Baiti Jannati (2)

Keluarga Sakinah 9 Mar 2020 0 80x

Mengapa rumah tangga diibaratkan surga bagi penghuninya? Dalam bahasa Arab, surga disebut jannah. Surga atau nirwana  adalah tempat yang menye-nangkan, menenteramkan, penuh kesejukan, dan membahagiakan. Surga merupakan tempat yang  dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya. Dengan kata lain, surga merupakan tempat bagi orang-orang yang bertakwa (Q.S. Ali Imran: 15). Tidak hanya itu, Allah bahkan memberikan kabar gembira bagi orang yang beriman dan berbuat kebaikan dengan surga yang penuh keindahan, dan kenikmatan yang bertabur kelimpahan rezeki (Q.S. al-Baqarah: 25).

Masih ada banyak lagi sebutan surga dalam al-Quran. Surga antara lain disebutkan  sebagai balasan Allah terhadap umat manusia yang memang berhak mendapatkan imbalan nikmat (Q.S. ar-Rahman: 54). Surga juga dinisbatkan sebagai tempat tinggal bagi mereka yang mempunyai jiwa tenang. Terhadap pemilik jiwa tersebut, Allah mempersilahkan mereka memasuki surga sebagai tempat kembali dengan penuh keridhaan. (Q.S. al-Fajr: 27-30).

Surga pada judul tulisan ini menisbatkan gambaran kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, ketenteraman, ketenangan, kebahagiaan, dan  keridhaan. ‘Rumahku adalah surgaku’ mengambarkan bahwa ketika seseorang berada di rumahnya ia akan  merasa tentram, tenang dan bahagia walau bagaimanapun keadaan rumahnya.

Betapa tidak. Di rumah, ia akan beristirahat dari kelelahan selama beraktifitas di luar. Di rumah, ia akan menemukan solusi dari suatu permasalahan setelah segala persoalan dimusyawarahkan dengan keluarga. Selain itu, di rumah mereka akan makan bersama, shalat berjamaah bersama, bercanda, serta bergembira untuk  melepas kegalauan dan kepenatan batin ketika mengalami tekanan-tekanan.

Begitu penting makna rumah tangga bagi keluarga. Rumah tangga selain sebagai tempat berteduh dan beristirahat, juga menjadi tempat berinteraksi,  bermain dan bercengkerama bagi sesama keluarga. Oleh karena itu, menjadikan rumah sebagai ‘surga’ bagi penghuninya  merupakan sebuah keniscayaan. Dalam setiap rumah tangga, setiap anggota mempunyai tanggung jawab dan tugas sesuai dengan peran dan kemampuannya. Semua anggota keluarga hendaknya berusaha bersama-sama dalam mengkondisikan dan memanfaatkan rumah tangga sesuai dengan tanggung jawab dan tugasnya masing-masing.

Fungsi rumah tangga selain bersifat fisik (tempat tinggal bagi komunitas kecil) juga dapat ditingkatkan menjadi lebih bersifat non fisik. Pertama, rumah tangga  hendaknya menjadi tempat menanamkan nilai-nilai pendidikan, khususnya nilai-nilai dasar sebagai bekal anak-anak yang akan dikembangkan sebelum diperoleh di  lembaga pendidikan. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai religiusitas, kemasyarakatan, dan kedewasaan. Nilai religiusitas meliputi ketauhidan, peribadatan, akhlak, dan mu’amalah. Sedangkan nilai-nilai kemasyarakatan meliputi gotong royong, tepo sliro, suka menolong, toleransi,  serta mementingkan kepen-tingan orang lain (altruistik). Adapun nilai-nilai kedewasaan meliputi; tanggungjawab, disiplin, hak, dan kewajiban serta etos kerja.

Hal kedua yang perlu dilakukan agar fungsi non fisik rumah dapat terwujud adalah dengan memfungsikannya sebagai tempat mengasuh dan membesarkan anak-anak selaku generasi penerus. Ketiga, rumah tangga hendaknya difungsikan sebagai penguat ekonomi keluarga. Terakhir, rumah tangga sebaik-nya juga difungsikan sebagai tempat bermusyawarah dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi.

Bagaimana mewujudkan rumah tangga sesuai dengan fungsinya sehingga baiti jannati tidak hanya sekadar slogan? Sebagaimana ditegaskan tentang Asas Keluarga Sakinah, keluarga hendaknya dibangun di atas pilar-pilar utama yang meliputi asas karamah insaniyyah, hubungan kesetaraan, keadilan, mawaddah wa rahmah, dan pemenuhan kebutuhan hidup sejahtera dunia akhirat. (Buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah hal.27-40). Secara detail, penerapan asas-asas tersebut dalam rangka mewujudkan baitii jannatii adalah sebagai berikut.

Pertama, diperlukan adanya pemahaman dan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan adalah makhluk Tuhan yang memiliki kemuliaan dan kedudukan. Allah menciptakan manusia de-ngan dibekali berbagai potensi seperti keberagamaan, moral, indra, akal, dan hati nurani. Semua bekal itu dimaksudkan untuk memuliakan dan menjadikan kedudukan manusia sebagai wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan dan melestarikan kehidupan manusia di dunia sebagaimana firman Allah swt. berikut ini:

{وَ لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْ أٰدَمَ وَ حَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَ الْبَحْرِ وَ رَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَ فَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثَيْرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْصِيْلاً}

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. al-Isra’: 70)

Kedua, diperlukan adanya pola hubungan antar anggota keluarga yang didasarkan pada kesetaraan nilai kemanusiaan. Kepemimpinan keluarga yang sifatnya kolektif, bukan individual dan otoriter,  tentu dibutuhkan dalam mengkondisikan terlaksananya semua urusan rumah tangga dengan pemera-taan tugas masing-masing anggota keluarga. Pada praktiknya, pola hubungan yang didasarkan pada kesetaraan akan memunculkan komunikasi yang setara  di antara anggota keluarga. Hasilnya, tugas-tugas rumah tangga yang dikerjakan tentu dilaksanakan dengan saling pengertian, saling menghargai dan menghormati sesama anggota keluarga. Dalam hal ini, di antara anggota keluarga tidak ada yang merasa terbebani karena pekerjaan dilakukan atas kesadaran dan pemahaman tentang hak dan kewajiban. Selain itu, persoalan yang ada juga  diselesaikan dengan musyawarah.

{… وَ شَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ. فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهُ. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ}

“… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal.” (Q.S. Ali Imran: 159). (Cholifah Syukri)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 6 Juni 2019, Rubrik Keluarga Sakinah, hal  26-28

Sumber Ilustrasi : https://bincangsyariah.com/kalam/tiga-tips-menciptakan-rumahku-surgaku/

Leave a Reply