Cara Mudah Menulis Puisi Anak, Berikut Triknya

Berita 11 Okt 2021 0 140x

Gresik, Suara ‘Aisyiyah – Dalam acara pertemuan rutin Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA), Dewi Musdalifah memberi materi pelatihan dengan tema “Cara Mudah Menulis Puisi Bagi Anak”. Acara yang dihadiri langsung oleh Kepala Sekolah TK Aisyiyah Kabupaten Gresik ini diadakan secara terbatas pada Sabtu (9/10).

Acara dilaksanakan di halaman parkir lantai 1 Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik. Pelatihan membuat puisi ini menarik perhatian para kepala TK ‘Aisyiyah. Pasalnya, mereka sering mengikuti lomba cipta puisi. “Apalagi dunia anak sering bersentuhan dengan dunia menyanyi, menari, dan membaca puisi,” demikian ucap Dewi.

Menurutnya, puisi berkaitan dengan pemilihan diksi atau kata. Ini sama dengan komunikasi kepada anak di dunia pendidikan yang harus dipilih dalam menyampaikan pengetahuan dan nilai-nilai.

Karenanya, pengetahuan bahasa sangat penting dimiliki oleh seorang pendidik. Kosa kata yang diucapkan oleh pendidik kepada anak usia dini akan menjadi perbendaharaan bahasa dalam diri anak.

Selanjutnya, menulis puisi dibutuhkan kreativitas dalam berbahasa. Diksi atau kata yang dipilih mampu mengembangkan daya imajinasi anak dan ketertatikan kepada bahasa. Setiap orang, kata Dewi, memiliki daya ungkapan masing-masing, sehingga antara individu yang satu dengan yang lain tentu berbeda dalam menyampaikan pesan yang ditulis. Tergantung pengalaman dan perasaan yang ada di dalam dirinya.

Baca Juga: TK ABA: Lembaga Pendidikan Anak Tertua dan Pertama di Indonesia

Salah satu contoh pentingnya menggunakan bahasa yang menggugah seperti contoh kisah berikut: ada seorang pengemis buta di sebuah taman yang indah. Pengemis itu meletakkan sebuah kardus di depannya bertuliskan “Saya buta, tolonglah saya”. Dia berharap setiap orang yang lewat akan memberi uang ke dalamnya. Setelah duduk seharian di taman, tidak banyak orang lewat yang memberi uang, hanya beberapa uang receh.

Suatu hari, datang seorang pejalan kaki, yang mengubah tulisan di selembar kardus di depan pengemis itu. Dia menulis, “pagi ini cerah. Bunga bermekaran terlihat berwarna-warni. Sungguh indah hari ini, tapi sayang saya tidak bisa melihat, karena buta”.

“Lalu apa yang terjadi?” tanya guru passion public speaking di SMA Muhammadiyah 1 Gresik  itu.

Kemudian dia menjawab, “diksi itu menarik empati dari banyak orang yang lewat. Pengemis itu banyak mendapatkan uang. Karena orang lain bisa melihat taman yang indah dan berwarna-warni, sedang si pengemis buta tidak,” ujarnya.

Dalam materi hari itu, dijelaskan juga dalam menulis puisi. Dalam menulis puisi, jelasnya, sebaiknya tidak digunakan kata yang aus, atau kata yang sudah sering digunakan orang.

“Menulis puisi yang baik adalah menuliskan apa yang menjadi pengalaman pribadi kepada ibu. Dan dirasakan saat itu. Hal-hal pribadi yang ingin disampaikan. Pilihlah diksi yang tepat sebagai gambaran perasaan,” ujarnya.

Guna menulis puisi yang indah, ujar Dewi, penulis perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama, berimajinasi. Gunakan personifikasi atau pengandaian hewan dan benda sebagai laku manusia. Tulislah hewan, tanaman, atau benda-benda berperilaku seperti manusia. Contoh: ombak yang galak, jatuh dilempar pohon. Ombak yang galak sama dengan diterjang ombak. Namun kalimat diterjang ombak adalah kalimat usang. Kesannya akan berbeda jika pilihan diksinya ombak yang galak.

Kedua, memperhatikan rima. Untuk puisi anak, rima perlu diperhatikan. Rima merupakan bunyi yang sama pada akhir larik puisi setiap empat barisnya. Bunyi yang sama setiap empat baris akan menimbulkan bunyi yang jika dibaca enak didengar.

Ketiga, punya pesan moral. Pesan moral dan amanat puisi juga perlu diperhatikan. Amanat puisi merupakan maksud atau pesan yang terkandung dalam puisi yang disampaikan kepada anak-anak. Seperti menjaga, memelihara, atau melestarikan.

Diksi baru juga diperlukan dalam menyusun sebuah puisi. Kata yang tidak dipahami anak, akan menimbulkan pertanyaan. Maka, menurut Dewi, pada saat itulah tugas guru atau orang tua menjelaskan dan menyampaikan amanat yang terkandung dalam puisi. Selain itu, menulis puisi anak juga harus memiliki suasana kegembiraan dan bermain.

Terakhir, karya puisi akan lebih bermakna ketika dipublikasikan dan dicetak sebagai hasil sebuah karya. Rasa bangga akan muncul manakala puisi itu dibukukan atau dicetak dalam bentuk buku. “Sehingga menjadi sebuah kenangan yang bisa dibaca oleh siapapun, terutama anak cucu kita,” ungkap Dewi. (Estu Rahayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *