Berita

Bias Gender di Bidang Iptek Harus Dihilangkan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid menjelaskan zaman keemasan Islam bukanlah titik nol peradaban umat manusia. Ada berbagai bangsa masa lampau yang berhasil meraih peradaban gemilang.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam Pengajian Ramadhan 1443 H PP ‘Aisyiyah, Kamis (21/4). Dalam  pengajian bertema “Posisi Perempuan Berkemajuan: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemanusiaan Universal” itu, Wahid juga menjelaskan bahwa di tengah kemajuan peradaban Islam, produsen ilmu pengetahuannya bukan hanya umat Islam, tetapi juga kaum beragama lain.

Sayangnya, selang beberapa abad setelah memimpin gerakan pencerahan, peradaban Islam perlahan mengalami kemunduran dan kegelapan. Menurut Wahid, kemunduran itu tidak dapat dilepaskan dari runtuhnya pilar utama pengembangan sains, yakni buruknya komunikasi antarsains dan tidak adanya dukungan dana.

Mundurnya peradaban Islam, lanjut dia, tidak lepas dari menurunnya kuantitas buku yang membahas sains. Penurunan itu terjadi di persimpangan abad kesebelas. Hubungan antara mundurnya sebuah peradaban dan menurunnya kuantitas buku sains memang masih dapat didiskusikan; apakah mundurnya peradaban yang mempengaruhi menurunnya kuantitas buku sains, atau sebaliknya, menurunnya kuantitas buku sains yang mempengaruhi mundurnya sebuah peradaban?

Baca Juga: Di Bidang Iptek, Perempuan Harus Ditempatkan sebagai Partner in Progress

Mengutip Ziauddin Sardar, Wahid menyebut ada tiga sebab umat Islam mengalami kemunduran, yakni ketidakmampuan umat Islam mengapresiasi kekuatannya sendiri, ketidakmampuan memahami realitas kontemporer, dan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perubahan yang cepat. Umat Islam hanya beraksi terhadap perkembangan yang ada.

Selain itu, umat Islam juga dinilai belum bisa membuka diri dengan entitas yang berbeda. Padahal, menurut Wahid, “pengembangan ilmu pengetahuan harus menghilangkan sekat-sekat yang berseberangan dengan upaya pengembangan itu sendiri”.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa ada prospek positif relasi laki-laki dan perempuan di Indonsia dalam konteks pendidikan. Secara khusus, di Indonesia, jumlah perempuan yang menempuh dan menyelesaikan pendidikan di pergruang tinggi terus meningkat. Pun demikian, secara kuantitas, perbedaan jumlah dosen antara laki-laki dan perempuan hanya berbeda tipis. Jika dipersentase, ada 55% laki-laki yang menjadi dosen, dan 45% sisanya adalah perempuan.

Meski begitu, kata Wahid melanjutkan, masih ada stereotip dan bias gender yang berkembang di masyarakat, yang membuat gerak perempuan di bidang iptek belum leluasa. Stereotip itu meliputi pandangan; laki-laki lebih baik dibanding perempuan di bidang STEM (science, technology, engineering, dan math), perempuan tidak tertarik berkarir di bidang sains, perempuan sukses berperilaku maskulin, bias gender dalam lamaran pekerjaan, dan bias gender dalam promosi karir.

Untuk meminimalisir stereotip dan bias gender itu berkembang, Wahid menawarkan beberapa opsi solusi yang dapat dicoba, yakni: pertama, memastikan akses yang sama antara permepuan dan laki-laki ke sumber daya sains; kedua, membuat contoh dan penugasan yang menekankan cara sains dapat meningkatkan kualitas kehidupan; ketiga, menggunakan kelompok kerja di kelas yang lintasgender; keempat, menghilangkan bahasa dan gambar dalam buku teks yang hanya menonjolkan laki-laki; kelima, meningkatkan kedalaman dan mengurangi keluasan pelajaran/mata kuliah dasar, dan; keenam, secara terbuka mengakui adanya aspek politik dalam penelitian saintifik. (sb)

Related posts
Sejarah

Sekolah Bidan Aisjijah, Kontribusi Aisyiyah Lahirkan Tenaga Kesehatan Islam di Indonesia

Isu kesehatan sudah menjadi perhatian ‘Aisyiyah sejak awal. Pada 1930, misalnya, di tengah kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau, ‘Aisyiyah mengadakan Kongres Bayi…
Tokoh

Siti Aisyah dalam Riwayat Kepemimpinan Aisyiyah

Oleh: Muarif “…bukan Muhammadijah jang menghadjatkan kepada kita, tetapi kitalah jang menghadjatkan akan hidup suburnja Muhammadijah…” (Siti Aisyah). Pesan Siti Aisyah, salah…
Liputan

Perluas Segmen Jamaah Pengajian untuk Menebar Kebermanfaatan Aisyiyah

Chalifah, Ketua Majelis Tabligh PP ‘Aisyiyah, mengakui tidak mudah merangkul semua segmen dalam satu pengajian. Oleh karena itu, ungkapnya saat diwawancara Suara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.