Berbeda Paham dengan Keluarga, Bagaimana Solusinya?

Keluarga Sakinah 7 Agu 2021 0 62x
Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah

Oleh: Shoimah Kastolani

Bagi keluarga besar Muhammadiyah-‘Aisyiyah, apabila berbicara keluarga, tentu pemikirannya mengarah pada konsep keluarga berbingkai ”Keluarga Sakinah” yang pembinaannya meliputi aspek spiritual, kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan hubungan sosial, termasuk harmonisasi inter dan atau antar anggota keluarga. Spiritualitas merupakan pilar utama penegak keluarga sakinah yang beresensi pada kepasrahan dan ketaatan kepada  Allah dengan keyakinan bahwa setiap nafas kehidupan tidak lepas dari iradah-Nya.

Nahkoda yang akan menginternalisasikan nilai-nilai Islam pada anggota keluarga adalah pasangan suami istri atau ayah dan ibu dengan melibatkan anak-anak. Tujuannya adalah agar semua anggota keluarga memiliki keyakinan tauhid yang lurus yang diwujudkan melalui ketaatan beribadah berbalut akhlak karimah.

Nuansa spiritual sangat menentukan keberhasilan keluarga sakinah. Oleh karena itu, nuansa ini harus dibina, dipupuk, dan dirawat sebaik-baiknya, secara terus menerus dan berkesinambungan, dalam bentuk amaliyah yaumiyah atau perbuatan keseharian.

Baca Juga: Meraih Keluarga Sakinah dengan Meningkatkan Spiritualitas

Pembinaan, pemupukan, dan perawatan dapat diwujudkan dengan membiasakan keluarga untuk salat fardhu berjamaah serta melakukan amalan sunnah seperti salat rawatib, berdoa, berzikir dengan kalimat thayyibah, saling mengingatkan berdasar kasih sayang, memuliakan sesama anggota keluarga, suka membantu apabila ada kesulitan, saling memberikan perhatian, mengembangkan sikap toleran, dan menyelesaikan dengan musyawarah apabila terjadi perbedaan.

Meskipun demikian, sebagaimana kehidupan manusia pada umumnya, kehidupan berkeluarga tentu tidak dapat dilepaskan dari godaan, cobaan, dan ujian, yang datangnya dapat dari pasangan suami atau istri, anak ataupun anggota keluarga lain, misalnya dalam hal perbedaan pemahaman keyakinan dan pengamalan dalam kehidupan beragama.

Adakalanya, meskipun seluruh anggota keluarga adalah muslim, tetapi salah satu anggota keluarga memiliki pandangan pemahaman ideologi dan penerapan pengamalan keagamaan yang berbeda dengan keluarga lainnya.

Lebih jelasnya, ayah, ibu, dan anak-anak memiliki pandangan agama yang moderat, yakni memahami agama berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah secara kontekstual, menggunakan akal yang sesuai dengan ruh Islam, memperhatikan asbabun nuzul dan asbabul wurud dengan merujuk pada ahli tafsir (yang tetap kembali ke al-Quran). Sementara itu, ada salah satu anggota keluarga yang memiliki keyakinan ideologi,dan memiliki pengamalan keberagamaan berbeda karena pendekatannya kembali ke al-Quran dan hadits secara tekstual atau harfiah.

Kondisi pemahaman agama yang berbeda cara pendekatannya dapat mengurangi keharmonisan komunikasi serta hubungan emosi antara satu dengan yang lainnya. Sebagian saudara kita yang baru menemukan spiritualitasnya cenderung berhaluan agama yang berpaham kaku.

Pandangan mereka dalam melaksanakan syariat Islam hanya bersumber dari tiga generasi: Rasul, para sahabat, serta tabiin, tanpa menerima pendapat ulama atau mahzab. Mereka berupaya mengembalikan ajaran murni kembali kepada al-Quran tetapi hanya secara tekstual. Diawali dengan penampilan penuh “simbol syar’i” yang nampak di permukaan seperti jenggot, celana di atas mata kaki, cadar atau niqab. Meskipun demikian, pandangan ideologinya tidak mau menerima sesuatu yang tidak ada pada zaman Rasul, sehingga menolak konsep-konsep baru bermuamalah, termasuk dalam tatanan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Memperkuat Keluarga dengan Komunikasi Takarum (Saling Memuliakan)

