Konsultasi Keluarga

Bagaimana Menghadapi Suami Egois?

suami egois

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kak ‘Aisy yang saya hormati, saya seorang ibu rumah tangga, sudah menikah selama sebelas tahun, dan mempunyai dua orang anak perempuan. Suami bekerja di sebuah perusahaan di kota saya. Saya sendiri tidak bekerja formal, tetapi dapat membantu menambah pendapatan keluarga dengan membuat makanan kecil yang dapat dititipkan di warung-warung atau penjual makanan kecil. Kehidupan keluarga kami sebenarnya cukup bahagia karena saya dan suami saling mencintai walau keadaan ekonomi kami hanya cukup atau pas-pasan saja.

Walaupun begitu, sebenarnya saya sering merasa tertekan dan harus menahan perasaan karena suami saya sering merasa berkuasa dan merasa benar sendiri bila kami sedang membicarakan masalah keluarga walaupun hal yang sepele. Kadang-kadang, suami saya juga marah-marah kalau saya mencoba menjelaskan masalah yang sebenarnya, bahkan meskipun ada di depan anak-anak saya yang masih kecil-kecil sehingga mereka menjadi ketakutan. Kalau ada permasalahan dalam keluarga maka sering menyalahkan saya, tetapi saya sering harus menahan perasaan untuk tidak berdebat dengan suami saya.

Itulah permasalahan yang saya hadapi Kak ‘Aisy. Saya mohon nasihat agar saya bisa menghadapi suami saya yang egois itu sehingga dia bisa menjadi tidak mudah tersinggung dan bisa diajak berembuk tentang hal-hal yang kami hadapi dalam kehidupan berkeluarga. Untuk itu, saya haturkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

St R di Sg

Jawaban:

Ibu St R yang baik, terima kasih telah menyampaikan permasalahan Anda kepada Kak ‘Aisy. Memang tidak nyaman rasanya bila dalam berkeluarga hubungan suami istri menimbulkan perasaan tertekan sehingga mengurangi kebahagiaan dalam berkeluarga. Suami yang egois dan mudah tersinggung ketika menghadapi permasalahan kehidupan dalam keluarga bisa disebabkan oleh salah satu dari dua hal ini, yaitu karena memang dia mempunyai sifat egois dan mudah pemarah semenjak muda atau remajanya, atau hanya baru terjadi belakangan ini.

Kalau biasanya tidak egois dan tidak mudah marah, kemudian menjadi gampang tersinggung dan gampang marah maka mungkin dia sebenarnya sedang mempunyai masalah yang cukup berat. Boleh jadi, dia memiliki masalah di tempat kerjanya atau masalah lain yang dipendamnya sendiri agar tidak memberatkan pikiran Anda sebagai istrinya. Oleh karena itu, sifat egois dan mudah marah itu bisa bersifat sementara dan agak mudah untuk menjadi kembali normal bila penyebab masalahnya sudah teratasi.

Nah, apabila sifat egois dan mudah tersinggung itu sudah semenjak sebelum menikah, mungkin semenjak remaja, maka sifat egois dan mudah marahnya berarti sudah menetap. Untuk mengurangi sifat egois itu perlu suatu usaha sungguh-sungguh dengan didasari pada kesadaran untuk berubah. Adapun untuk menghilangkannya sungguh tidak mudah. Dalam hal ini, bantuan dari terapis akan sangat membantu.

Meskipun demikian, istri dengan suami yang bersifat egois dan mudah marah dapat membantu mengurangi sifat egois dan mudah marahnya itu dengan beberapa jalan seperti berikut.

Pertama, bersikap sabar, tidak menghadapi sikap egois dan kemarahan suami dengan emosi. Hendaknya istri berusaha menahan rasa tersinggungnya karena sikap marah akan menjadi reda bila tidak dibalas dengan marah.

Kedua, hindari perdebatan dengan suami karena biasanya suami yang egois akan merasa selalu benar pendapatnya walau mungkin menurut Anda pendapatnya kurang tepat. Bila Anda ingin menyampaikan pendapat, tanyakan dulu apakan dia mau mendengarkan pendapat Anda.

Ketiga, carilah waktu yang baik, misalnya sedang duduk berdua dalam suasana santai untuk membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang sedang dihadapi, baik itu masalah dalam keluarga atau mungkin masalah dalam tempat kerja. Berilah kesempatan suami untuk menyampaikan kesulitan atau permasalahan yang menjadikan dirinya galau.

Keempat, buatlah suasana komunikasi dua arah. Misalnya, istri tidak hanya menjadi pendengar saja, tetapi juga berusaha untuk memberi pendapat yang bisa ikut memecahkan masalahnya. Usahakanlah agar pendapat Anda itu berdasarkan pemikiran yang logis atau masuk akal. Adapun bila suami tidak sependapat dengan apa yang Anda sampaikan, hentikanlah dulu usulan Anda itu, dan lanjutkan dengan perbincangan lain yang menimbulkan rasa nyaman.

Kelima, carilah waktu bersama suami dan anak untuk bersantai, misalnya berwisata pada waktu hari libur, sehingga suasana hati suami menjadi nyaman dan hubungan kasih sayang dalam keluarga kian terasa erat.

Keenam, perbanyak berdoa yang juga dikhususkan agar suami dan Anda diberi kemudahan dalam menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan berkeluarga sehingga dimudahkan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan rahmah.

Ketujuh, berusaha bersama suami untuk meningkatkan pemahaman tentang akhlak islami, khususnya dalam kehidupan berkeluarga, melalui pengajian, membaca buku, maupun lewat media lain.

Ibu St R yang baik, itu beberapa saran saya agar Anda dapat menghadapi suami yang egois dan gampang marah. Di samping itu, Anda juga perlu mencari wawasan lain untuk lebih memperkaya pengetahuan Anda dalam membina hubungan dalam keluarga, baik dengan suami, anak, dan juga dengan anggota keluarga yang lain. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan kepada Anda dalam membina keluarga.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Susilaningsih Kuntowijoyo

Related posts
Konsultasi Keluarga

Strategi Mengelola Hubungan dengan Anak Tiri

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kak ‘Aisy yang saya hormati. Saya seorang perempuan lajang berusia di atas 30 tahun. Saya berencana menikah dengan…
Politik dan Hukum

Peran Keluarga dalam Pendidikan Politik

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo Tahun 2024 merupakan tahun politik karena pada tanggal 14 Februari 2024 akan diadakan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres)…
Keluarga Sakinah

Pengasuhan dan Generasi Anti Perundungan

Oleh: Elli Nur Hayati* Belakangan kita banyak mendengar dan melihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, perundungan yang dilakukan terhadap seseorang yang…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *