Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Keluarga Sakinah 31 Jul 2021 0 83x
keuangan keluarga

keuangan keluarga

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo

Pengelolaan keuangan yang tepat merupakan salah satu komponen utama yang menyokong ketenteraman kehidupan berkeluarga. Itulah sebabnya, pengelolaan keuangan yang tepat diperlukan oleh semua keluarga.

Pada era digital sekarang ini, pengelolaan keuangan keluarga menghadapi tantangan yang tidak mudah. Pasalnya, kehidupan kita diwarnai oleh riuhnya tawaran produk-produk baru yang menggiurkan serta kemudahan dalam bertransaksi baik secara offline maupun online. Untuk menghadapi situasi tersebut, diperlukan adanya kematangan pribadi serta kemampuan pengelolaan keuangan yang mumpuni.

Secara umum, pembahasan tentang pembinaan ekonomi keluarga telah tercantum dalam buku “Tuntutan Menuju Keluarga Sakinah” (lihat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, 2016, hlm. 176-194). Namun demikian, strategi secara teknis dalam pengelolaan keuangan kiranya perlu dibahas agar dapat menjadi alternatif pertimbangan dalam proses pengelolaan keuangan tersebut.

Prinsip Pengelolaan Ekonomi Keluarga

Setiap suami, dapat dibantu oleh istri, mempunyai kewajiban berusaha untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Selanjutnya, hasil usaha itu dikelola bersama oleh suami dan istri secara baik dan tepat agar dapat mendukung kehidupan keluarga yang harmonis untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Paling tidak, ada lima prinsip dasar yang dapat digunakan  dalam pengelolaan ekonomi keluarga muslim secara tepat tersebut.

Pertama, harus berkeyakinan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Memberi Rezeki dan Menjamin bahwa semua makhluk-Nya akan memperoleh rezeki tersebut. Oleh karena itu, manusia wajib berusaha dan berdoa untuk memperoleh rezeki (QS. Hud [11]: 6 dan QS. asy-Syura [42]: 19).

Baca Juga: Literasi Digital Tingkatkan Keberdayaan Ekonomi Perempuan

Kedua, harus berusaha memperoleh pendapatan dari sumber halal dan baik yang dapat membawa keberkahan dalam kehidupan seluruh anggota keluarga. Usaha ini wajib diiringi dengan doa agar mendapat kemudahan dan ridha dari Allah Yang Maha Kaya. Selain itu, setiap muslim hendaknya selalu mensyukuri setiap hasil usaha yang diperolehnya (QS. al-Baqarah [2]: 168 dan QS. Ibrahim [14]: 7).

Ketiga, membelanjakan hasil usahanya dengan cara halal dan baik agar dapat mengarah kepada keberkahan hidup dan kemudahan dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya setiap keluarga muslim juga menghindarkan diri dari sikap boros dan kikir dalam membelanjakan harta. Selain dibelanjakan untuk kebutuhan nafkah keluarga, hasil usaha keluarga yang sudah sampai pada hitungan satu nishab juga harus disisihkan untuk membayar zakat serta infak dan shadaqah, sehingga keberkahannya bisa dirasakan oleh banyak pihak (QS. al-Baqarah [2]: 215 dan QS. al-Furqan [25]: 67).

Keempat, membuat perencanaan pembelanjaan dengan memperhitungkan antara sumber-sumber pendapatan dan rencana pengeluaran agar tidak terjadi pembengkakan pengeluaran yang menjadikan kegelisahan.

Kelima, berusaha meningkatkan pendapatan keluarga. Untuk lebih memenuhi kebutuhan keluarga, suami dan isteri perlu berusaha agar dapat memperoleh pendapatan tambahan melalui berbagai jenis usaha atau pekerjaan, baik yang dapat dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah. Suami memang merupakan penanggungjawab utama nafkah keluarga. Meskipun demikian, istri juga dibolehkan untuk ikut memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan istri bernilai shadaqah sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis berikut ini:

Artinya, “Apabila seorang perempuan menafkahkan (harta) dari rumah suaminya tanpa menimbulkan kerusakan maka ia mendapat pahala dari apa yang ia usahakan, dan bagi suaminya juga mendapat pahala dengan apa yang dia usahakan” (HR. Muslim).

Cara Pengelolaan Keuangan Keluarga

Kemampuan mengelola keuangan merupakan suatu keharusan bagi suatu keluarga untuk mencapai kondisi ekonomi yang stabil sehingga ketenteraman keluarga dapat tercapai. Pengelolaan keuangan keluarga meliputi hal-hal yang terkait dengan pemasukan dan pengeluaran untuk masa yang sedang berjalan serta perencanaan yang terkait dengan kebutuhan yang akan datang.

Kemampuan pengelolaan keuangan diperlukan baik bagi keluarga yang mempunyai kemampuan keuangan yang berlebih, cukup, maupun pas-pasan.  Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan dalam pengelolaan keuangan keluarga, tiga di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, mengenal arus kas keuangan keluarga. Beberapa hal yang perlu diketahui dalam hal ini di antaranya adalah sebagai berikut. 1). Mengetahui jumlah penghasilan yang diperolehnya termasuk penghasilan suami istri, baik penghasilan pokok maupun tambahan. 2). Selanjutnya merencanakan jumlah pengeluaran per-periode sesuai dengan periode penerimaan penghasilan, misalnya per bulan. Perencanaan pengeluaran itu meliputi kebutuhan pokok serta kebutuhan tambahan.

3). Perencanaan pengeluaran keuangan harus lebih kecil dari pada penerimaan. Oleh karena itu, pengeluaran-pengeluaran perlu dicatat agar bisa dikontrol. 4). Usahakan untuk menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk tabungan, asuransi kesehatan, dan kebutuhan-kebutuhan darurat atau mendadak. 5). Selain itu, setiap keluarga muslim hendaknya juga menyisihkan pengeluaran untuk tabungan haji serta dana zakat dan infak.

Kedua, mengadakan evaluasi terhadap perencanaan keuangan pada setiap akhir periode atau bulan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah diperlukan adanya perubahan perencanaan untuk periode atau bulan berikutnya.

Ketiga, menghindari pengeluaran-pengeluaran yang mengganggu kas keuangan keluarga. Pengeluaran keuangan yang dimaksud merupakan pengeluaran yang tidak termasuk dalam lingkup perencanaan. Hal itu biasanya disebabkan belanja yang berlebihan atau membeli sesuatu di luar kebutuhan.

Misalnya, suami atau istri tergiur oleh promo suatu barang ketika belanja di toko atau mall, melalui penawaran barang-barang di perkumpulan arisan yang pembayarannya bisa diangsur, maupun belanja via online. Padahal, barang yang bersangkutan tidak termasuk dalam daftar belanja yang diperlukan pada bulan atau periode tersebut.

Baca Juga: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan dalam Beribadah Menuju Keluarga Sakinah

Selanjutnya, sebagai pertimbangan agar terhindar dari perilaku belanja berlebihan, berikut ini disampaikan beberapa kiat agar cermat ketika berbelanja. Pertama, belanja pada waktu yang sudah direncanakan. Hindari belanja yang sifatnya mendadak, misalnya karena diajak teman untuk belanja. Berikutnya, membuat daftar tertulis tentang barang-barang yang diperlukan. Selain itu, membawa alat tukar atau uang secukupnya sesuai dengan kebutuhan dalam daftar tertulis yang telah disiapkan.

Yang tidak kalah penting, apabila kita tertarik dengan suatu barang yang berada di luar daftar belanja, perhitungkanlah jumlah kerja yang harus dilakukan untuk harga barang tersebut. Di samping itu, pembelian barang yang pembayarannya melalui angsuran hendaknya dihindari, kecuali yang sudah dimasukkan dalam daftar perencanaan keuangan.

Hal yang harus dihindari berikutnya adalah menjadikan perilaku belanja sebagai terapi. Misalnya saat sedang gelisah, aktivitas belanja dijadikan sarana untuk memberikan rasa senang ke dalam diri dalam rangka menyembuhkan kegelisahan yang melanda tersebut. Terakhir, kendalikan diri terhadap keinginan belanja online. Pasalnya, belanja online mampu menawarkan beragam barang dengan kemudahan transaksi. Oleh karena itu, disiplin diri terhadap pelaksanaan perencanaan keuangan menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Pengelolaan keuangan keluarga memang hal yang cukup rumit untuk diterapkan. Namun demikian, demi kenyamanan secara psikologis bagi pasangan suami-isteri, uraian di atas diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan. Semoga dengan adanya pengelolaan keuangan yang tertata dapat menguatkan ikatan suatu keluarga untuk mencapai kondisi sakinah mawaddah wa rahmah, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *