Benarkah ‘Aisyah Menikah pada Usia Enam Tahun?

Keagamaan Konsultasi 12 Feb 2021 0 198x
Aisyah

Aisyah

Oleh: Siti ‘Aisyah

Nama ‘Aisyah, istri Rasulullah saw., kerap identik dengan praktik perkawinan anak sehingga sebagian umat Islam meyakini bahwa pernikahan anak diperbolehkan dalam Islam. Dalil yang dijadikan penguat adalah hadits tentang Rasulullah saw. yang menikahi ‘Aisyah ra. ketika masih berusia enam tahun.

***

Budaya nikah anak berkembang di kalangan remaja muslim yang dianggap cerminan dari ”ekspresi keberagamaan”. Ungkapan “Pernikahan Dini, Siapa Takut”, semakin populer di kalangan remaja muslim. Ungkapan lainnya yang cukup menggelitik adalah “Berhenti atau Halal”. Ungkapan dimaksud mengekspresikan paham agama yang cenderung memahami nash secara tekstual, tanpa melihat aspek-aspek lain, bahkan tanpa berusaha memahami nash tersebut secara obyektif dan komprehensif.

Hadits yang seringkali dijadikan rujukan praktik pernikahan anak adalah:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَزَوَّجَهَا وَهِيَ بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ وَبَنَى بِهَا وَهِيَ بِنْتُ تِسْعِ سِنِينَ (رواه البخاري)

Artinya, ”dari ‘Aisyah, sesungguhnya Nabi saw. menikahinya ketika berumur 6 tahun dan mulai hidup bersama ketika usianya 9 tahun  (H.R. Bukhari).

Hadits itu oleh para fuqahā` dipahami bahwa Nabi Muhammad saw. menikahi ‘Aisyah r.a., yang saat itu berusia 6 tahun dan hidup bersama satu rumah dengan Rasulullah saw. pada usia 9 tahun. Praktik pernikahan anak dalam masyarakat seringkali mengacu pada hadits tersebut. Mereka juga berpandangan, daripada anak-anaknya berzina, lebih baik dinikahkan, meski masih usia anak, belum mandiri secara ekonomi, dan masih tergantung pada orang tua.

Dalam konteks kekinian, hadits dimaksud perlu dibaca secara komprehensif dari berbagai perspektif. Tujuannya agar kita dapat memperoleh pemahaman positif sejalan dengan maqashidut-tasyri’ yang dikembangkan dalam fikih yang memaslahatkan, yang dilandasi nilai- nilai rahmah, kelembutan, kebaikan, keutamaan, kesetaraan, dan keadilan.

Kritik Sanad Hadits

Terhadap hadits ‘Aisyah yang diriwayatkan Bukhari tentang pernikahan ‘Aisyah tersebut telah dilakukan kritik hadits. Riwayat hadits tentang usia ’Aisyah r.a. ketika melakukan pernikahan hanya berasal dari Hisyam bin ’Urwah sehingga hanya Hisyam sendirilah yang menceritakan umur ‘Aisyah saat dinikahi Nabi, tidak oleh Abu Hurairah atau Anas bin Malik. Hisyam pun baru meriwayatkan hadits ini pada saat di Irak ketika usianya memasuki 71 tahun.

Ya’qub bin Syaibah mengatakan, ”apa yang dituturkan Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang diceritakannya saat ia menetap di Irak”. Syaibah menambahkan bahwa Malik bin Anas menolak  penuturan Hisyam yang dilaporkan ke penduduk Irak. Menurut para ahli, tatkala usia Hisyam sudah lanjut ingatannya sangat menurun. Dengan demikian, riwayat yang menyebutkan usia pernikahan ‘Aisyah r.a. yang bersumber dari Hisyam bin ’Urwah patut dikritik pula.

Aspek Al-Ahwâl Asy-Syakhshiyyah

’Aisyah dipersunting Nabi saw. berdasarkan perintah Allah swt. yang hadir melalui mimpi. Nabi saw. mengisahkan mimpinya kepada ’Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهَا أُرِيتُكِ فِي الْمَنَامِ مَرَّتَيْنِ أَرَى أَنَّكِ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ وَيَقُولُ هَذِهِ امْرَأَتُكَ فَاكْشِفْ عَنْهَا فَإِذَا هِيَ أَنْتِ فَأَقُولُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللهِ يُمْضِهِ(رواه البخارى)

Artinya, “‘Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya, “Diperlihatkan kepadaku tentang dirimu dalam mimpiku sebanyak 2 kali. Aku melihatmu pada sehelai sutra dan ia (malaikat) berkata kepadaku, “Inilah istrimu, maka lihatlah!”, ternyata perempuan itu adalah dirimu, lalu aku mengatakan, “Jika ini memang dari Allah maka Dia pasti akan menjadikan hal itu terjadi” (H.R. Bukhari).

Dalam kaitan ini juga perlu dicatat bahwa ‘Aisyah adalah satu-satunya istri Nabi yang dipersunting di waktu gadis dan muda. Ini penting untuk disampaikan karena apa yang dilakukan Nabi selalu disertai dengan tujuan-tujuan mulia yang menyertainya. Demikianlah, pernikahannya dengan ‘Aisyah dimaksudkan sebagai cara untuk memelihara ilmu-ilmu Islam yang berkaitan dengan al-ahwâl asy-syakhshiyyah  karena apa yang dilakukan Nabi bersama ‘Aisyah merupakan proses bagi terciptanya salah satu sumber keilmuan Islam. Hal ini terbukti dengan banyaknya hadits-hadits Nabi Saw yang diriwayatkan ’Aisyah, terutama permasalahan perempuan dan keluarga.

Aspek Tarikh Tasyri’

Dari sisi tarikh tasyri`, peristiwa pernikahan ‘Aisyah dengan Nabi Muhammad saw. terjadi pada periode Makkah. Masa tersebut merupakan masa turunnya ayat-ayat yang menuntunkan tentang akidah dan akhlak, belum memasuki masa-masa tasyri’, yaitu masa dirumuskannya hukum-hukum far’iyyah ‘amaliyyah. Dengan demikian, peristiwa tersebut tidak dapat dijadikan landasan penetapan perkawinan anak-anak.

Perspektif Historis

Dalam perspektif historis, ath-Thabari mengatakan bahwa keempat anak Abu Bakar dilahirkan istrinya pada zaman jahiliyah, artinya mereka, termasuk ’Aisyah, dilahirkan sebelum tahun 610 M. Berapa persisnya usia ’Aisyah? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhatikan usia Asma binti Abu Bakar, kakak perempuan ’Aisyah.  Menurut Abdurrahman bin Abi Zinad, usia Asma 10 tahun lebih tua dari ’Aisyah. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah. Ini berarti bahwa saat hijrah terjadi usia Asma sekitar 27 atau 28 tahun (100-73). Dengan demikian, usia ’Aisyah saat pertama kali satu rumah dengan Nabi adalah antara 17 dan 18 tahun (usia Asma 27 [atau 28] -10).

Demikianlah, pembacaan yang holistik-komprehensif perlu dilakukan agar tidak terjadi kekeliruan ketika memahami nash hadits.

Leave a Reply