Atikah Zaki: Keimanan Melahirkan Sikap Cinta Lingkungan

Berita 28 Des 2021 0 46x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Islam melarang segala bentuk pengrusakan terhadap alam sekitar, baik pengrusakan secara langsung maupun tidak langsung. Hal itu disampaikan Ketua PP ‘Aisyiyah Koordinator Bidang LLLHPB Atikah M. Zaki pada pelatihan mubalighat lingkungan yang diselenggarakan LLHPB PP ‘Aisyiyah bekerja sama dengan Lazismu PP Muhammadiyah, Ahad (26/12).

Kaum Muslimin, kata dia, harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar. Oleh karena itu, seyogyanya setiap Muslim memahami landasan-landasan pelestarian lingkungan hidup. “Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah untuk menghuni bumi Allah Azza wa Jalla ini,” terangnya.

Allah swt. telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup. Kata Atikah, larangan itu disebabkan potensi yang membahayakan kehidupan manusia dan makhluk lain di muka bumi.

“Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allah Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan,” kata dia.

“Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksploitasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul,” imbuhnya. Menurut dia, terjadinya banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan bencana alam yang lain adalah karena ulah manusia.

Baca Juga: Siti Aisyah Jelaskan Lima Aspek Pembinaan Lingkungan Hidup

Atikah menjelaskan, Allah swt. menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribadah hanya kepada Allâh semata.

Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, dia menjelaskan, kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas.

Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Hal ini sebagaimana termaktub dalam Q.S. ar-Rum: 41 (yang artinya), telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebahagian dari  perbuatan mereka, agar mereka kembali”.

Untuk menguatkan pemahaman ayat tersebut, Atikah mengutip pendapat beberapa pendapat ulama tafsir. “Ibnu Katsir rahimahullah telah menjelaskan dalam tafsirnya makna firman Allah telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” yaitu kekurangan buah-buahan dan tanam tanaman disebabkan kemaksiatan,” ungkapnya.

“Abul ‘Aliyah berkata, barangsiapa berbuat maksiat kepada Allah di muka bumi, berarti ia telah berbuat kerusakan padanya. Karena kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan,” imbuhnya.

Menurut dia, setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan. Hal itu dikuatkan dengan hadits shahih (yang artinya), sesungguhnya apabila seorang yang jahat mati, niscaya para hamba, kota-kota, pepohonan dan binatang-binatang melata merasakan ketenangan”.

Atikah memaparkan bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi saw. untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, serta perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat.

Menebang pohon, menggunduli hutan, membuang limbah ke sungai, membakar area persawahan, dan lain-lainnya sudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bencana bagi umat manusia.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa kerusakan alam bukan hanya karena faktor-faktor riil seperti itu saja, tetapi kekufuran, syirik, dan kemaksiatan juga punya andil dalam memperparah kerusakan alam.

”Bukankah banjir besar yang melanda kaum Nuh as. disebabkan kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah Nabi Nuh as.? Bukankah bumi dibalikkan atas kaum Luth sehingga yang atas menjadi bawah dan yang bawah menjadi atas disebabkan kemaksiatan yang mereka lakukan?” tegasnya.

Sebaliknya, menurut dia, keimanan, ketaatan, dan keadilan juga berperan bagi kebaikan dan keberkahan bumi. Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim seharusnya memahami arti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup.

“Dosa dan maksiat akan mendorong manusia untuk merusak dan mengotori alam ini dengan noda-noda maksiat. Maka marilah kita jaga lingkungan ini dengan berbuat baik kepada alam sekitar dan menjauh dari kemaksiatan, syirik, dan tahayul,” tutupnya. (Iwan Abdul Gani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *