Berkemajuan sebagai Kunci Mempertahankan Keindonesiaan 

Liputan 17 Aug 2020 0 90x

Sumber ilustrasi : republika.co.id

Mempertahankan nilai-nilai ke-Indonesia-an di era yang global seperti saat ini merupakan suatu urgensi. Dr. H. Abdul Mu’ti, M. Ed, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebutkan bahwa ke-Indonesia-an yang semestinya dibangun adalah Indonesia yang baru, yang berkemajuan. Oleh karena itu, sudah semestinya masyarakat mampu memilah-milah nilai-nilai yang baik dari sekian banyak tradisi khas Indonesia. “Indonesia berkemajuan adalah Indonesia yang terbuka terhadap hal-hal positif dan tidak tertutup terhadap perubahan. Dalam beberapa hal, bangsa Indonesia perlu menimba ilmu, mengambil pelajaran dari bangsa lainnya untuk kemajuan,” ujarnya.

Siti Ruhaini Dzuhayatin dalam Focus Group Discussion Kajian Konsep Perempuan Islam Berkemajuan yg diselenggarakan oleh LPPA PP ‘Aisyiyah di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menyebutkan bahwa pemilihan kata “berkemajuan” oleh Kyai Ahmad Dahlan merupakan pilihan cerdas. Ia menambahkan bahwa sebetulnya konsep yang disebut modern itu adalah suatu yang bersifat progress, progres itu artinya berkemajuan. Ruhaini menambahkan, “Progress itu tidak mudah karena progress itu adalah sesuatu yang bersifat konstekstualis. Salah satu masyarakat, salah satu kolektivitas tidak kontekstual dan tidak terlibat apa yang sudah terjadi maka tidak bisa dikatakan sebagai berkemajuan.” 

Dalam acara yang sama, Hamim Ilyas menyebutkan bahwa Muhammadiyah mengusung mazhab Islam berkemajuan, di mana yang dulu bersifat moderat bergeser menjadi progresif. Menurut Hamim, secara teologis, gagasan “berkemajuan” harus diperkuat. Hamim juga menjelaskan,  Muhammadiyah yang tadi dibilang progresif punya gagasan stabilitas dan gagasan berkemajuan dan itu ada dalam Islam. Islamnya nabi itu juga punya gagasan, gagasan besarnya adalah rahmatan lil alamin, kelembutan yang mendorong untuk memberikan kebaikan yang nyata, tidak hanya kebaikan dalam omongan. 

Hamim menambahkan, gagasan tentang kemajuan sendiri telah tertuang dalam al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa wahyu “Iqra” sebagai wahyu pertama mengandung dasar-dasar nilai kemajuan. Dalam hal ini, iqra tidak bisa dimaknai sebagai arti dari kata “membaca” saja. Iqra yang berkemajuan bermakna melek huruf dan bukan hanya sekedar bisa membaca a, ba, ta saja, melainkan bermakna literasi fungsional. “Dengan literasi fungsional itu bisa mengembangkan organisasi, ilmu, keterampilan, wawasan, memperbaiki apa yang sudah ada sebelumnya. Iqra’ juga sebagai literasi kebudayaan, literasi kultural tahu mana budaya yang baik dan unggul, dan mana budaya yang maju ataupun mundur,” ujarnya.  Jika pemaknaan iqra sebagai literasi mampu diimplementasikan di masyarakat, Hamim menuturkan, akan berdampak luar biasa. Sayangnya fiqh yang berkembang adalah fiqh hukum, sedangkan fiqh sosial tidak berkembang. Selain itu, fiqh keberagamaan di Indonesia pun tak jalan. 

Untuk mempertahankan nilai-nilai ke-Indonesiaan ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Namun, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kunci mempertahan kan identitas kebangsaan adalah pendidikan, terutama pendidikan keluarga. Ia melihat hal ini sudah termaktub dalam al-Qur’an surah at-Tahrim ayat 6 yang berarti “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka.” 

Untuk mendukung mempertahankan pendidikan keluarga, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki solusi tersendiri. Abdul Mu’ti menjelaskan, ada banyak ribuan lembaga pendidikan milik persyarikatan, “Wajah Indonesia sekarang dan masa yang akan datang sebagian ditentukan oleh kiprah dan pelayanan yang diberikan oleh Muhammadiyah dan Aisyiah,” pungkasnya. Selain itu karakter berkemajuan juga dapat ditumbuhkan sejak dini melalui pendidikan keluarga maupun pendidikan di masyarakat sebagaimana telah tertera dalam konsep keluarga sakinah maupun qaryah thayyinah (d)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah

Leave a Reply