Kesehatan

Bahagia Merawat Usia

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi*

Tanggal 25 Mei lalu, aku mendapat tugas kantor untuk mendukung RAGAM ISTITUTE dalam kegiatan perayaan Hari Lansia, di Perpustakaan Apung Universitas Indonesia. Aku hadir bersama rekan sejawat yang biasa kupanggil “Bu Haji”. Kebetulan usia kami hanya terpaut sedikit. Di ruang perpustakaan itu, kami duduk di bangku tengah belakang. Selama acara berlangsung, aku tidak sempat banyak berbincang. Aku membaca profil para pembicara di panggung.

Kami berdua larut, tenggelam dalam rangkaian pertunjukan Ibu-Ibu yang rata-rata berusia di atas 70 tahun. Tampilan vocal group yang menyanyikan lagu perjuangan itu bikin merinding. Karakter suara mereka begitu pas dengan jenis lagu. Ada keterpaduan yang tertata apik antara suara soprano, alto dengan iringan musik lembut memanjakan telinga. Suara-suara itu berpadu dalam harmoni. Begitu indah di telinga pendengar. Mereka tengah bernyanyi dengan hati.

Aku dan Bu Haji begitu takjub dengan vitalitas dan semangat mereka. Kami pun menonton pertunjukan itu dengan hati, dan lebih melibatkan rasa. Mata dan pikiran kami hanya menjadi media perantara. Begitu pun para bapak seusia yang duduk di bangku penonton. Mereka nampak begitu larut dalam kekaguman.

Obrolan Sebelum Menjadi Lansia

Acara berakhir. Aku mengajak Bu Haji makan siang di warung Mang Engking. Masih di lingkungan kampus. Seperti pasangan kasmaran, kami memilih salah satu saung yang berdiri kokoh di atas kolam ikan hias. Pesanan menu kami otomatis berkesesuaian dengan usia. Ikan bakar gurami, karedok, tahu tempe, dan cah kangkung.

Baca Juga: Lansia Penyibak Asa

Sambil menunggu pesanan tiba, kami mengobrol seru sekali. Obrolan kami pun berkesesuaian dengan usia. Awalnya tentang warna-warni rumah tangga. Kami sudah lebih 20 tahun menjalaninya. Dari soal kegemaran masing-masing pasangan yang nyaris selalu berbeda, bahkan bertolak belakang. Seperti soal tontonan film, musik, masakan, jenis olah raga dan lain-lainnya.

Kami menertawakan kekonyolan dan kebiasaan pasangan yang -mau tidak mau- harus ditoleransi. Seperti kebiasaan buang angin, menutup kloset, meletakkan pakaian kotor, ngorok saat tidur, dan macam-macam. Semua keterbedaan itu harus ditoleransi. Bukankah salah satu syarat berpasangan adalah menerima perbedaan dalam kesatuan (rumah tangga)?

Soal Menduakan Pasangan

Sambil menikmati gurame bakar, beberapa topik obrolan terlewati. Tapi, ada perkara peka hingga jarang kudiskusikan. Yaitu soal perilaku menduakan pasangan secara sembunyi-sembunyi dan soal poligami.

Jujur aku menyatakan, bahwa jika aku, yang sudah berkepala 50 plus ini nekat melakukan itu, berarti aku tengah mendatangkan kiamat kecil dalam rumah tanggaku sendiri.

“Iya…itu kan kalau ketahuan… ?” ledek Bu Haji.

“Pasti ketahuan Bu Haji… Dan aku pasti akan terusir dari rumah. Istri dan anak-anakku akan menjauh. Lalu di mana enaknya? Buat apa poligami” Kataku.

“Yah…. buat kepuasan seksual laki-laki kali. Umumnya kan begitu…?” Celetuk Bu Haji.

“Emang masih bisa… ?” Jawabku spontan…

Tawa kami langsung meledak…

Aku memang gemar menertawakan kekonyolanku sendiri.

Sumber Kebahagiaan

Ikan gurame, tahu, tempe, cah kangkung ludes. Sebagai penutup, kami menikmati teh tawar hangat untuk menyapu sisa micin di tenggorokan. Ah… seger banget! Seiring itu, obrolan kami berlanjut hingga soal pilihan tempat tinggal di masa tua.

Aku dan istri belum menentukan pilihan. Meski ada sedikit sawah di kampung, namun tugasku menemani anak-anak belum selesai. Berbeda dengan Bu Haji. Putri semata wayangnya akan menikah. Suami juga akan segera pensiun. Untuk tempat tinggal, dia punya beberapa pilihan. Mau di Bandung, Cibubur, atau apartemen di tengah kota. Tinggal pilih, sih

“Wah… hidupmu tuntas Bu Haji. Semua yang dibutuhkan untuk masa tua sudah tersedia. Hidupmu bahagia sekali…” ucapku.

“Iya sih, kalau bahagia itu hanya ditentukan oleh ketersediaan materi. Nyatanya kan tidak. Bahagia itu di hati letaknya. Itu pemberian Tuhan kepada semua manusia, tanpa pembeda. Hanya dengan satu syarat, bersyukur,” tutur Bu Haji tegas. Aku tertunduk dan diam.

Gerimis berhenti, bahan obrolan sudah habis. Sebelum beranjak dari saung, aku meminta pramusaji memfoto kami berdua. Setelah 3 hingga 4 jepretan, sang pramusaji yang ramah senyum itu berkomentar: “asyik banget ngobrolnya, Pak. Saya suka melihat pasangan seperti bapak-ibu ini. Asik”.

Mendengar komentar itu, tawa kami meledak untuk yang kesekian kali.

Begitulah watak prasangka. Ia muncul begitu saja hanya berdasarkan pada apa yang terlihat. Bukan pada apa yang terbaca, apalagi terasakan. Tapi aku tidak kuasa mengaturnya. Biarlah…

Aku beranjak pulang sambil terus merenungi ucapan Bu Haji soal syarat kebahagiaan. Aku tidak akan melupakan pesan indah itu untuk tahun ke-56-ku.

*Ketua PRM Legoso – Ciputat Timur, Tangerang Selatan

Related posts
Berita

Senyum, Perbuatan Mudah Bernilai Pahala

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dalam siaran langsung di akun YouTube @KRAMAT Bantul dengan  tema “Ceria Bersamamu”, Da’i Muda Muhammadiyah Irfan Rizki menjelaskan…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *