Berdaya Lewat Ekonomi Digital

Wirausaha 18 Feb 2020 0 80x

Perkembangan teknologi informasi melahirkan disrupsi (perubahan cepat) di berbagai bidang kehidupan termasuk bidang ekonomi, dari cara kerja konvensional ke cara kerja digital. Selain memudahkan transaksi jual-beli, ekonomi digital memberi akses dan peluang bagi perempuan agar lebih berdaya.

Berdaya Lewat Ekonomi Digital

Untuk memenuhi beberapa kebutuhannya, Saufi gemar berbelanja secara online. Sejak pertama kali mencoba transaksi online melalui media sosial pada tahun 2012, ia pernah membeli berbagai produk sandang hingga memesan makanan. Aktivitas yang terakhir disebut mulai marak terutama sejak hadirnya aplikasi transportasi online seperti Go-Jek dan Grab, yang menyediakan jasa kurir barang dan makanan. “Kadang juga membeli barang atau aksesoris unik yang susah dicari kalau belanja langsung,” kata Saufi.

Soal medium, Saufi lebih memilih berbelanja melalui situs jual-beli online atau marketplace dibandingkan melalui media sosial langsung. Alasan utamanya menggunakan marketplace adalah kemudahan dalam mencari barang. Pembeli hanya perlu memasukkan kata kunci pada kolom penca-
rian, maka pilihan barang dengan ane-ka harga dan tipe serta dari beragam penjual tersedia seketika.

Selain kemudahan mengakses barang yang dicari, belanja melalui marketplace juga menawarkan fitur bintang review sehingga pembeli bisa menilai kualitas penjual atau toko online. Misalnya, kata Saufi, di Shopee terdapat keterangan Star Seller bagi akun penjual yang memiliki kualitas pelayanan yang baik. “Intinya, pembandingnya banyak kalau belanja di marketplace,” ujar Saufi membagikan penglamannya berbelanja online melalui marketplace.

Meski demikian, banyaknya pembanding membuat pembeli harus pintar-pintar memilih barang. Suatu kali Saufi pernah menerima barang yang tidak sesuai dengan foto dan deskripsi yang digambarkan oleh penjual. Ia menerima pakaian yang warna dan bahannya tidak sesuai deskripsi, sehingga ia mesti melayangkan complain atau mengeluhkan kualitas barang kepada penjual.

Keterangan Star Seller yang disebut sebelumnya sangat membantu pembeli menilai barang atau toko sebelum melakukan transaksi. Sehingga setelah transaksi pembeli mendapatkan barang yang sesuai, harga yang terjangkau, dan pelayanan serta pengemasan yang bagus. “Yang terpenting, ada jaminan uang dapat kembali kalau barang tidak sesuai pesanan, karena uangnya kan masuk marketplace dulu, gak langsung ke pembeli,” kata perempuan asal Jawa Barat tersebut. Sebagaimana Saufi, tidak sedikit pembeli memilih transaksi online karena menawarkan keragaman produk, kemudahan jual beli, dan kecepatan transaksi. Kekhawatiran pembeli perihal ongkos kirim maupun kualitas penjual penyedia barang makin teratasi dengan berbagai layanan yang diinisiasi oleh marketplace seperti program subsidi ongkos kirim, gratis ongkos kirim, dan sistem rating bagi penjual online.

Bisnis Jadi Mudah

Ada pembeli, ada penjual. Pada tahun yang sama dengan Saufi pertama kali melakukan transaksi online, Meirly Natianessy mencoba peruntungannya sebagai penjual. Awalnya ia hanya coba-coba melakukan dropship pakaian. Dropship adalah cara berjualan online di mana penjual tidak menyediakan stok barang dan pengiriman sendiri. Ia hanya memasarkan barang di website atau media sosial, lalu pada saat yang sama supplier-lah yang melakukan stok barang hingga pengiriman.

Perempuan yang akrab dipanggil Nessy ini tidak lama menjalankan bisnis model dropship, karena ia memulai menjalankan bisnisnya sendiri. Ia berpikir, bisnis online tidak harus memerlukan modal untuk membuat toko atau menggaji karyawan, sehingga keputusannya membuat produksi sendiri semakin mantap. Produk yang dijual sejak mengawali bisnisnya hingga sekarang adalah aneka perlengkapan bekal, seperti tas bekal dan tali botol minum dengan brand Mcqueen Jogja.

Nessy memulai bisnis online secara otodidak. Melalui media sosial Facebook ia memasarkan di grup-grup yang berhubungan dengan produknya. Selain mengunggah konten produk di grup, ia juga mengunggahnya secara pribadi sambil menandai (tag) temannya. Meskipun, di kemudian hari cara yang terakhir ia hentikan karena menurutnya kurang etis.

Pada tahun 2015, Nessy mulai merambah marketplace. Saat itu ia pertama kali membuka toko online di Tokopedia. Guna memperluas pasar, ia juga menjual produknya di marketplace lain seperti Bukalapak dan Shopee. Baru pada akhir tahun 2018, produk perlengkapan bekalnya ia jajakan di Instagram, meskipun untuk pemesanannya tetap ia arahkan ke marketplace. “Sekarang saya lebih sering ‘main’ di tiga itu (Bukalapak, Shopee, Instagram),” kata perempuan asal Klaten tersebut.

Sambil mempromosikan produknya, Nessy mengikuti berbagai kelas bisnis di Whatsapp, baik yang gratis maupun berbayar. Ia bercerita bahwa dirinya pernah mengikuti berbagai kelas seperti kelas bisnisnya Wuri Handayani dan pertemuan-pertemuan komunitas marketplace Jogja. Dari forum tersebut ia belajar banyak hal tentang bisnis online mulai dari produksi hingga cara mempekerjakan karyawan. “Terakhir belajar soal keyword, bagaimana membuat keyword (kata kunci pencarian) yang tepat sehingga produk kita mudah ditemukan pembeli.” (ff)

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2019, Rubrik Liputan Utama, hal 13-14

Sumber Foto : https://akurat.co/id-167950-read–ekonomi-digital-dewa-penyelamat-lapangan-kerja-domestik

Leave a Reply