Bedah Editorial Suara Aisyiyah: Mengurai Tabu Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Berita 28 Agu 2021 0 74x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Tri Hastuti selaku Dewan Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah menjelaskan bahwa banyaknya permasalahan kesehatan reproduksi seringkali disebabkan oleh kurangnya literasi masayarakat mengenai hal tersebut.

Hal itu ia sampaikan pada acara Bedah Editorial Suara ‘Aisyiyah dengan tema “Mengurai Tabu Pendidikan Kesehatan Reproduksi” yang disiarkan secara langsung di akun Instagram @aisyiyahpusat pada Jumat (27/8). Tri menjelaskan bahwa dalam dunia digital, kasus kekerasan gender secara online mengalami peningkatan sampai 300%.

Peningkatan itu, menurutnya, disebabkan kurangnya literasi mengenai kesehatan reproduksi yang diajarkan orang tua kepada anak. Tri mengungkapkan bahwa banyak masyarakat saat ini yang merasa tabu apabila membahas kesehatan reproduksi, karena seringkali dinilai mengajarkan anak untuk melakukan hubungan seksual. Menurutnya, pola pikir itu harus segera diubah, mengingat tingat kekerasan seksual semakin marak terjadi.

Baca Juga: Suara Aisyiyah: Dari Kita untuk Kita

Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi akan memberikan nilai dan pemahaman kepada masyarakat mengenai sistem reproduksi dan dampak yang akan terjadi apabila hubungan seksual dilakukan oleh anak di bawah umur atau oleh mereka yang belum terikat status pernikahan.

Menurut Tri, orang tua harus memberikan pemahaman sedini mungkin kepada anak mengenai bagian tubuh mana saja yang dianggap aurat dan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh sembarang orang, bahkan anggota keluarga lainnya.

Islam telah mengajarkan betapa pentingnya memuliakan seorang perempuan, di mana perempuan memiliki hak-hak istimewa, termasuk mengenai kesehatan reproduksinya. Selain itu, Islam juga mengajarkan mengenai kebersihan dalam sistem reproduksi, baik perempuan maupun laki-laki.

Pada akhir penjelasannya, Tri menyampaikan pesan, “kesehatan reproduksi bukan permasalahan yang tabu, karena hal itu termasuk dalam kesehatan hidup. Orang tua harus belajar menjadi mitra dan sahabat bagi anak, sehingga anak lebih mudah untuk terbuka saat ia menghadapi berbagai pertanyaan atau permasalahan mengenai kesehatan reproduksi”. (cheny)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *