Belajar Mengenal Allah Melalui Ciptaannya (1)

Berita 12 Apr 2020 0 280x

Oleh: Herlina Lusi Annawaty, S.Pd (Guru TK ‘Aisyiyah Bunda Aisyah Sidoarum, Sleman Yogyakarta dan Anggota PRA Sidoarum)

Suatu hari, saat senja menjelang, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun bertanya pada ibunya, setelah ia begitu takjub melihat matahari mulai tenggelam ke laut. Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan dari bibir mungilnya. Mengapa matahari tenggelam ke laut? Apa matahari sembunyi di laut? Apa nanti lautnya jadi panas? Mataharinya bisa basah tidak?

Ekspresi Ibu, antara kagum dan bingung lantaran pertanyaan yang bertubi-tubi ditanyakan putranya perihal matahari tenggelam. Bingung darimana harus menjelaskan. Karena selama ini, si Ibu hanya tahu, jika matahari tenggelam artinya mau malam, dan jika matahari terbit, artinya mau pagi. Begitu seterusnya matahari berputar. Si Ibu menjelaskan kepada putranya apa yang selama ini ia pahami. Namun nampaknya, si anak belum puas dengan jawaban si Ibu. Muncul lagi pertanyaan baru. Mengapa matahari tenggelam terus terbit lagi? Siapa yang menggerakkan?

Si ibu kembali mencoba memberi jawaban apa yang bisa membuat anaknya paham tanpa bertanya lebih lanjut lagi. Karena si anak tak akan pernah puas jika dijelaskan, maka dia pun terus bertanya. Sampai akhirnya, ketika si Ibu menjawab, bahwa ada yang Maha menggerakkan matahari, yang membuat matahari bergerak pada posisinya, berputar mengelilingi bumi, karena kuasa Allah. Allah lah yang menggerakkan matahari. Allah itu Maha Besar, Maha Pencipta dan Maha Pengatur.

Sampai di sini si Ibu mencoba memberikan penjelasan, si anak hanya mengangguk-angguk. Entah si anak betul-betul mengerti tentang Allah dan ciptaan-Nya, atau mulai beralih perhatian dengan hal lain. Dipeluknya putranya yang begitu cerdas, yang telah memberikan begitu banyak pertanyaan yang justru menghentakkan sanubarinya akan keberadaan dan kekuasaan Allah, dan diajarkan putranya kalimat pujian kepada Allah dengan ucapan “Subhanallah, Alhamdulillah”.

Bagaimana seandainya Allah menenggelamkan matahari dan setelah itu tidak pernah lagi terbit, atau sebaliknya, bagaimana jika selama 24 jam matahari terus bersinar hingga suasana siang terus? Apa yang akan terjadi jika tiada matahari? Tanpa disadari, hanya berusaha menjawab pertanyaan tentang matahari saja, secara tidak langsung, si anak telah belajar tentang keberadaan Allah melalui ciptaan-Nya, dan itu artinya, si anak sedang belajar tentang keimanan, si Ibu pun semakin mendalam keimanannya, keyakinan akan keberadaan dan kekuasaan Allah.

Di dalam Al-Qur’an, diterangkan berbagai hal yang menunjukkan akan keberadaan Allah yang Maha Pencipta dan Maha Berkuasa. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Betapa besar rasa kasih Allah kepada manusia, walaupun di antara jutaan manusia masih belum mengimani-Nya. Diberinya rezeki yang melimpah dan kehidupan yang menyenangkan. Ditundukkannya berbagai ciptaan-Nya demi kemaslahatan manusia. Namun pada hati yang tertutup, hal-hal demikian ternyata juga belum mampu membuka mata kepala dan hati untuk mau beriman. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Surat Yunus 101, yang artinya: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat ayat-ayat dan peringatan-peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman” (QS. Yunus : 101)

Melalui Al-Qur’an surat Yunus ayat 101, Allah SWT memerintahkan manusia untuk memperhatikan apa yang ada di langit dan di bumi. Dalam tafsir Al-Misbah, dijelaskan: Allah tidak akan memaksa, engkau tidak perlu memaksa mereka agar beriman, tetapi katakanlah kepada mereka, “Perhatikanlah dengan mata kepala dan hati kamu masing-masing apa, yakni makhluk dan atau sistem kerja yang ada di langit dan di bumi.

Sungguh banyak yang dapat diperhatikan, satu diantaranya saja – bila kamu menggunakan akalmu yang dianugerahkan Allah SWT – sudah cukup untuk mengantar kamu semua beriman dan menyadari bahwa Allah Maha Kuasa, Dia Maha Esa dan Dia membimbing manusia antara lain melalui para Nabi guna mengantar mereka ke jalan bahagia. Jika mereka ingin beriman, itulah salah satu caranya – bukan dengan memaksa, karena tidaklah bermanfaat ayat-ayat, yakni bukti-bukti dan tanda kekuasaan Allah, betapapun jelas dan banyaknya dan tidak juga kehadiran para rasul menyampaikan peringatan-peringatan bagi orang-orang yang tidak mau beriman.”

Orang tua memiliki tanggung jawab dalam pendidikan iman kepada putra-putrinya. Yang dimaksud pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar Iman, rukun Islam dan dasar-dasar Syari’ah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu.

Mengenalkan Allah melalui ciptaannya merupakan bagian dari tahapan membangun rasa percaya anak tentang Allah itu ada, dan Allah Maha Pencipta, yang selanjutnya menumbuhkan keimanan kepada Allah SWT. Rasa syukur atas segala anugerah yang Allah limpahkan kepada manusia, diwujudkan melalui rukun Islam, yaitu mengucapkan syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji bagi yang mampu untuk melakukannya.

Segala yang berhubungan dengan jalan Ilahi dan ajaran-ajaran Islam, berupa akidah, akhlak, ibadah, perundang-undangan, peraturan dan hukum, merupakan dasar-dasar syariat. Kewajiban orangtua adalah menumbuhkan anak atas dasar pemahaman dan dasar-dasar pendidikan iman dan ajaran Islam sejak masa pertumbuhannya. Sehingga, anak akan terikat dengan Islam, baik akidah maupun ibadah, di samping penerapan metode maupun peraturan. Setelah petunjuk dan pendidikan ini, ia hanya akan mengenal Islam sebagai din-nya (agama), Al-Qur’an sebagai imamnya dan Rasulullah SAW sebagai pemimpin dan teladannya.

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendoman Pendidikan Anak dalam Islam, secara berurutan, memberikan penjelasan tentang tanggung jawab dan kewajiban orang tua atau pendidik dalam pendidikan iman. Selanjutnya baca di Belajar Mengenal Allah Melalui Ciptaannya (2)

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5, Mei 2017, Rubrik An-Nur

Sumber Ilustrasi : https://today.line.me/id/pc/article/Friend+zone+Ombak+dan+Matahari+Senja-m1pE7m

Leave a Reply