Atasi Problem Lingkungan, Kontribusi ‘Aisyiyah dalam Pencapaian SDGs

Liputan 14 Aug 2020 0 154x

Sumber Ilustrasi : suara.com

Problem lingkungan di tingkat global telah menjadi keprihatinan dunia, demikian halnya dengan ‘Aisyiyah. Hening Purwati Parlan, dari Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (LLHPB PPA), mengungkapkan, ‘Aisyiyah kini tengah menyoroti beberapa isu strategis lingkungan, antara lain problem sampah plastik, krisis iklim, dan bencana. 

Indonesia sendiri, papar Hening, berdasarkan data dari McKinsey and Co and Ocean Conservancy, merupakan produsen sampah plastik terbesar kedua setelah China. Produksi sampah plastik Indonesia mencapai 175.000 ton setiap harinya. Artinya, dalam satu tahun mencapai 63,9 juta ton. “Bayangkan, sekitar 0,48-1,29 juta ton sampah plastik tersebut, diduga mencemari lautan,” ungkap Hening. Melimpahnya sampah plastik diperkirakan akan terus bertambah dengan meningkatnya produksi minuman-makanan kemasan, di tengah minimnya kesadaran penggunaan plastik sekali pakai dan pengolahan limbah plastik di Indonesia. 

Padahal, beber Hening, dampak dari sampah plastik sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan ekosistem. “Plastik itu berasal dari senyawa biologis, ia memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable), sehingga membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun untuk dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna,” imbuhnya. 

Dampak Sampah Plastik

Setidaknya terdapat lima dampak sampah plastik, jelas Hening. Pertama, racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah, akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing. Kedua, plastik yang mencemari tanah akan mengganggu kesuburan tanah, karena dapat menghalangi sirkulasi udara di dalam tanah, dan dapat membatasi ruang gerak makhluk tanah yang mampu meyuburkan tanah. Ketiga, kantong plastik bersifat sukar diurai, berumur panjang, dan ringan, sehingga mudah diterbangkan, hingga mencemari laut.

Keempat, plastik dapat menjerat hewan, sekalipun hewan itu mati, plastik tersebut tidak akan hancur di dalam tubuhnya, sehingga plastik tersebut dapat meracuni hewan lainnya kembali. Kelima, sampah plastik dapat mengakibatkan pendangkalan sungai dan dapat menyumbat aliran sungai, sehingga menyebabkan banjir. Keenam, jika sampah plastik dibakar tidak secara sempurna, maka partikel-partikel plastik yang tidak dapat terurai akan menjadi dioksin di udara. Bila terhirup oleh manusia dapat mengakibatkan kanker, gangguan sistem syaraf, hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.

Pusaran Krisis Iklim dan Bencana

Selain sampah plastik, krisis Iklim dan bencana juga merupakan masalah yang harus mendapatkan perhatian serius. Baik krisis iklim maupun bencana, keduanya tidak dapat dipisahkan. Data BNPB 2019 membuktikan, jelas Hening, bahwa hingga Desember 2019 tercatat sebanyak 3.721 bencana alam terjadi, meliputi kebakaran hutan dan lahan, banjir, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, gelombang pasang, erupsi gunung berapi, dan angin puting beliung. Secara keseluruhan korban jiwa akibat semua bencana alam tersebut mencapai 477 jiwa. “Dari jumlah kejadian bencana tersebut, lebih dari 90% merupakan bencana yang disebabkan oleh hydrometeorology, yakni bencana yang disebabkan oleh dampak dari krisis iklim,” ucap Hening. (Gustin Juna)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2020

 

Leave a Reply