Beirut: The City of Coexistence (2)

Sosial Budaya 14 Jul 2020 0 76x

Lanjutan dari Beirut: The City of Coexistence (1)

Di Beirut suara adzan yang merdu dan lonceng gereja yang bertalu-talu, ditingkahi suara konser musik Arab yang mendayu-dayu, begitu mewarnai suasana kehidupan kota metropolitan Beirut. Masjid dan gereja berdiri berdampingan seperti tampak antara Masjid Muhammad Amin yang sangat indah nan megah dan Gereja Katedral Saint George yang arsitekturnya bernilai seni tinggi nan anggun itu. Kedua tempat ibadah yang berdampingan dan gagah berwibawa itu berada di Sahatu al-Syuhada atau Martyr Square, yang sangat strategis di downtown kota Beirut. 

Pemandangan suasana shalat tarawih di masjid-masjid di bulan Ramadhan di kawasan downtown, Beirut, berdampingan dengan gereja dan restoran, kafe, dan tempat-tempat hiburan atau malah kehidupan malam, adalah pemandangan yang biasa di malam hari. Meski di bulan Ramadhan sekalipun. Jadi bukan saja harmoni antar Islam dengan banyak alirannya dan Kristen dengan banyak sektenya pula, melainkan juga hidup berdampingan dengan sekulerisme yang begitu terus terang tanpa tedeng aling-aling. 

Apalagi pada musim panas yang dimulai pada bulan Juni, Beirut dan kota-kota besar lainnya di Lebanon mulai marak dengan konser-konser musik, festival kesenian, dan pertunjukan-pertunjukan budaya lainnya yang begitu kaya. Biasanya digelar di luar Gedung (outdoor) dan selalu sangat meriah dan berskala masif. Dengan sound system yang bagus dan lighting yang mengundang decak kagum. Masyarakat Lebanon memang terkesan masyarakat yang gila pesta, konser, dan festival. 

Kesemua agenda kesenian tersebut juga digelar di theater-theater peninggalan Romawi Timur (Roman theater), di pantai-pantai, di reruntuhan (ruin) Temple Buccus di Balbeek yang besar sekali itu, di Byblos, Tyre, dan lain-lainnya. Apalagi perayaan tahun baru di Beirut selalu digelar secara luar biasa sehingga sangat terkenal di seluruh dunia. Mungkin perayaan tahun baru di Lebanon di satu sisi sebagai paling boros di dunia, tapi di sisi lain keindahan dan kesemarakannya begitu fenomenalnya. Sampai-sampai beberapa kali Beirut mendapatkan penghargaan masuk ke dalam The Top 10 Best New Year’s Eve Celebrations dari majalah National Geographic.

Paradoks antara Kebebasan dan Sektarian

Menariknya adalah bahwa antara yang religius yang berwatak sektarian dan yang sekuler yang berkarakter liberal, kesemuanya di Beirut dapat hidup berdampingan dalam kedamaian: koeksistensi damai! Hidup berdam-pingan dalam perbedaan. Bukan hanya menerima perbedaan, tetapi dapat hidup dalam perbedaan dengan tetap merasa nyaman (relax) dan penuh kenyamanan (convenience). Saya mengamati dari kedekatan, mereka tidak risau dengan orang lain yang berbeda keimanan, bahkan yang tidak beriman sekalipun. 

Sependek dan sedangkal pengamatan ini, saya bisa melihat segi positifnya: penghargaan kepada kebebasan dan perbedaan. Saya tidak melihat adanya usaha-usaha yang tidak sehat untuk merubah keyakinan, paham, madzhab, aliran, manhaj, atau apapun namanya, dari pihak lain. Alih-alih memandang keyakinan masing-masing sebagai urusan privat; yang Sunni tidak perlu berupaya merubah yang Syii untuk menjadi ahlu sunni atas nama pelurusan, penyadaran, dakwah, atau apapun namanya. Demikian juga halnya pihak Nasrani tidak merasa perlu mengubah keyakinan pihak lainnya. Demikian juga pihak sekte-sekte yang lainnya terhadap sekte lainnya yang berbeda. Ada pluralisme internal sebagaimana juga eksternal. 

Sampai di sini memang agak aneh, anakronistik, atau malah paradoksal: di satu pihak negara menyatakan dirinya sekuler dan masyarakatnya sangat menjunjung tinggi kebebasan dan demokrasi. Tetapi di pihak lain alih-alih malah ada penegasan bahwa negara menganut sistem politik konfessional yang membagi kekuasaan politik berdasarkan pengakuan sekte. Negara mengakui eksistensi 18 sekte agama dengan segala keistimewaan sosial politiknya masing-masing. Tidak beragama diperbolehkan, tetapi seseorang tetap saja dianggap sebagai telah membawa sekte bawaan sejak lahirnya. Sungguh sebuah paradoks yang sangat menarik.

Sampai di sini sepertinya memang ada paradoks antara kebebasan dan sistem sektarianisme itu. Di satu sisi mereka sangat menjunjung tinggi, bahkan mengagungkan kebebasan (freedom). Tetapi di sisi lain mereka menyepakati sistem politik confessionalisme, yakni sistem di mana pembagian kekuasaan dilakukan berdasarkan sekte. Di satu pihak mereka sangat menjunjung tinggi pluralisme dalam semangat koeksistensi, bahkan sangat berbangga dengan slogan: “Lebanon is more than a country, it is a message of freedom and an example of pluralism for East and West”, tetapi, benar atau salah, ada kecenderungan dipertahankannya status quo kota-kota yang satu warna. 

Padahal pesan tersebut di atas dipajang di banyak prasasti raksasa dalam tiga Bahasa (Bahasa Arab: لبنان اكثر من وطن، إنه رسالة, dan bahasa Perancis: “Le Leban eat plus qu’un pays c’est un message”). Dengan untaian kata-kata indah yang telah menjadi motto atau jargon tersebut, orang Lebanon seolah-olah ingin mengatakannya ke seluruh penjuru dunia tentang pluralism dan koeksistensi damai. Tetapi, meski peta demografi agama atau sekte di kota-kota Lebanon lainnya belum paralel dengan substansi motto yang indah itu, untungnya di kota Beirut jargon itu sudah relatif menjadi kenyataan. Ya, sudahlah! Semoga saja ke depan akan terwujud lebih baik lagi.

Oleh : Hajriyanto Y. Thohari

(Ketua PP Muhammadiyah, kini Dubes di Beirut)

 

Leave a Reply