Berita

Bank Wakaf Mikro Aisyiyah, Berdayakan Ekonomi Perempuan: Dari Akses Modal Hingga Pendampingan

Tahun 2017, sebagai upaya menanggulangi kemiskinan di Indonesia, Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendirikan Bank Wakaf Mikro (BWM). Melansir situs sikapiuangmu.ojk.go.id, BWM adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) yang didirikan dengan tujuan “menyediakan akses permodalan bagi masyarakat kecil yang belum memiliki akses pada lembaga keuangan formal dengan pola pendampingan”.

Badan hukum BWM sebenarnya adalah koperasi yang dikelola oleh pesantren. Akan tetapi, pihak OJK telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, sehingga BWM dapat juga menjadi wadah untuk memberdayakan ekonomi perempuan. Hasil dari penandatanganan itu adalah berdirinya BWM di bawah naungan ‘Aisyiyah, seperti BWM LKMS Usaha Mandiri Sakinah (Unisa) di Yogyakarta, BWM Ummul Mukminin ‘Aisyiyah di Sulawesi Makassar, dan BWM Sinar Mandiri Sejahtera di Tuban.

BWM pertama yang berdiri di luar pesantren adalah BWM LKMS Usaha Mandiri Sakinah (Unisa). Pendirian BWM Unisa ini berdasarkan Surat Izin Operasional nomor KEP-14/KO.031/2018.

Devi Puspita Sari selaku Manajer BWM Unisa mengatakan, selain untuk memberdayakan pelaku usaha perempuan di sekitar Unisa, kehadiran BWM juga ditujukan untuk mengurangi lintah darat (rentenir) yang banyak menggerogoti pelaku usaha. “Di BWM mereka diberikan pembiayaan tanpa bunga plus diberikan pendampingan usaha atau semacam pemberdayaan masyarakat,” terangnya ketika diwawancarai Suara ‘Aisyiyah (17/12).

Berdiri pada 4 Maret 2018, kini BWM Unisa telah mempunyai 365 nasabah yang tersebar di beberapa kalurahan di Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut Devi, sejak pandemi Covid-19 melanda, BWM Unisa tidak melakukan penambahan nasabah. Bukan tanpa alasan. Pasalnya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dan dilalui sebelum seseorang bisa menjadi nasabah (yang tidak dapat diaplikasikan selama pandemi), seperti perempuan pelaku usaha, mempunyai kelompok yang terdiri dari minimal 15 orang, dan mengikuti Pelatihan Wajib Kelompok (PWK).

“15 orang ini tidak langsung dibiayai dan diberdayakan, tetapi ada serangkaian pelatihan yang harus diikuti, yaitu Pelatihan Wajib Kelompok (PWK). Jadi sebelum menerima pembiayaan, kita berikan pelatihan terlebih dahulu selama lima hari berturut-turut. Pelatihan ini menjadi ajang untuk melatih kedisiplinan dan ketertiban calon nasabah,” papar Devi.

Sederhananya, pelatihan ini menjadi wadah bagi BWM untuk melihat karakter masing-masing calon nasabah, sehingga wajib hukumnya diikuti oleh penerima manfaat karena merupakan bentuk jaminan kesanggupan. “Sebab ke depannya, karakter ini akan mempengaruhi pembayaran angsurannya,” imbuhnya.

Baca Juga: Literasi Ekonomi Digital di Cabang dan Ranting

Setelah lolos PWK, para nasabah akan diberikan pembiayaan tahap pertama sebesar 1 juta rupiah. Jumlah pembiayaan itu bisa bertambah sesuai nilai kebutuhan dan kelayakan usaha nasabah. Pembiayaan tersebut diangsur sebanyak 40 kali. Setiap nasabah juga harus membayar jasa pendampingan sebesar 2.5% dari pembiayaan. Artinya, setiap pekan nasabah membayar 25 ribu rupiah + 500 rupiah.

Sistem pembayaran yang digunakan adalah “tanggung renteng”. Maksud dari sistem ini adalah ketika ada salah satu anggota yang tidak bisa mengangsur, anggota lain (di kelompok yang sama) berkewajiban menanggung angsuran tersebut.

Devi menerangkan, setiap kelompok juga punya jadwal Silaturahmi Mingguan (Silmi). Forum ini berisi pendampingan pelaku usaha dari BWM sekaligus momen untuk membayar angsuran. Adanya jadwal silaturahmi dan pembayaran angsuran tiap pekan ini secara tidak langsung mensyaratkan setiap kelompok diisi oleh orang dengan jarak rumah yang tidak terlalu berjauhan. “Kalau satu kelompok tempat tinggalnya berjauhan,” kata Devi, “akan lebih banyak kendala, semisal ketika ada pertemuan dan sebagainya”.

Menaikkan Kelas Usaha

Ada berbagai produk yang dijajakan nasabah BWM Unisa, seperti makanan/minuman, camilan, aksesoris, perlengkapan salat, dan sebagainya. Devi berharap, pendampingan yang dilakukan BWM bisa menaikkan kelas usaha nasabah. Sementara ini, dari 365 nasabah BWM Unisa, ada sekitar 20-25 nasabah yang mengalami peningkatan kelas usaha.

Beberapa nasabah juga dibuatkan rekening, dikenalkan dengan media sosial sebagai salah satu wadah untuk menjajakan jualan, dan dibuatkan toko di marketplace online. “Karena pelaku usaha harus mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), kita juga melakukan pendampingan untuk pembuatan itu,” tambah Devi.

Sekitar 200 nasabah BWM kini sudah mempunyai SIUP. Menurut Devi, ada beberapa kendala teknis yang membuat beberapa nasabah belum mempunyai SIUP. Ada juga yang belum merasa butuh. Meski pembuatan SIUP adalah untuk kebutuhan nasabah, ia mengatakan bahwa pihak BWM tidak bisa memaksakan hal tersebut kepada nasabah. Pihaknya juga tidak ingin nasabah menganggap BWM sebagai lembaga keuangan yang ribet.

Menurut pengakuan Devi, para perempuan pelaku usaha yang menjadi nasabah BWM Unisa mendapat banyak manfaat dari kehadiran lembaga keuangan mikro syariah ini. Selain tidak dikenakan bunga pinjaman, nasabah juga tidak harus memberi jaminan kepada pihak BWM dan sering diberi informasi semisal ada kegiatan dari Dinas Koperasi. “Alhamdulillah hampir semua nasabah memberikan respons positif. Jadi memang mereka merasakan manfaatnya,” paparnya.

Pandemi dan Rencana Selanjutnya

Seperti disinggung sebelumnya, pandemi Covid-19 membuat aktivitas BWM sedikit-banyak mengalami kendala, mulai dari sering terjadi miskomunikasi hingga ada beberapa nasabah yang memilih “libur” sehingga mempengaruhi pemasukan BWM. Padahal, kata Devi, operasional BWM hanya bergantung pada dana deposito.

Selama pandemi, pemasukan BWM Unisa menurun hampir setengah dari situasi normal. Meski begitu, ia mengaku bersyukur BWM Unisa tidak mengalami nestapa seperti yang dialami beberapa BWM lain, yakni neraca keuangannya minus. “Ada banyak BWM yang minus, bahkan sampai puluhan juta,” paparnya.

Berangkat dari kendala yang dialami dan peluang yang ada, setidaknya ada lima rencana yang akan dilakukan BWM Unisa jika pandemi Covid-19 mulai melandai dan terkendali, yakni: (a) mengadakan pertemuan dengan nasabah lagi; (b) melakukan penambahan nasabah; (c) kembali melakukan pemberdayaan dan memperluas jaringan kerja sama, seperti dengan Balai Latihan Kerja (BLK); (d) mendaftarkan nasabah di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Daerah Istimewa Yogyakarta, dan; (e) menambah akad pembiayaan, sehingga tidak sekadar berbentuk uang tetapi juga barang. (sirajuddin)

Related posts
Berita

MEK PWA Jawa Tengah Mewisuda Peserta SWA 2 Kudus

Kudus, Suara ‘Aisyiyah – Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah pada Sabtu (5/2) menghadiri wisuda 28 peserta…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.