Beirut: The City of Coexistence (1)

Sosial Budaya 14 Jul 2020 0 78x

Lena Kelekian dan Hilda Kelekian
menggelar Eksibisi Seni Suci, “Beirut, City of Coexistence: A Sacred Art Exhibition ” (2018)

Oleh : Hajriyanto Y. Thohari (Ketua PP Muhammadiyah, kini Dubes di Beirut)

Tidak berlebihan jika dua bersaudara Lena Kelekian dan Hilda Kelekian menggelar sebuah Eksibisi Seni Suci (A Sacred Art) yang diberi judul Beirut, City of Coexistence: A Sacred Art Exhibition (2018). Dalam eksibisi tersebut Kelekian bersaudara itu memamerkan ikon-ikon suci Kristen disandingkan dengan seni kaligrafi ayat-ayat suci al-Quran secara sangat indah dan padu, sebagai simbol atau pengejawantahan kehidupan umat beragama di Beirut yang sangat majemuk tetapi penuh harmoni dan toleransi. Setidaknya demikianlah yang tampak dan terasa dalam kehidupan sehari-hari di Beirut pasca Perang Saudara (civil war) hampir selama dua dasawarsa di tahun 1975-1989.

Tentu tidaklah mudah menyandingkan ekspresi kesenian dari dua agama yang berbeda secara sangat diametral dalam melihat patung atau gambar (ikon). Islam adalah agama yang sangat ikonoklastik di mana penggunaan patung atau gambar dilarang keras dalam ibadat. Sementara Kristen adalah agama yang ikonik atau ikonodulis, yakni agama yang sarat dengan penggunaan ikon atau gambar dalam ritus-ritus liturgisnya. Akan tetapi kedua artis Kelekian bersaudara, seniman kelas atas Lebanon yang sering berkunjung ke Indonesia itu, bisa memadukannya dengan sangat baik dan indah: yakni menampilkan seni Kaligrafi sebagai wakil dari kesenian Islam yang ikonoklastis, dan ikon-ikon atau gambar-gambar orang suci (santo) sebagai wakil dari kesenian Kristen yang ikonodulis.

Walhasil Eksibisi A Sacred Art tersebut berhasil menampilkan bukan hanya hakekat kemajemukan, melainkan juga multikulturalisme Beirut dengan apik. Kota Beirut memang berbeda dengan Lebanon dalam hal pluralitas dan multikulturalitas-nya. Dengan kata lain Beirut lebih menggambarkan pluralisme dan multikulturalisme daripada kota-kota lain di Lebanon. Lebanon alih-alih lebih segregasionalis, melainkan lebih pluralis dan multikulturalis. 

Beirut: Lumayan Majemuk

Benar memang Lebanon memiliki komposisi penduduk yang secara agama dan sekte majemuk. Jumlah pemeluk dan penganut masing-masing agama, atau tepatnya sekte, nyaris sama dan seimbang secara numerical. Penduduk Lebanon yang hanya berjumlah sekitar 6 juta jiwa, itupun sudah termasuk pengungsi Suriah yang berjumlah 1,1 juta dan Palestina 0,4 juta), 35% penganut Kristen (dengan segala sektenya baik Kristen Maronis, Kristen Armenia, maupun Kristen Ortodox, 28% Muslim Sunni, 27% muslim Syi’i, dan sisanya adalah Druze, Alawi, Zaidi, dan lain-lainnya. 

Dengan sedikit pengecualian di Beirut, masing-masing kota di Lebanon didominasi oleh penganut agama atau sekte tertentu yang cenderung monolitik  secara sektarian. Kota Tripoli, Saidah, Beeka, Arsal, Akkar dan Tyre, misalnya, adalah kota-kota dengan dominasi muslim Sunni. Adapun Juneh, Zahle, Byblos, Batroon, Ehden, Jgarta, dan Bechara, hanya dihuni oleh penduduk beragama Kristen sesuai dengan sektenya masing-masing. Sementara kota Baalbeck, Nabatiyeh, Marjayun, Naqoura, adalah kota-kota Syiah. Hanya Beirut yang benar-benar merupakan kota metropolitan yang majemuk dan pluralistik secara agama atau sekte. 

Dalam konteks dan perspektif di mana kota-kota lain di Lebanon yang cenderung “segregatif” tersebut, Beirut relatif dapat disebut sebagai simbol pluralisme dan multikulturalisme. Dikatakan relatif oleh karena kota Beirut sebagai kota metropolitan sebenarnya juga belum terintegrasi sepenuhnya. Tetapi secara keseluruhan Beirut lebih terbuka dan majemuk, sehingga dapat dikatakan cukup untuk menjadi simbol dari semangat keterbukaan dan kemajemukan; di mana orang dari berbagai latar belakang sekte yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai dan sangat mengesankan. Beirut adalah the city of co-existency.  

Di Beirut, terutama pada bulan Ramadhan, kota Lebanon penuh semarak dengan lampu-lampu lampion menyambut Ramadhan dan Iedul Fitri. Dalam liburan Paskah yang berhari-hari dan Natal, kota Beirut diselimuti dengan suasana Kristiani: suasana keagamaan yang kudus yang membahagiakan semua orang. Pada bulan Muharram, apalagi di hari-hari Asyura, Lebanon penuh dengan bendera-bendera hitam simbol perayaan hari besar Syi’i. Hari Asyura, adalah hari libur nasional untuk memperingati pembunuhan Imam Husein yang brutal di Padang Karbala. Tepat pada hari Asyura (10 Muharram) di mana-mana di seluruh penjuru kota, terutama di kawasan Asyrafiyeh, pawai-pawai masal berseragam hitam terus berjalan dengan teriakan-teriakan, yel-yel, dan slogan-slogan yang sangat bersemangat dan membahana. 

Bersambung ke Beirut: The City of Coexistence (2)

Sumber ilustrasi : prwebme.com

Leave a Reply