Belajar Mengenal Allah Melalui Ciptaannya (2)

Hikmah 12 Apr 2020 0 967x

Oleh: Herlina Lusi Annawaty, S.Pd (Guru TK ‘Aisyiyah Bunda Aisyah Sidoarum, Sleman Yogyakarta dan Anggota PRA Sidoarum)

Orang tua memiliki tanggung jawab dalam pendidikan iman kepada putra-putrinya. Yang dimaksud pendidikan iman adalah mengikat anak dengan dasar-dasar Iman, rukun Islam dan dasar-dasar Syari’ah, sejak anak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Pendoman Pendidikan Anak dalam Islam, secara berurutan, memberikan penjelasan tentang tanggung jawab dan kewajiban orang tua atau pendidik dalam pendidikan iman, yaitu:

Pertama, membina anak-anak untuk beriman kepada Allah, kekuasaan-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya Yang Maha Besar, merupakan kewajiban dan tanggung jawab orang tua dan pendidik, dengan jalan tafakkur tentang penciptaan langit dan bumi. Bimbingan ini diberikan ketika anak-anak sudah dapat mengenal dan membeda-bedakan sesuatu. Sebaiknya para orang tua dan pendidik menggunakan metode sosialisasi secara berjenjang atau bertahap.

Mulai dari hal-hal yang mudah dicerna hanya dengan menggunakan indera, meningkat kepada hal-hal yang logis. Dari hal-hal yang bersifat partial meningkat kepada hal-hal yang bersifat global, dan dari hal-hal yang bersifat sederhana meningkat kepada hal-hal yang tersusun sistematis. Hingga pada akhirnya, para orang tua dan pendidik dapat mengantarkan anak-anak kepada iman dengan cara yang logis dan argumentatif. Sosialisasi secara berjenjang atau bertahap di dalam mencapai suatu hakekat seperti ini, sebenarnya merupakan metode Al-Qur’an, seperti tertulis di dalam berbagai ayat di Al-Qur’an. Di antaranya surat An Nahl ayat 10-17, yang artinya:

Dialah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan segala macam tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah Yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai di jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” QS An Nahl (16):10-17.

Kedua, menanamkan perasaan khusyu’, takwa dan ‘ubuddiyyah kepada Allah SWT, di dalam jiwa anak-anak dengan jalan membukakan mata mereka agar dapat melihat suatu kekuasaan yang penuh mu’jizat, dan suatu kerajaan besar yang serba mengagumkan, mikro maupu makro, yang hidup dan mati, pepohonan yang hidup dan tumbuh, bunga-bungaan indah dan dan beraneka warna, dan berjuta-juta ciptaan Allah lainnya yang mengagumkan. Ketika menghadapi semua itu, hati akan merasa khusyu’ dan tergugah akan keagungan Allah. Jiwa tidak pernah jemu memandangnya, bahkan akan selalu bertakwa kepada Allah. Merasa nikmat karena taat beribadah kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Di antara metode yang dipergunakan untuk menanamkan rasa khusyu’ dan memperdalam perasaan takwa di dalam jiwa adalah melatih dan membiasakan anak agar selalu khusyu’ di dalam shalat, dan bersedih atau menangis jika mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Latihan dan pembinaan ini dilakukan sejak anak sudah dapat membeda-bedakan sesuatu. Inilah sifat-sifat yang dimiliki orang-orang yang berpengetahuan, syi’ar hamba-hamba Allah yang saleh dan ciri orang-orang beriman.

Berikut ayat-ayat Al-Qur’an yang telah memuji dan mengangkat derajat orang-orang khusyu’ dan bertakwa :

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka …” QS. Al-Hajj (22) : 34-35

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” QS Al-Mukminun(24) : 1-2

“…Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” Q.S Maryam (19):58

Ketiga, menanamkan perasaan selalu ingat kepada Allah SWT pada diri anak-anak di dalam setiap tindakan dan keadaan mereka. Hendaknya ditanamkan kepada anak-anak bahwa Allah SWT selalu memperhatikan, melihat, mengetahui rahasia dan bisikannya, serta apa pun yang dikhianati mata dan disembunyikan dada. Hendaknya anak-anak dilatih untuk selalu ikhlas kepada Allah dalam setiap perkataan,  perbuatan dan tindakannya. Setiap kali hendak melakukan sesuatu, hendaknya ia berniat melakukannya demi mencapai ridha Allah SWT. Dengan demikian akan tercipta ‘ubudiyyah yang murni kepada Allah SWT, dan ia akan termasuk dalam golongan orang-orang yang dimaksud dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” QS Al Bayinah (98): 5.

Hendaklah ditanamkan pemahaman kepada anak bawa Allah SWT tidak akan menerima perbuatan apa pun yang tidak diniati demi mencapai keridhaan-Nya. Agar anak dapat senantiasa mengingat Allah SWT dalam setiap berpikir, hendaknya anak mempelajari pemikiran-pemikiran yang dapat mendekatkan diri kepada Pencipta-Nya, dan segala pemikiran yang bermanfaat bagi diri, masyarakat maupun seluruh umat manusia. Dilatih agar akal, hati dan keinginannya selalu mengikuti apa saja yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Melatihnya untuk bersikap introspeksi diri dari hal-hal negatif dan seluruh pemikiran yang menyimpang. Hendaknya anak selalu mempelajari setiap perasaan bersih dan suci. Jangan sampai ia berbuat hasud, dengki, mengadu domba, senang dengan hal-hal kotor dan batil. Jika dibisiki setan, terdetik dalam hatinya niat untuk melakukan perbuatan negatif, hendaklah ia selalu ingat bahwa Allah SWT senantiasa bersamanya, mendengar dan melihatnya

Belajar mengenal Allah melalui ciptaan-Nya bukan sekedar tahu akan adanya Allah, dan segala yang ada di alam ini adalah ciptaan-Nya. Namun hal yang mendasar adalah menanankan aqidah keyakinan kepada Allah, mengimani-Nya, yang selanjutnya tersibghoh dalam diri dan sanubarinya, bahwa dirinya berasal dari Allah, dan akan kembali kepada Allah dengan segala amal dan perbuatannya, sehingga akan tercermin dalam dirinya, Iman, Islam, dan Ihsan.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5, Mei 2017, Rubrik An-Nur

Sumber Ilustrasi :https://parenting.dream.co.id/ibu-dan-anak/mengharukan-pesan-orangtua-muslim-as-untuk-anak-anaknya-161222q.html

Leave a Reply