Fenomena seperti yang tertulis di atas harus disikapi dengan bijaksana serta diajak berdiskusi dengan kepala dingin penuh kasih sayang, dengan berlandaskan niat untuk saling mengingatkan. Misalnya saja terkait celana di atas mata kaki, kita jelaskan hadis tentang berpakaian isbal yang disebutkan dalam Shahih Bukhari,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ»

Artinya, “Dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat”. Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku selalu memperhatikannya”. “Engkau bukan melakukannya karena sombong,” komentar Rasul saw. pada Abu Bakr

Substansi perintah Rasul dalam memakai celana di atas mata kaki di atas adalah menjaga diri agar jangan “sombong”. Kata kuncinya terletak pada komentar Rasulullah saw. yang ditujukan kepada Abu Bakar.

Keluarga juga dapat  berdiskusi tentang hadis anjuran berjenggot yang juga termaktub dalam Shahih Bukhari, berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوْ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ فَمَا فَضَلَ أَخَذَه

Artinya, Dari Ibn Umar, dari Nabi Muhammad saw., dia bersabda, “Tampillah kalian berbeda dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis”. Dan ketika Ibnu Umar melaksanakan haji atau umrah, beliau memegang jenggotnya, dan ia pun memotong bagian yang melebihi genggamannya” (Shahih al-Bukhari).

Intinya adalah dibolehkan memelihara jenggot asalkan dirapikan dan dirawat dengan baik. Anjuran berjenggot ini bukan kewajiban dan bukan sunnah, akan tetapi boleh memelihara jenggot asalkan tidak melebihi genggaman seperti yang dilakukan Ibnu Umar.

Keluarga juga dapat mengajak diskusi tentang jilbab. Allah berfirman dalam surat an-Nur ayat 31:

قلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ…

Artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya….”

إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَ kecuali yang (biasa) nampak dari padanya”. Ayat ini menurut penafsiran jumhur ulama, bahwa yang boleh nampak dari perempuan adalah kedua tangan dan wajahnya sebagaimana pendapat Ibnu Abbas ra. dan Ibnu Umar ra. (Tafsir Ibnu Katsir vol. 6: 51). Maksudnya, jilbab cukup menutup dada, tetapi tidak berlebihan panjang dan lebar. Perbuatan ghuluw atau berlebihan dalam syariat agama dilarang Rasulullah saw., sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ « الْقُطْ لِى حَصًى ». فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِى كَفِّهِ وَيَقُولُ « أَمْثَالَ هَؤُلاَءِ فَارْمُوا ». ثُمَّ قَالَ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ».

Artinya, Dari `Abdullah bin ‘Abbaas ra., dia berkata, Pada pagi hari di Jamratul ‘Aqabah, ketika itu Rasulullah saw. berada di atas kendaraan, beliau berkata kepadaku, “Ambillah beberapa buah batu untukku!” Maka aku pun mengambil tujuh buah batu untuk beliau yang akan digunakan melontar jamrah. Kemudian beliau berkata, “lemparlah dengan batu seperti ini!” kemudian beliau melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Secara garis besar, orang-orang yang ghuluw (melampaui batas) adalah orang yang melakukan inovasi bentuk ibadah  berlandaskan istihsaan semata (anggapan bahwa sesuatu itu baik menurut logikanya sendiri). Di samping itu, sikap ghuluw juga dapat terlihat dari cara seseorang mengkultuskan individu tertentu dengan diikuti taqlid buta, baik itu dari kalangan ‘ulama, kiai, dan lainnya, sehingga menyalahi syariat. Adapun orang yang ber-takalluf (memaksakan diri) dan tasyaddud (memberatkan diri) juga bagian dari sikap ghuluw.

Tentang cadar, keluarga dapat mengajak diskusi tentang hadis berikut ini:

رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Waktu Itu, Ummu Ruman menghadap Rasulullah bersama Asma’. Rasulullah saw. berpaling darinya dan berkata: “Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu, jika telah mendapatkan haidh, tidak pantas terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini”, beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya”.

Baca Juga: Cadar dan Kerudung yang Baik Perspektif Tarjih Muhammadiyah (Part 1)

Dalam hal ini, wajah dan telapak tangan bukanlah kedua hal yang wajib ditutupi kecuali ada sebab khusus, seperti sakit di kedua bagian tersebut yang mengharuskannya untuk ditutup. Adapun cadar juga digunakan oleh orang Yahudi Yaman di Yatsrib. Para perempuan Yahudi Heredi di Israel juga bercadar dan dikenal dengan sebutan “Nesot HaSalem” atau “perempuan yang memakai syal”. Kadang orang Yahudi menyebut kain cadar dengan nama “frumka”.

Seyogianya, anggota keluarga dengan perbedaan pemahaman dan pengamalan keagamaan hendaknya tetap harus diposisikan sebagai bagian dari keluarga yang harus diperhatikan dengan pendekatan nasihat lembut dan bijaksana, serta mengetengahkan diskusi secara terbuka tanpa mengurangi rasa hormat terhadap pendapatnya.

Jangan memperlakukan mereka yang berbeda dengan kasar atau menghakimi mereka sebagai pelaku penyimpangan. Apalagi diposisikan sebagai ”anak yang sulit diurus”, dengan tuduhan “penganut paham garis keras”, bahkan dicurigai sebagai bibit teroris.

Sikap tersebut justru dapat memperlebar kemungkinan mereka mendapatkan mentor yang tidak tepat. Hendaknya kita pahamkan bahwa pada intinya, orang yang menemukan spiritualitas adalah orang yang akan menyempurnakan Islamnya, memperbaiki diri, baik kepada Allah dan lingkungan, bukan memusuhi lingkungan dan menuduh “bughat” atau pembangkang kepada orang yang tidak sepaham dengannya.

Ingatkanlah mereka yang berniat memperbaiki keislamannya agar menghindari sifat takfiri atau memberikan tuduhan kafir kepada teman dan lingkungan yang tidak sepaham. Apabila mereka masih berargumen akan melaksanakan “Islam secara kaffah”, keluarga dapat menjelaskan maksud surat al-Baqarah ayat 208.

Asbabun nuzul ayat tersebut adalah mengacu pada Ikrimah yang mengatakan bahwa suatu saat, orang Yahudi bernama Abdullah bin Salam, Tsa’laba, dan Asad bin Ubaid menghadap Rasulullah. Mereka menyatakan akan beriman tetapi mohon diizinkan untuk memuliakan hari Sabat sebagai hari besar, dan membaca serta mengamalkan Taurat setiap malam. Allah kemudian menurunkan al-Baqarah ayat 208 dan 209 (yang artinya),

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu (208). Tetapi jika kamu tergelincir setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (209).

Baca Juga: Komitmen Keluarga Sakinah Aktivis ‘Aisyiyah

Kata al-silm bermakna al-inqiyad atau patuh dan tunduk, sebagaimana diungkapkan oleh Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib. Kata tersebut juga tertuang dalam QS. al-Baqarah (2): 131 :

إِذْ قالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعالَمِين

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.

Prof. Yunahar Ilyas ketika menjelaskan surat al-Baqarah ayat 208, menyebutkan bahwa dalam sudut pandang ini berarti QS. al-Baqarah ayat 208 di atas adalah auto kritik, jawaban, dan bimbingan yang Allah berikan atas reaksi yang akan dilakukan oleh para sahabat pada waktu itu.

Dalam artian, maksud ayat di atas, sebagaimana ditulis oleh al-Tanthawi dalam Tafsir al-Wasith-nya, adalah “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya iman kalian mengharuskan kalian saling berdamai dan tidak bermusuhan, saling mencintai tidak saling membenci, bersatu tidak saling bercerai-berai, sebagaimana diwajibkan kepada kalian untuk berdamai dengan orang yang tidak seagama dengan kalian ketika mereka juga berdamai dengan kalian, dan memerangi mereka ketika mereka memerangi kalian, sesungguhnya agama kalian datang bukan untuk menyebabkan peperangan dan permusuhan, melainkan agama ini (Islam) datang sebagai hidayah dan perdamaian”.

Dalam mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak, mari tetap merajut ukhuwah Islamiyah diawali dari keluarga kita dan seterusnya meluas ke masyarakat. Melalui Keluarga Sakinah, kita ciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Tinggalkan Balasan