Belajar dari Semut

Hikmah 26 Mar 2021 0 162x
Belajar dari Semut

Belajar dari Semut (foto: shutterstock)

Oleh: Fuad Afsar

Salah satu dari sekian banyak makhluk hidup ciptaan Allah swt., semut adalah makhluk yang mendapat kehormatan. Semut adalah serangga kecil, panjangnya kurang dari 2 cm. Mereka hidup dalam kelompok besar yang terorganisir dengan baik, yang disebut koloni. Satu koloni terdiri atas ribuan individu, menempati sarang berupa suatu ruang dan lorong yang dibuat di bawah tanah atau di kayu lapuk yang membusuk.

Sebagian besar anggota koloni semut adalah betina. Masing-masing koloni mempunyai paling sedikit satu semut ratu yang tugasnya hanyalah bertelur. Semut pekerja juga betina, tetapi tidak bersayap dan tidak dapat bertelur. Mereka mengumpulkan makanan dan memelihara sarang, telur, dan semut muda. Beberapa semut pekerja yang disebut semut prajurit mempunyai rahang besar dan bertugas mempertahankan koloni. Pada setiap koloni terdapat semut bersayap jantan dan betina.

Pada musim semi atau musim panas, mereka terbang dari koloninya untuk mencari pasangan. Setelah kawin, semut jantan mati. Semut betina (yang sekarang akan menjadi ratu) melepaskan sayapnya dan mencari tempat untuk membuat sarang.

Semut dalam Al-Quran

Semut atau an-naml diabadikan dalam al-Quran sebagai salah satu dari 114 surat, yaitu surat ke-27. Surat ini diturunkan di Makkah dengan jumlah ayat sebanyak 93 ayat. Walau berjumlah 93 ayat, cerita tentang semut ini tercantum cuma dalam 2 ayat, yakni ayat 18-19. Allah swt. berfirman:

Artinya, “hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh’”.

Subhanallah. Nabi Sulaiman as. yang mewarisi kerajaan dari Nabi Daud as. diberi kelebihan oleh Allah swt. sehingga beliau dapat mendengar peringatan semut kepada kawannya agar segera menghindar jika tidak ingin terinjak-injak oleh pasukan berkuda yang dikomandani oleh Nabi Sulaiman as. Bayangkan jika Sulaiman as. tidak diberi kelebihan oleh Allah swt. sehingga tidak mengetahui keberadaan semut. Walaupun tidak mati, paling tidak koloni semut bakal berantakan karena diterjang pasukan Nabi Sulaiman as. yang tidak mengetahui keberadaannya.

Sebagai salah satu makhluk di antara banyak makhluk ciptaan-Nya, ada beberapa pelajaran yang dapat diperoleh dari semut, seperti:

Tidak Pernah Menyerah

Jika semut sedang berjalan dan ada yang menghalangi jalannya, semut akan mencoba berputar mencari alternatif jalan lain. semut akan mencoba semua jalan, apakah naik maupun turun. Ke kiri maupun ke kanan. Ke mana saja. Bagi semut tidak ada kata menyerah.

Boleh percaya boleh tidak. Hanibal seorang pimpinan perang bangsa Carthago yang terletak di pantai utara benua Afrika bangkit dari keputusasaannya karena terilhami oleh kegighan semut. Hanibal nyaris putus asa, melihat kenyataan bahwa ambisinya tak tercapai. Hanibal tidak saja seorang negarawan yang pandai, tetapi juga seorang pemimpin perang yang berani, gagah perkasa, ahli taktik, dan ahli strategi.

Dengan taktik dan strategi yang disusunnya secara matang, ia selalu merebut kemenangan pada setiap peperangan. Sampai-sampai pasukan Spanyol di pantai selatan Eropa dapat ditaklukkan. Tentara Romawi di bawah pimpinan Kaisar Augustus pun mengaguminya dan takut berhadapan dengan dia. Kejayaan ini melahirkan sikap ujub dan takabur pada diri Hanibal dan pasukannya.

Tapi dunia ini tidak ada yang mutlak selain Allah swt. Setiap orang yang merasa paling berani, selalu ada yang lebih berani dari dirinya. Setiap orang yang merasa paling ahli, paling pandai, pasti ada yang lebih ahli, lebih pandai dari dirinya. Di atas langit masih ada langit. Tidak seorangpun dibenarkan mengklaim dirinya ‘paling’, yang melahirkan sikap sombong dan takabur.

Pada suatu pertempuran antara pasukan Hanibal dengan Punicia, Hanibal mendapat perlawanan keras. Pasukannya sempat kocar-kacir, cerai-berai. Hanibal terpaksa mundur dan terpisah dari pasukannya. Hanibal mundur ke pegunungan. Dilihatnya Carthago yang telah dikuasai musuh. Alangkah pedih hatinya, sementara dia sendiri dalam keadaan terjepit, tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam keadaan demikian pandangannya tertuju ke seekor semut. Dia melihat seekor semut sedang mendaki batu persis di hadapannya. Ketika sampai di pertengahan batu, semut itu terguling ke bawah. Tapi kemudian ia melihat semut itu mendaki lagi. Untuk kedua kalinya semut itu mengalami nasib serupa: terguling ke bawah. Untuk ketiga kalinya, semut itu kembali mendaki, tapi kali ini dari jalan yang berbeda dan akhirnya semut itu sampai juga ke puncak. Kemudian dengan menegakkan kepada, semut itu mengangkat kaki-kaki depannya ibarat melambaikan kemenangan dan sukses yang diraihnya dari hasil perjuangannya mendaki batu.

Hanibal yang sejak semula memperhatikan semut itu mendapat inspirasi dan bahan renungan bahwa kalah dan menang adalah hal yang biasa dalam kamus pejuang. Hanibal bangkit dengan penuh semangat dan merasa mendapat suntikan tenaga baru. Kepercayaannya timbul hanya karena melihat seekor semut yang jungkir balik demi menuju puncak. Pasukannya kembali dia koordinir, dia satukan. Bersama pasukannya yang telah terkonsolidasi dengan baik, kembali digempurnya pasukan Punicia yang sempat menguasai wilayah tanah airnya. Dengan penuh semangat, pasukan Punicia berhasil diusirnya dari tanah Carthago.

Bekerja pada Musim Apapun

Hanya orang yang naif yang berpikir bahwa kondisi nyaman akan berlangsung selamanya. Di antara kepastian yang dihadapi manusia adalah adanya perubahan. Perubahan pasti terjadi, bisa dari enak menjadi tidak enak atau sebaliknya. Namun, apapun yang terjadi, jika terus membiasakan diri berkarya dengan tekun, niscaya orang tersebut bakal siap menghadapi segala bentuk perubahan. Tidak ada musim hujan terus selamanya dan tidak juga musim kemarau selamanya. Bahkan ketika kondisi sedang tidak baik, sebagai manusia berakal dia akan terus berkarya dan berkarya.

Mengumpulkan Bekal

Jika semut ditanya, “berapa banyak mau mengumpulkan makanan?,” mereka akan menjawab, “sebanyak yang bisa kami kumpulkan”. Dalam kamus semut tiada hari tanpa berkarya. Rasulullah sendiri mengingatkan, “bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya”. Jangan puas sebagai pengamat, jadilah pemain.

Sumber: Buku Kalam dan Hikmah (2015)

Tinggalkan Balasan