Bangga dengan Identitas Ke-Indonesiaan

Sosial Budaya 31 Jul 2020 0 68x

Dr. H. Abdul Mu’ti, M. Ed, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebutkan bahwa pertemuan antar budaya yang terjadi karena globalisasi menimbulkan tiga reaksi dominan yang berbeda. Pertama, eksklusivisme atau fundamentalisme. Kelompok ini memandang budaya lain sebagai ancaman yang menggerus budaya asli. Mereka berpandangan negatif terhadap budaya lain. Sebagian karena mereka menilai budaya yang mereka miliki lebih unggul dari budaya lain. Budaya lain dianggap asing dan dinilai dari sisi negatifnya. Atau karena budaya lain dirasa merugikan secara politik. Mereka melakukan perlawanan budaya dengan cara-cara yang ekstrim. Ekspresi fundamentalisme ini terlihat pada sikap anti imigrasi, rasisme, xenophobia dan bentuk sikap sosial negatif lainnya.

Kedua, liberalisme yang menerima dan mengadopsi budaya lain secara utuh, tanpa seleksi. Semua ditelan mentah-mentah, diterima apa adanya. Mereka menilai budaya asli telah gagal membawa kemajuan, kuno, dsb. Ketiga, konvergensi yaitu perpaduan antara satu budaya dengan lainnya secara alamiah dan unik. Konvergensi terjadi karena proses sosiologis seperti pernikahan dan pendidikan atau faktor ekonomi. 

Abdul Mu’ti menambahkan identitas kebangsaan Indonesia akan tetap terjaga apabila masyarakat Indonesia sendiri mampu memelihara, mewariskan dan mengembangkan budaya dan keluhuran bangsa. Abdul Mu’ti menekankan pada adanya proses regenerasi yang kuat karena sekarang ini banyak bangsa yang mengalami proses degenerasi. Ia sendiri membagi degenerasi itu ke dalam dua kategori. Pertama, degenerasi nasabiah. Degenerasi nasabiah terjadi ketika suatu negara mengalami masalah defisit demografi dimana jumlah mereka yang meninggal dunia lebih banyak dari mereka yang lahir. Banyak negara maju seperti Jepang dan Jerman serta beberapa negara Eropa mengalami masalah ini.

Kedua, degenerasi diniyyah yaitu proses dimana generasi muda tidak lagi mewarisi nilai-nilai luhur termasuk agama dari generasi terdahulu. Banyak imigran Muslim dari negara-negara Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Utara yang bermukin di Eropa, Amerika, Australia dan negara-negara Barat mengalami masalah kesenjangan antar generasi. Generasi pertama dan kedua menerima pendidikan dan memegang tradisi nenek moyang tanah asal kelahirannya. Sementara generasi ketiga yang lahir di “negara baru” menerima pendidikan dan hidup dalam masyarakat yang sama sekali berbeda. Kesenjangan ini melahirkan keterputusan ideologis atau teologis dan dalam beberapa kasus menimbulkan krisis identitas yang melahirkan frustasi sosial di kalangan generasi muda. 

Teknisnya, menurut Abdul Mu’ti, penguatan masyarakat bisa dilakukan lewat berbagai komunitas, mulai dari keluarga, lingkungan sosial, hingga lingkungan pendidikan formal. Abdul Mu’ti misalnya melihat peran lingkungan sosial yang tidak kalah penting. Baginya, bagaimana anak-anak bergaul dengan teman sebaya dan bagaimana menciptakan lingkungan sosial yang kondusif untuk pengembangan kepribadian. “Lingkungan pendidikan formal mampu memberikan perspektif dan kognisi ilmiah tentang budaya dan kepribadian bangsa, tetapi peranannya tidak dapat menggantikan lingkungan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya. 

Abdul Mu’ti menambahkan bahwa suatu generasi bangsa akan tetap bangga menjadi Indonesia apabila bangsa dan negara mencapai kemajuan dan berprestasi dalam berbagai bidang. Tanpa prestasi suatu bangsa akan kehilangan kebanggaan. Karena itu, bagaimana negara mendorong dan mendukung generasi muda agar berprestasi di bidangnya masing-masing adalah sebuah keniscayaan. Generasi muda muslim akan teguh dan bangga dengan keislamannya kalau umat Islam berprestasi. Keunggulan Islam dari sisi ajaran harus diwujudkan dalam keunggulan umatnya diberbagai bidang terutama pendidikan, ekonomi dan teknologi. “Daya saing umat harus terus ditingkatkan agar generasi muda Muslim tidak mengalami inferioritas, minder, dan rendah diri di mata umat dan bangsa lain,” jelasnya.

Sedangkan Dyah Ayu Anggraheni Ikaningtyas, dosen Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk tetap bertahan dalam nilai-nilai ke-Indonesiaan adalah dengan bersikap tidak latah atau ikut-ikutan dengan budaya di luaran sana. Walaupun begitu, Dyah mengakui bahwa kedatangan budaya baru merupakan hal yang pasti dan tak bisa ditolak. Nantinya, kebudayaan baru dan lama akan mengalami proses akulturasi. Salah satu solusi agar nilai ke-Indonesiaan tetap bertahan adalah dengan mempertahankan yang dianggap baik atau dirasa cocok dan dipadukan dengan yang dari luar. “Jadi jangan sampai budaya sendiri hilang dan jangan juga terlalu ngotot menolak. Tapi melestarikan budaya itu juga penting. jangan sampai ketika kita sudah kehilangan satu budaya baru koar-koar itu budaya kita,” jelasnya. (d)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah

Leave a Reply