraan eliminasi penularan. Penyelenggaraan eliminasi penularan dilakukan melalui kegiatan seperti promosi kesehatan, surveilans kesehatan, deteksi dini, dan/atau penanganan kasus (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan, 2017).

Baca Juga: Mengenal dan Mencegah Hepatitis

Keberhasilan upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak terlepas dari peran serta jaringan akademisi, pengambil keputusan, dan komunitas. Mereka bersama-sama menyusun strategi dan mengimplementasikan penanggulangan infeksi HIV, serta menilai hasil penanggulangan tersebut. Di Indonesia upaya penanggulangan infeksi HIV menunjukkan hasil yang menggembirakan meskipun sejumlah kendala masih harus diatasi.

Beberapa permasalahan yang masih harus diatasi yaitu (1) upaya peningkatan pemahaman masyarakat tentang infeksi HIV, cara penularan dan pencegahannya; (2) peningkatan jumlah tes HIV untuk masyarakat; (3) penyelenggaraan layanan HIV yang terintegrasi, tidak terpisah, dan eksklusif sehingga dapat menurunkan stigma terhadap penderita HIV/AIDS; (4) upaya menumbuhkan pemahaman dari semua tenaga kesehatan dan dukungan berbagai disiplin ilmu dalam penanggulangan infeksi HIV; (5) upaya distribusi tes HIV serta obat antiretroviral (ARV) secara merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat; (6) pengoptimalan peran pihak swasta dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS (Kemenkes RI, 2019).

* Pengajar Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *