Berbuat Baik kepada Tetangga, Jalan Menuju Surga

Berita 5 Nov 2021 0 60x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sesungguhnya, di manapun seseorang berada, ia akan senantiasa diliputi rasa cemas, khawatir, dan gelisah. Akan tetapi, Allah memberikan pengecualian, yakni orang-orang yang senantiasa menjaga hubungan baik kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Sigit Warsito dalam Pengajian yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pakem, Ahad (31/10). Acara tersebut disirkan di kanal YouTube @PCM Pakem dengan tema “Tetanggamu, Surga atau Nerakamu”.

Sigit mengatakan bahwa sikap dan perilaku seseorang kepada tetangga berpotensi menimbulkan dua hal, yakni menjadi jalan mudah ke surga atau malah menjerumuskan ke jurang api neraka. Ia menyampaikan, pada kenyataannya masih banyak umat Islam yang sampai saat ini belum bisa menjalankan kewajiban terhadap tetangga sebagimana yang diajarkan oleh Allah swt. melalui firman-Nya dan Nabi Muhammad melalui sabda dan perilakunya.

Dalam Q.S. an-Nisa’: 36, Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, baik tetangga dekat maupun tetangga jauh. Menurut Sigit, ini menandakan bahwa tetangga memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang.

Baca Juga: Praksis Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Masyarakat

Tetangga merupakan bagian dari kehidupan manusia yang dapat mempengaruhi kebahagiaan. Kebahagiaan seseorang, lanjut Sigit, dapat dipengaruhi oleh tetangganya, yakni bagaimana kondisi dan sikap kita terhadap tetangga. Dalam sebuah hadist disebut, ada tiga hal yang dapat menjadikan seseorang tenang, tenteram, dan bahagia di dalam hidup, yakni: rumah yang luas, tetangga yang salih, dan kendaraan yang tenang dan nyaman.

Lebih lanjut, Sigit menyampaikan, Nabi saw. juga mengajarkan kepada umat Islam agar berlindung dari tetangga yang buruk. Akan tetapi, pada kenyataanya, tidak semua tetangga itu salih. Dalam hal ini, umat Islam diminta untuk tetap berbuat baik.

Sigit menjelaskan, tetangga itu haknya lebih besar dibanding yang lain. Sehingga, jika kita melakukan kesalahan kepada tetangga, atau berbuat maksiat kepada tetangga, maka dosanya pun juga besar.

Menurutnya, hak tetangga harus selalu diperhatikan, dijaga, dan dirawat sebaik-baiknya. Ia menambahkan, jangan sampai seseorang menutup pintu terhadap tetangganya, yakni menjaga jarak, tidak mau bergaul dengan wajar terhadap tetangga, dan sebagainya.

“Sebagai umat Islam, kita upayakan betul jangan sampai bermasalah dengan tetangga kita. Kalau ada masalah, maka diselesaikan, mumpung kita masih hidup. Karena kalau sampai mati, urusannya akan panjang sampai di akhirat,” ucap Sigit. (silvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *