Cara Mengajak Anak untuk Menabung Sejak Usia Dini

Gaya Hidup Literasi Keuangan 11 Nov 2021 0 69x
menabung

ilustrasi: freepik.com

Bagi sebagian orang, menyisihkan uang untuk ditabung masih sulit untuk dilakukan. Alasannya, uang habis untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan hidup. Agar anak memiliki feel buat menabung nanti, ajarkan dari sejak usia dini. Anda dapat memulainya dengan cara konvensional atau bisa dengan menabung ke dalam celengan.

Beverly dan Clancy dalam “Financial Education in a Children and Youth Savings Account Policy Demonstration” menjelaskan bahwa anak harus diajarkan sejak dini mengenai pendidikan keuangan agar anak menjadi sosok yang bisa mengelola keuangan dengan baik, tidak boros, dan suka menabung.

Anak yang sedari awal sudah dibiasakan untuk konsumtif oleh orang tuanya ke depannya bakal sulit dihentikan. Sebaliknya, anak yang oleh orang tuanya diajarkan untuk berhemat dan belajar menabung pola hidupnya akan tidak konsumtif dan cenderung dapat mengelola keuangannya dengan baik.

Orang tua diharapkan untuk mampu memahami bagaimana pendidikan keuangan yang baik agar keuangan keluarga dapat terkelola dengan baik. Orang tua yang paham akan hal tersebut cenderung lebih mudah untuk mengajarkan kepada anaknya dalam pengelolaan dibandingkan dengan yang tidak mengerti. Sebagaimana dijelaskan oleh Olive, O’Rourke, dan Collins dalam “Money Smart in Head Start: Financial Education and Outreach with Head Start Families”.

Lalu, metode apa yang dapat dipakai oleh bapak ibu sekalian untuk mengajarkan anak menabung sejak usia dini? Berikut beberapa metode yang tepat untuk mengajarkan anak menabung, sebagaimana dirangkum dari “Financial Parenting: Menjadikan Anak Cerdas dan Cermat Mengelola Uang” oleh Seto dan Rizki.

Pertama, bisa dengan memberikan anak celengan dengan bentuk yang disukai oleh anak. Bisa berbentuk mainan yang digemarinya seperti mobil, hewan lucu, kotak yang ditempeli stiker-stiker lucu atau karakter kesayangannya. Kasih reward untuk meningkatkan semangat menabung pada anak, bentuk reward bisa berupa tambahan uang saku saat anak ingin membeli barang yang ingin dibelinya.

Baca Juga: Pemahaman Literasi Keuangan dalam Keluarga

Setiap kali memberi uang saku kepada anak ajarkan kepada anak untuk menabung dengan mencontohkan terlebih dahulu memasukan uang kedalam celengan.  Orang tua harus menjadi figur yang baik untuk anaknya dalam hal menabung baik itu dalam celengan ataupun sekedar menemani saat sedang menabung di bank. Harapannya, dengan begitu anak akan mengerti menabung itu penting dalam kehidupan dan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Uang yang ditabung tidak harus yang berasal dari pemberian orang tuanya. Bisa dari pemasukan lain, seperti pemberian dari kakek nenek, paman, atau bibi.

Kedua, dengan menceritakan kisah pengalaman hidup orang-orang sukses dengan rajin menabung. Orang tua dapat mengambil cerita dari buku inspiratif, internet, televisi. Dengan begitu anak akan termotivasi dan paham mengenai manfaat menabung.

Ketiga, menjelaskan apa tujuan menabung itu. Para orang tua harus memberikan edukasi kepada anak mengenai untuk apa ia harus menabung. Dengan adanya goals yang jelas, anak akan semangat menabung untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Menabung tanpa adanya tujuan yang jelas, akan dianggap itu merupakan hal yang tidak penting dan anak malas melakukannya, terutama untuk anak usia dini.  Untuk itu, orang tua harus dapat mengedukasi anak akan tujuan menabung supaya anak mau untuk menyisihkan uang jajannya untuk ditabung.

Selain mengajarkan anak menabung di rumah, para orang tua juga dapat mengajarkan menabung di sekolah. Pasalnya, sudah banyak sekolah-sekolah yang memfasilitasi agar siswa-siswinya bisa menabung di sekolah.

Nah, itu tadi beberapa metode yang dapat bapak ibu sekalian pakai untuk mengajarkan anak menabung. Mengajarkan financial parenting memang seharusnya diajarkan kepada anak se dini mungkin. Orang tua yang membiasakan anaknya mengelola keuangan pribadinya akan berdampak positif ketika dewasa nanti. Anak dengan pendidikan keuangan yang mumpuni akan sangat kecil resikonya mengalami masalah keuangan di waktu dewasa nanti. (miqdad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *