Baiti Jannati (1)

Keluarga Sakinah 9 Mar 2020 0 316x

Judul yang merupakan ungkapan bahasa Arab di atas, apabila maknanya direnungkan secara jernih, dapat memberikan pemahaman yang luas. Ungkapan di atas juga mendorong kita mencari kiat bagaimana cara mengelola rumah tangga yang baik. Mengelola rumah tangga itu sering dikatakan ,“gampang-gampang susah”. Artinya, membangun rumah tangga itu akan menjadi ringan, mudah atau gampang, tapi juga bisa susah. Dengan kata lain, sebenarnya upaya  mengelola, merawat, dan mewujudkan keluarga sakinah tidaklah dapat terlepas dari pemahaman tentang makna dan implementasi ungkapan bahasa Arab tersebut.

Baitun dalam bahasa Arab artinya rumah. Baitii berarti rumahku. Rumah yang dimaksud dalam judul tulisan ini bukan sekedar bangunan fisik sebagai tempat tinggal, tetapi lebih dari itu, termasuk urusan yang berhubungan dengan keluarga seisi rumah. Definisi rumah tangga adalah segala sesuatu mengenai urusan rumah atau kehidupan di rumah (WJS Poerwadarminta, 1987).  Jadi yang dimaksud rumahku dalam judul tulisan ini adalah rumah tanggaku yang didalamnya terkait dengan urusan kehidupan  anggota keluarga sebagai penghuni rumah.

Rumah sebagai tempat tinggal suatu keluarga memiliki fungsi utama yang sangat strategis. Menurut ‘Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah’, keluarga dimaknai sebagai ”orang seisi rumah, terdiri dari orang tua, dapat kedua orang tua atau salah satu orang tua (ayah atau ibu) beserta maupun tanpa anak-anak. Dapat juga bersama anggota keluarga lain yang menjadi tanggungan dan orang yang membantu dalam keluarga tersebut”.(Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, 2016, hal. 16).    

Sementara fenomena masa kini, keluarga  telah banyak mempercayakan fungsi rumah kepada lembaga atau instansi lain yang dianggap bisa menggantikan sebagian fungsi yang dimilikinya. Tentu saja hal tersebut harus diimbangi dengan membayar imbalan yang cukup besar. Sebagai contoh dari instansi yang dianggap bisa menggantikan sebagian fungsi keluarga tersebut adalah sekolah.

Ada pendapat bahwa keberhasilan pendidikan anak bisa dilimpahkan pada sekolah. Pendapat dan pandangan seperti ini tidak seluruhnya benar. Bagaimanapun, rumah tangga tetap merupakan lembaga pendidikan utama dan terpenting. Lembaga pendidikan yang lain hanya dapat membantu fungsi rumah tangga sebagai tempat mendidik secara formal.

Fungsi rumah tangga yang lain adalah sebagai tempat membangun keutuhan keluarga, ketenteraman, kebersamaan, bermain dan  tempat rekreasi, guna membangun kesakinahan, kemawaddahan (cinta kasih) dan kerahmahan (kasih sayang).

Anak-anak dan orang tua sekarang sering menggunakan tempat-tempat bermain atau tempat rekreasi di luar rumah. Anak-anak lebih senang bermain di tempat-tempat yang memang tersedia alat dan fasilitas yang lebih menarik untuk melepas kejenuhan dan kelelahan, ketimbang bermain di rumah dengan alat dan fasilitas yang ada.

Demikian pula orang tua sering melepas kekusutan dan ketegangan karena tekanan pekerjaannya di luar rumah. Bukannya pulang ke rumah, mereka justru mencari hiburan di tempat-tempat hiburan yang fasilitasnya lengkap meskipun kemudian menimbulkan banyak masalah.

Kecenderungan melepas ketegangan di luar rumah justru sering menimbulkan problem baru. Hal itu bisa terjadi apabila mereka datang ke tempat-tempat  hiburan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Tempat-tempat seperti itu antara lain adalah bioskop dengan film porno atau kekerasan, tempat perjudian dan miras, tempat-tempat mesum, dan kelab malam. Kalau orang tua sudah menga-lihkan hiburannya pada tempat-tempat maksiat, maka fungsi rumah  tangga sebagai tempat membangun keluarga sakinah sudah tidak bermakna lagi. Kesenangan di luar rumah yang bersifat semu itu justru bisa menambah problem berat bagi keluarga.

Keruan saja terjadi konflik antar anggota keluarga, kekerasan dalam rumah tangga,  perilaku menyimpang dan pelanggaran norma-norma agama seperti pergaulan bebas, pemerkosaan, tawuran antar geng dan terkadang sampai berujung pada perceraian dan pembunuhan. Masih banyak contoh-contoh dari penyimpangan perilaku dan perbuatan melanggar agama pada orang tua dan anak lainnya.  Semua itu ternyata bersumber pada suasana rumah tangga yang tidak mendukung dan tidak terkondisikan dengan sebaik-baiknya. Pada gilirannya, konflik domestik tersebut dapat menodai keharmonisan di ruang-ruang publik. 

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 6 Juni 2019, Rubrik Keluarga Sakinah, hal  26-28

Sumber Ilustrasi : https://al-waie.id/baiti-jannati/rumahku-surgaku/

Leave a Reply