Apresiasi Seni pada Zaman Nabi Muhammad saw

Hikmah 10 Jul 2020 0 158x

Oleh : Sukriyanto A.R. (Ketua Lembaga Seni Budaya Olahraga PP Muhammadiyah)

Sampai saat ini, di kalangan umat Islam, masih banyak yang menganggap bahwa seni adalah barang haram. Akibatnya, seni harus dijauhi. Hal itu tentu sangat memprihatinkan karena sebenarnya seni dapat mendatangkan suasana indah, nyaman, menghaluskan rasa, dan menumbuhkan kreativitas serta dinamika kehidupan. Pandangan mengharamkan seni disebabkan karena keterbatasan dalam memahami Islam. Sebagian orang memahami Islam secara parsial. Misalnya, hanya dari sudut pandang teks-teks saja, fikih saja, tasawuf saja, atau filsafat saja.

Jika Islam dipahami secara utuh, dari berbagai sudut pandang; dengan bayani, burhani, dan irfani; dari aspek normatif dan historis; memperhatikan tujuan Allah menciptakan manusia; tujuan mengutus rasul-rasulNya, menurunkan agama (petunjuk, hidayah, dan maqasidu ad-din); serta dari sudut pandang sejarah (pengamalan Islam pada masa Nabi); tentu hasilnya akan lain. Wawasan keislaman tentang seni akan dipahami lebih luas.

Tulisan pendek ini berusaha melihat bagaimana apresiasi seni pada masa Nabi Muhammad saw., khususnya dari aspek sejarah. Ketika Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar hijrah ke Madinah (Juni tahun 622 M), kaum Anshar (warga Madinah) menyambut kedatangan Nabi dan Abu Bakar dengan lagu “Thala’al badru ‘alaina” dalam suasana penuh kesyukuran dan kegembiraan. 

Respons yang didapat sangat positif. Nabi tidak melarang. Nabi bergembira dan bergabung dengan warga Madinah. Selama Nabi masih hidup, lagu “Thala’al badru ‘alaina” tidak pernah dilarang. Bahkan, sampai sekarang, lagu itu terus dinyanyikan oleh umat Islam.

Ketika terjadi peperangan, umum-nya para sahabat membaca syair yang menimbulkan semangat dan keberanian. Menjelang perang Badr, ketika akan terjadi perang tanding, Ali juga bersyair untuk membangkitkan semangat jihad. Selain itu, pada waktu kerja bakti menggali parit menjelang Perang Khandaq (al-Ahzab) pada bulan Syawal tahun 5 H; Nabi bersama para sahabat bersyair bersahut-sahutan untuk saling menyemangati menggali parit. Seni (sastra dan syair) digunakan untuk menumbuhkan semangat jihad, menyatukan langkah, menggali parit (khandak) untuk mempertahankan agama.

Sebagaimana disebutkan kembali oleh M. Natsir dalam bukunya ‘Fiqhu-adDakwah’ (hlm. 92-94), Nabi bersyair yang mengandung doa sebagai berikut:

آللة لولا انت ما اهتدىنا  

Allahu laula anta mahtadaina

“Wahai Allah, seandainya bukan kerahimanMu, tidaklah kami mendapat petunjuk,”

ولا تصدققنا ولا صلينا

Wala tashadaqna wala shallaina

“Tidak pula kami bersedekah dan tidak pula kami melakukan (ibadah) salat“

فانزلن سكينة علينا

Fa anzilan saki-natan ‘alaina

“Karena itu (wahai Tuhan kami), turunkanlah (berilah) ketenangan (atas) jiwa (hati) kami”

وثبت الاقدام ان لا قينا

Watsabitil aqda-ma in laqaina

“Dan teguhkanlah (kokohkan) pendirian (sikap) kami bila (nanti kami) bertemu (berhadapan) dengan musuh”

والمشركون قد بغوا علينا

Wal musyriku-na qad baghau ‘alaina

“Sesungguhnya orang-orang musyrik sudah mendurhakai kami”

وان ارادوا فتننة ابينا

Wa in ara-du- fitnatan abaina

“Bila memang fitnah sengketa (perang) mereka inginkan, berpantang kami menyerah kalah”

Maka, para sahabat Anshar dan Muhajirin yang sedang kerja bakti berseru dengan gemuruh penuh semangat, “abaina, abaina” (kami pantang menye-rah kalah, kami pantang menyerah kalah).

Ketika mereka menyaksikan Rasulullah saw. bercucur keringat mengu-sung tanah di punggungnya, para sahabat berseru sekaligus bersumpah:

نحن الذين با يعوا محمدا

Nahnulladzi- ba-ya’u- Muhammadan

“Kami telah berbaiat dengan Muhammad,” 

على الجهاد ما حينا ابدا

‘Alal jiha-di ma hayi-na abadan

“Selama-lamanya berjihad (memperjuangkan agama)”

Sumpah para sahabat itu disambut kembali oleh Rasulullah saw. dengan penuh haru, beliau bersyair yang me-ngandung doa:

الهم ان العىش عىش الاخرة

Allahumma inna ‘aisya aisyul a-khirah

“Wahai Tuhan kami, hidup yang sebenarnya adalah hidup di akhirat.”

فاغفر للا نصار والمها جرة

agh fir lil ansha-ri wal Muha-jirah

“Maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin ( yang sudah berhijrah)”

Dari kutipan peristiwa-peristiwa itu, bisa disimpulkan bahwa Nabi dan para sahabat telah melakukan praktik kese-nian (bersyair sastra dan lagu) untuk berjihad dan berdakwah.

Baca selengkapnya pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber ilustrasi : https://cerpin.com/fakta-aneh-tentang-padang-pasir/

 

Leave a Reply