Bagaimana Idealnya Ayah dalam Pengasuhan Anak?

Parenting 11 Jul 2020 0 270x

Masih banyak yang memandang bahwa mengasuh anak merupakan tanggung jawab seorang ibu. Pandangan tersebut bukan tanpa alasan mengingat ibu merupakan sosok yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ibu juga merupakan sosok yang detail dalam mengurus masalah-masalah rumah tangga. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa ibu cenderung memiliki ikatan emosional lebih kuat dengan anak-anaknya dibanding ayah.

Kondisi ini memungkinkan anak merasa aman dan nyaman. Keamanan dan kenyamanan merupakan salah satu kunci penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lalu, bagaimana pengasuhan seharusnya dilakukan? Apakah pengasuhan ibu saja (mothering) dipandang cukup? Bagaimana pula al-Qur’an memandang tentang pengasuhan? Tulisan ini akan menjelaskan tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Terdapat dua istilah yang sering dikaitkan dengan pengasuhan yaitu parenting dan child rearing. Parenting adalah upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri; sementara child rearing merupakan pengalaman, keterampilan, kualitas, dan tanggung jawab sebagai orangtua dalam mendidik dan merawat anak.

Berdasar dua pengertian ini kata ‘mendidik’ atau ‘pendidikan’ menjadi kata kunci penting dalam pengasuhan. Para ahli mengatakan bahwa pendidikan merupakan pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian, maka pengasuhan. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Orang tua dikatakan melakukan praktik pengasuhan jika orang tua menunjukkan kehangatan (warmth), melakukan pengontrolan (control), dan menciptakan komunikasi (communication) antara orang tua dan anak. Kehangatan nampak ketika orang tua menunjukkan kasih sayang kepada anak, adanya keterlibatan emosi antara orang tua dan anak, serta menyediakan waktu bersama anak. Selain itu, kehangatan orang tua ditunjukkan pula dalam membantu anak untuk mengidentifikasi dan membedakan situasi ketika memberikan atau mengajarkan perilaku yang tepat.

Selain kehangatan, pengontrolan orang tua menjadi salah satu aspek dalam pengasuhan. Ini dilakukan dengan menerapkan cara berdisiplin kepada anak, memberikan beberapa tuntutan, aturan, dan mengontrol aktifitas anak, menyediakan beberapa standar yang dijalankan atau dilakukan secara konsisten, berkomunikasi satu arah dan percaya bahwa perilaku anak dipengaruhi oleh kedisiplinan.

Aspek lain dari pengasuhan adalah komunikasi. Ketika berkomunikasi, orang tua menjelaskan kepada anak mengenai standar atau aturan serta pemberian  reward  atau  punish  yang  dilakukan kepada anak. Orang tua juga mendorong anak untuk bertanya jika anak tidak memahami atau tidak setuju dengan standar atau aturan tersebut. 

Uraian di atas menyiratkan bahwa pengasuhan idealnya dilakukan oleh kedua orang tua yaitu ayah dan ibu, bukan ibu saja (mothering) atau ayah saja (fathering). Penelitian yang melibatkan ibu saja dalam pengasuhan anak, menurut Nancy Chodorow, telah menghasilkan pengalaman yang berbeda pada anak laki-laki maupun perempuan.

Anak perempuan menjadi memiliki hasrat lebih untuk bisa dekat dan menyerupai figur ibunya, dan anak laki-laki menjadi bersikap mendominasi yang kurang bisa menghargai perempuan. Dengan demikian, untuk membebaskan anak laki-laki dan anak perempuan dari situasi tidak bisa menghargai ataupun menjadi tidak dihargai ini, diperlukan strategi tertentu untuk mengatasinya, di antaranya adalah dengan melibatkan ayah dalam pengasuhan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelibatan ayah dalam pengasuhan mampu meningkatkan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak, serta menurunkan perilaku negatif (seperti delinkuen) anak (Allen Dally, dalam Rahmi, 2015). Hal senada diungkapkan Hidayati dkk (2011) bahwa manfaat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak adalah bahwa ayah berpengaruh terhadap perkembangan kognitif anak, perkembangan emosi dan kesejahteraan psikologis anak, perkembangan sosial, dan kesehatan fisik, dengan catatan apabila keterlibatan tersebut cocok, hangat, bersifat positif, membangun dan memfasilitasi anak untuk berkembang.

Peran seorang ayah dapat mempengaruhi kehidupan sosial, prestasi di sekolah, dan pencapaian cita-cita anak-anaknya. Kehadiran seorang ayah bagi seorang anak akan menimbulkan keamanan emosional, kepercayaan diri dan keinginan untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Balita dengan keterlibatan ayah memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan juga IQ lebih baik pada usia ke-3. Pada usia sekolah, pelajar yang ayahnya terlibat dalam pengasuhannya memiliki prestasi yang lebih baik dan juga kepercayaan diri lebih tinggi.

Ajaran agama Islam terlebih menunjukkan pentingnya ayah dalam pengasuhan. Ini sebagaimana tercermin dengan adanya surat nama laki-laki (ayah) dalam al-Qur’an seperti surat Luqman, Ibrahim, Yusuf, dan seterusnya; bahkan secara spesifik al-Qur’an menjelaskan bagaimana Luqman memberi nasihat kepada anaknya yang tersurat dalam Q.S. Luqman, ayat 13-19, yaitu:

(a) Luqman mendidik dengan penuh kasih sayang, yang nampak dalam panggilan Luqman kepada anaknya dengan ya bunayya, panggilan yang mengisyaratkan kasih sayang dan kemesraan; (b) Luqman mendidik dan menasihati anaknya tidak hanya sekali tetapi berkesinambungan dan terus menerus. Ini artinya Luqman selalu dan tidak pernah bosan dalam mendidik anaknya; (c) Setiap nasehat dan pesan yang diberikan oleh Lukman diiringi dengan argument seperti:

(1) Bersyukurlah kepada Allah; siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; (2) Jangan menyekutukan Allah, hal itu adalah kezaliman yang besar; (3) Berbuat baiklah dan bersyukur kepada orang tua, ibunya telah mengandung dan menyusuinya; (4) Laksanakanlah shalat, amar ma’ruf nahi munkar dan sabar; hal itu merupakan perkara yang penting; (5) Jangan sombong, Allah tidak menyukai orang sombong.

Seorang ayah memerlukan komitmen ekstra kuat untuk menyediakan waktu bagi anak-anaknya. Ayah perlu memasukkan tugas mendidik anak dalam jadwal kerja utama setiap hari. Ayah perlu mengenal dengan baik setiap anaknya dan menggunakan waktu lebih banyak untuk belajar mendidik anak. Mendidik anak merupakan salah satu bentuk pengabdian dan ketaatan pada perintah Tuhan.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 8 Juli, 2017, Rubrik An-Nur

Sumber Ilustrasi : https://lifestyle.okezone.com/read/2017/11/21/196/1818045/karakter-ayah-dalam-mengasuh-anak-tentukan-perkembangan-emosi-dan-masa-depan-buah-hati

Leave a Reply