Tokoh

Buya Hamka, Mufasir Muhammadiyah yang Jadi Pahlawan Nasional

Buya Hamka

Buya Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Nomor 113 Tahun 2011. Ulama yang lahir di Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 itu punya banyak jasa bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Jejak Hidup

Hamka merupakan akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah, putra dari pasangan suami-istri Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Shafiyah. Ayahnya adalah seorang pembaharu Islam di bumi Minangkabau. Haji Rasul banyak dipengaruhi oleh ide-ide reformis Mesir, seperti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Tahun 1924, di usianya yang ke-16, Hamka melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Di Kota Pendidikan ini Hamka berguru pemikiran Islam dan sosialisme dari H.O.S. Cokroaminoto, sosiologi dari R.M. Suryopranoto, dan tafsir Al-Quran dari Ki Bagus Hadikusumo. Selama di Yogyakarta, dia juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond, sebuah organisasi perhimpunan bagi pemuda/pelajar Islam di Hindia Belanda.

Perjumpaan Hamka dengan berbagai pemikiran dan pergerakan Islam di Yogyakarta menyadarkannya bahwa Islam mampu memberi jawaban atas pelbagai persoalan sosial dan kebudayaan. Hamka melihat ada warna corak pemahaman dan praktik keislaman yang berbeda antara Minangkabau dan Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia melihat Islam sebagai agama yang hidup dan dinamis.

Selama beberapa tahun, Hamka mempelajari Islam secara lebih intens di Makkah. Sekembalinya dari Mekah, ia memulai karir sebagai seorang jurnalis. Di dunia jurnalistik, suami Siti Raham ini pernah berkecimpung dan menjadi pimpinan majalah Pedoman Masyarakat dan Panji Masyarakat. Selain menekuni dunia jurnalistik, sudah bukan rahasia umum bahwa Hamka mempunyai kecintaan mendalam terhadap ilmu agama, sejarah, dan sastra.

Mubalig dan Mufasir

Tidak hanya aktif sebagai jurnalis, Hamka juga menjadi mubalig Muhammadiyah yang berpengaruh. Tahun 1945, sesudah bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdakaan, Hamka pindah ke Jakarta. Di sana ia menjadi imam tetap di Masjid Al-Azhar. Nama masjid ini kelak menjadi nama dari magnum opus-nya, yaitu Tafsir Al-Azhar.

Dalam amatan Howard Federspiel, Tafsir Al-Azhar punya pengaruh besar di dunia Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Tafsir karya Hamka kental akan ide-ide reformis. Pengalamannya melihat corak pemahaman dan praktik keislaman di Yogyakarta juga memengaruhi bagaimana ia menafsirkan ayat al-Quran yang turun kepada masyarakat Arab abad ketujuh ke dalam konteks masyarakat Indonesia saat itu.

Baca Juga: Cara Hamka Mereformasi Agama

Oleh Wan Sabri Wan Yusof, Tafsir Al-Azhar disebut sebagai cerminan atas perkembangan sosial-politik di Indonesia. Di dalam tafsirnya, Hamka pernah mengapresiasi langkah Kiai Ahmad Dahlan yang mendorong kaum perempuan menuju kemajuan. Ia juga pernah mengutip berita yang disiarkan surat kabar Keng Po ketika menjelaskan “keganjilan” kehamilan Maryam.

“Pada Surat Kabar Mingguan Keng Po yang terbit 25 Maret 1956 dan 1 April 1956 ada disiarkan berita yang ganjil. Yaitu seorang bayi yang baru berumur 3 (tiga) bulan mengandung anak yang sudah berkaki bertangan. Bayi umur 3 bulan itu ialah anak seorang Sopir truck bernama Sanusi, tinggal di Kaum Kidul Cianjur. Bayi itu telah dioperasi di Rumah Sakit Ludwina, di Punut, Sukabumi oleh Dr. H.G.R. Held” (Jilid 2, 775).

Panas Dingin Hubungan Hamka dan Soekarno

Agaknya, tidak cukup menyebut Hamka sekadar sebagai seorang jurnalis, mubalig, dan mufasir, sebab ia juga seorang politikus. Hamka pernah terlibat di Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika Masyumi melancarkan kritik terhadap sistem demokrasi terpimpin ala Soekarno, Hamka kena getahnya. Hubungannya dengan Presiden Republik Indonesia pertama itu menjadi retak.

Hamka bahkan dituduh akan membunuh Soekarno; tuduhan yang bagi Hamka sangat kelewat batas. Atas tuduhan itu, Hamka mendekam di penjara selama 2 tahun 4 bulan (tanpa pengadilan yang adil). Selama masa tahanan ini, Hamka berhasil menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar.

Meski pernah bersitegang dengan Soekarno, Hamka tidak pernah menaruh dendam. Buktinya, ketika Soekarno pada 21 Juni 1970, Hamka tidak ragu sedikitpun untuk memenuhi permintaan Soekarno agar ia menjadi imam salat jenazah. Ia ulama berhati besar.

Dalam tetralogi mutiara falsafah Hamka pernah mengatakan, salah satu cara agar ia bisa melepaskan diri dari bujuk rayu setan adalah dengan membaca kembali karya-karya yang sudah ia tulis. Karyanya telah memberi pencerahan hidup bagi banyak orang, tidak terkecuali bagi dirinya sendiri. (bariqi)

Related posts
Tokoh

Fatmawati: Pahlawan Nasional Juga Pejuang Aisyiyah

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari perjuangan rakyat dan juga para pahlawan, salah satunya yaitu Fatmawati. Fatmawati adalah Pahlawan Nasional yang dikenal jasanya…
Tokoh

Djuanda, Tokoh Muhammadiyah yang Nyaris Terlupakan

Oleh: Abd Rohim Ghazali* Sebagai organisasi (persyarikatan) yang lahir 1912, jauh sebelum Indonesia merdeka, Muhammadiyah punya andil besar dalam merintis, memperjuangkan, dan…
Aksara

Cara Hamka Mereformasi Agama

Oleh: Muhammad Ridha Basri Judul                : Hamka dan Islam, Reformasi Kosmopolitan di Dunia Melayu Penulis             : Khairudin Aljuneid Penerjemah    : Aditya Pratama…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *