Artidjo Alkostar di Mata Keluarga Besar Muhammadiyah

Berita 2 Mar 2021 0 84x
Artidjo Alkostar di Mata Keluarga Besar Muhamamadiyah

Artidjo Alkostar di Mata Keluarga Besar Muhamamadiyah

Wafatnya Artidjo Alkostar meninggalkan kesedihan mendalam bagi masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan. Pasalnya, laki-laki kelahiran 22 Mei 1949 di Kota Situbondo, Jawa Timur, itu dikenal sebagai seorang pengawas keadilan yang garang. Beliau tak ragu menetapkan hukuman berat bagi para koruptor.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengenang, “almarhum merupakan sosok yang sederhana dan bersahaja. Beliau merupakan akademisi dan penegak hukum yang telah selesai dengan dirinya, sehingga dirinya berkhidmat sepenuhnya dalam dunia penegakan hukum sampai akhir hayatnya tanpa banyak opini di ruang publik”.

Pernyataan Haedar tidaklah berlebihan. Sebab kiprah dan kontribusi Artidjo sebagai penegak hukum tidak diragukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Banyak yang menganggap, wafatnya Artidjo adalah kemenangan bagi para koruptor.

Sementara itu, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, “baginya, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan. Dalam diri Pak Artidjo tidak ada ketakutan, kecuali kepada Allah swt. Dan karena itu pula, Pak Artidjo adalah seorang hakim yang paling ditakuti pada koruptor”.

Suatu ketika, Artidjo menceritakan bahwa ia pernah diancam bunuh. “Waktu itu jam 12 malam. Ada ninja yang mau bunuh saya. Tapi yang didatanginya malah asisten saya. Allah melindungi saya,” ucapnya.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik yang sekaligus Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas juga menyatakan bahwa Artidjo merupakan pribadi yang saleh ritual dan profesional dalam bekerja. “Pribadi yang saleh secara ritual dan profesional, yang berjasa besar tanpa pamrih dalam sejarah pemberantasan korupsi di republik yang terus dicemari bromocorah pengisap hak-hak rakyat,” kenang Busyro.

Artidjo dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ketika diangkat menjadi hakim agung, ia bahkan tinggal di sebuah rumah yang berada di gang sempit. Untuk berangkat ke Mahkamah Agung pun beliau naik bajaj. Sampai akhir hayatnya, beliau tetap konsisten menjadi pribadi yang low profile. Pilihan sikap itu sama sekali tidak mempengaruhi kualitas, konsistensi, dan integritasnya di bidang penegakan hukum di Indonesia.

Habib Chirzin juga mengenang perkenalannya dengan Artidjo. Perkenalan itu meninggalkan kesan tersendiri baginya. Menurut Habib Chirzin, “Mas Artidjo adalah hakim agung yang jujur, lurus, tegas, dan tidak kenal kompromi dalam menegakkan hukum dan keadilan. Mas Artidjo merupakan icon dalam integritas, kejujuran, dan keberanian”.

Abdul Mu’ti berharap bahwa wafatnya Artidjo bukanlah akhir dari keberadaan sosok penegak hukum yang adil dan tegas. “Masyarakat mengenal dan mengenang bahwa Pak Artidjo adalah seorang yang sangat baik dan senantiasa berpihak kepada kebaikan. Semua kebaikan itulah yang mengantarkannya di sorga Al-Kautsar. Semoga lahir Artidjo baru; penegak keadilan dan kebenaran,” harapnya. (SB)

Diolah dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan